Tradisi Pertanian Pedesaan sebagai Asal-usul Karakter

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 22/10/2026

 

Karakter seseorang tidak lahir di ruang hampa. Ia dibentuk oleh keluarga, lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan cara masyarakat mengelola sumber penghidupannya.

Dalam masyarakat agraris Jawa pada awal abad ke-20, pertanian bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan juga ruang pendidikan karakter melalui kerja, pergantian musim, pengelolaan air, dan hubungan antarmanusia. Pengalaman masa kecil Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia, memberikan contoh menarik untuk memahami proses tersebut.

Soeharto lahir di Kemusuk, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921. Ayahnya, Kertosudiro, bekerja sebagai petani sekaligus petugas pengatur pengairan desa (ulu-ulu).

Lingkungan ini mempertemukan Soeharto sejak dini dengan kehidupan sawah yang bergantung pada air, tenaga kerja, dan keteraturan. Kenangannya tentang menemani kerabat ke sawah, bermain lumpur, serta membantu mengendalikan kerbau memperlihatkan kedekatannya dengan aktivitas pertanian.

Kehidupan agraris mengajarkan bahwa hasil tidak diperoleh secara instan. Petani harus menyiapkan tanah, menunggu musim, menjaga pengairan, dan menghadapi risiko gagal panen.

Secara interpretatif, pengalaman semacam ini dapat menumbuhkan kesabaran, ketekunan, kemampuan membaca keadaan, dan orientasi pada hasil. Namun, nilai-nilai tersebut bukan sifat otomatis setiap anak desa; pembentukannya bergantung pada pengalaman dan lingkungan sosial masing-masing.

Kerangka teoritik Clifford Geertz dalam Agricultural Involution membantu menjelaskan konteks tersebut. Geertz menunjukkan bagaimana pertanian sawah Jawa terhubung dengan kepadatan penduduk, pembagian kerja, dan pola hubungan sosial yang kompleks.

Dengan demikian, kehidupan agraris bukan hanya membentuk kebiasaan bekerja, tetapi juga memperkenalkan individu pada ketergantungan antarmanusia dan pentingnya koordinasi. Pengalaman keluarga Soeharto dalam pengaturan irigasi menjadi contoh konkret hubungan antara pertanian dan tata kelola masyarakat.

Meski demikian, hubungan antara lingkungan dan karakter tidak boleh disederhanakan menjadi sebab-akibat tunggal. Sejarawan David Jenkins, dalam biografinya tentang Soeharto, menyoroti pengaruh kehidupan pedesaan sekaligus pengalaman kekurangan material dan ketidakstabilan pengasuhan pada masa kecilnya.

Artinya, karakter terbentuk melalui pertemuan antara lingkungan agraris, kondisi keluarga, pendidikan, dan pengalaman personal. Lingkungan agraris menjadi salah satu faktor penting, namun bukan satu-satunya sebagai pembentuk karakter Soeharto.

Membaca masa kecil Soeharto melalui tradisi pertanian bukan berarti menganggap seluruh kebijakan atau watak politiknya sebagai produk sawah. Pendekatan ini justru menegaskan bahwa kepemimpinan memiliki akar sosial dan historis.

Sawah dapat menjadi sekolah kehidupan: tempat seseorang mengenal kerja, keteraturan, ketergantungan, dan ketidakpastian. Akan tetapi, bagaimana pelajaran itu diterjemahkan menjadi tindakan ketika dewasa tetap ditentukan oleh pilihan, kesempatan, dan struktur kekuasaan yang dihadapinya.

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...