Masa Kecil Soeharto: Dari Desa Menuju Panggung Sejarah
Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 17/10/2026
Pada 8 Juni 1921, di Kemusuk, wilayah Yogyakarta, lahir seorang anak dari keluarga pedesaan yang kelak menjadi Presiden kedua Republik Indonesia. Soeharto tidak lahir dari keluarga elite politik, bangsawan keraton, atau lingkungan istana. Ayahnya, Kertosudiro, bekerja sebagai petani sekaligus petugas pengatur irigasi desa (ulu-ulu), sedangkan ibunya bernama Sukirah.
Kemusuk, tempat kelahirannya, kini termasuk Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari desa inilah perjalanan hidup seorang anak biasa kelak bersinggungan dengan sejarah kekuasaan Indonesia.
Masa kecilnya tidak sepenuhnya menetap. Ketika Soeharto belum genap berusia enam minggu, kedua orang tuanya berpisah. Ia kemudian diasuh oleh anggota keluarga yang berbeda, termasuk kakeknya, Atmosudiro.
Perubahan pengasuhan itu menjadi bagian penting dari riwayat awal hidupnya. Namun, fakta tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa pengalaman masa kecil menentukan karakter atau pilihan politiknya ketika dewasa. Pada saat dewasa tumbuh menjadi pemimpin yang disegani.
Perpindahan tempat tinggal juga mewarnai pendidikannya. Sekitar usia delapan tahun, Soeharto bersekolah di Sekolah Desa Puluhan, kawasan Godean. Ia kemudian berpindah ke Sekolah Desa Pedes setelah ibunya dan ayah tirinya, Pramono, pindah ke Kemusuk Kidul.
Puluhan, Pedes, dan Kemusuk Kidul kini dikenal sebagai nama padukuhan di wilayah Argomulyo, Sedayu, Bantul. Perpindahan tersebut menggambarkan masa kanak-kanak yang berjalan di antara rumah, kerabat, dan sekolah, bukan kehidupan yang berpusat pada satu lingkungan keluarga saja.
Berikutnya, Soeharto dikirim ke Wuryantoro, wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di sana, ia tinggal bersama bibinya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.
Perpindahan dari kawasan Yogyakarta ke Wuryantoro memperlihatkan perubahan lingkungan hidup yang lebih jauh. Riwayat ini juga menunjukkan peran keluarga besar dalam pengasuhan dan pendidikan anak di tengah kehidupan masyarakat pedesaan.
Latar belakang tersebut kontras dengan posisi yang kelak dicapainya. Soeharto memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade, dari 1967 hingga 1998, menjadikannya presiden dengan masa kekuasaan terlama dalam sejarah Indonesia modern.
Perjalanan dari desa menuju pusat kekuasaan memang mengundang pertanyaan tentang hubungan asal-usul dan sejarah, tetapi bukan alasan untuk menganggap masa kecilnya sebagai ramalan atas masa depannya.
Biografi yang cermat perlu memisahkan fakta dari tafsir. Soeharto tumbuh dalam lingkungan pedesaan, mengalami perubahan pengasuhan, dan berpindah sekolah serta tempat tinggal.
Semua itu membantu kita memahami konteks awal kehidupannya, bukan menjelaskan seluruh perjalanan politiknya. Anak Kemusuk tersebut akhirnya menempati panggung nasional—sebuah kontras sejarah yang menarik justru karena tidak dapat diterangkan oleh asal-usul semata.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.