Moseum Kebangkitan Nasional Jadi Saksi Lahirnya Organisasi Pergerakan Bangsa

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA, Cendana News – 48 tahun silam, tepatnya 20 Mei 1974 pada puncak peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Presiden kedua RI HM Soeharto, meresmikan sebuah gedung tua di JI Dr. Abdul Rahmen Saleh Nomor 23, Jakarta Pusat sebagai Gedung Kebangkitan Nasional.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 7 Februari 1984, gedung tua peninggalan Belanda itu kemudian ditetapkan sebagai Moseum Kebangkitan Nasional, sebagaimana masih berlangsung sampai dengan detik ini.

Penetapan gedung tersebut sebagai Moseum Kebangkitan Nasional oleh Presiden Soeharto, memang bukan tanpa alasan. Pasalnya di gedung dengan gaya arsitektur khas kolonial inilah, sejarah dan memori para tokoh awal pendiri bangsa pernah terpatri kuat.

Sebelum menjadi Museum Kebangkitan Nasional, gedung ini merupakan gedung sekolah kedokteran yang didirikan oleh Belanda dengan nama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau STOVIA.

Bagi para pembaca novel tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, nama Sekolah STOVIA tentu sudah tak asing di telinga.

Sekolah kedokteran bagi kaum Bumiputera atau biasa disebut Sekolah Dokter Djawa ini merupakan tempat belajar sosok ‘Minke’ tokoh utama novel ‘Bumi Manusia’ yang sangat terkenal.

Minke sendiri merupakan tokoh imajinatif yang dikembangkan Pramoedya dari sosok nyata bernama Tirto Adhie Soerjo, yang dikenal sebagai Bapak Pers Nasional sekaligus tokoh Kebangkitan Nasional.

Baca juga : museum bikon blewut simpan jejak kebudayaan flores purbakala

Terlepas dari kisah novel tetralogi Buru karya Pramoedya, STOVIA faktanya memiliki sejarah sangat penting dalam mendorong lahirnya pergerakan pada pemuda-pemudi pribumi di Indonesia saat itu.

Di STOVIA yang berdiri pada tahun 1899 ini lah, sejumlah tokoh nasional yang sangat berpengaruh dalam perjalanan bangsa Indonesia pernah mengenyam pendidikannya.

Selain Tirto Adhie Soerjo, sejumlah tokoh lain itu diantaranya adalah dr Soetomo, dan dr Wahidin Sudirohusodo yang merupakan pendiri organisasi Boedi Oetomo.

Hingga dr Tjipto Mangunkusumo serta Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara, yang merupakan pendiri Indische Partij.

Selain menjadi tempat lahirnya kesadaran nasional di kalangan para tokoh awal pergerakan bangsa, STOVIA juga memiliki sejarah penting karena menjadi saksi lahirnya organisasi-organisasi pergerakan bangsa, seperti Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo atau Jong Java, Jong Minahasa, hingga Jong Ambon.

Sempat digunakan sebagai tempat tahanan di masa kependudukan Jepang, hingga menjadi tempat hunian keluarga tentara Belanda maupun orang Ambon di era 1945-1972, pada 1973 gedung ini untuk kali pertama akhirnya dipugar oleh pemerintah Provinsi Jakarta.

Sebelum ditetapkan sebagai Moseum Kebangkitan Nasional tahun 1984, kompleks gedung ini juga pernah dijadikan empat moseum. Yakni Moseum Budi Utomo, Moseum Wanita, Moseum Pers dan Museum Kesehatan.

Masuk ke dalam Moseum Kebangkitan Nasional saat ini, kita dapat melihat sebanyak 2.042 buah koleksi. Baik berupa bangunan, mebel, jam dinding, gantugan, lonceng, perlengkapan kesehatan, pakaian, senjata, foto, lukisan, patung, diorama, peta, maket, sketsa, hingga miniatur.

Dibagi menjadi dua bagian, Moseum Kebangkitan Nasional di sisi kanan memiliki sejumlah ruangan. Seperti Ruang Pengenalan, Ruang Sebelum Pergerakan, Ruang Awal Kesadaran Nasional, dan Ruang Pergerakan Nasional.

Sedangkan di sebelah kiri ada Ruang Informasi, Ruang Dosen STOVIA, Ruang Pendidikan/kelas STOVIA, Ruang Memorial Boedi Oetomo, Ruang Asrama STOVIA, dan Perpustakaan Museum.

Di dalam Museum Kebangkitan Nasional ini juga terdapat ruang RA Kartini. Dimana disitu ada patung RA Kartini yang sedang mengajar murid-muridnya, sebagai simbol pentingnya pendidikan dan keberadaan kaum terpelajar, bagi sebuah bangsa.

Baca juga : Museum tekstil wujud pelestarian batik dari ibu Tien Soeharto untuk Indonesia

Lihat juga...