Mengapa Soekarno tak menjatuhkan sanksi ke Soeharto?

Admin

JAKARTA, Cendana News – Dalam situasi yang penuh ketidakpastian pasca G30S PKI 1965, ada dua kali ketidaksesuaian tindakan antara Presiden Soekarno dengan Mayjen Soeharto.

Pertama, Mayjen Soeharto telah menngambil alih Pimpinan TNI AD dan mengumumkannya melalui RRI pada malam hari.

Namun, kemudian pada siang harinya Presiden Soekarno mengumumkan pimpinan Angkatan Darat langsung di tangan Presiden.

Kedua, Mayjen Soeharto melarang dua jenderal TNI AD untuk datang ke PAU Halim Perdana Kusuma memenuhi panggilan Presiden Soekarno.

Dua Jenderal TNI AD itu adalah Mayjen Mayjen Pranoto dan Mayjen Umar Wirahadikusuma.

Noor Johan Nuh, penulis buku tentang Soeharto mengatakan dua perbedaan sikap itu sebenarnya bisa saja membuat Presiden Soekarno menganggap Mayjen Soeharto insubordinansi.

Karena itu pula Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Pemimpin Besar Revolusi, bisa juga menghukum Soeharto. Bahkan, juga bisa memecat Soeharto.

Menurut Johan, Soekarno tidak memberi sanksi apapun kepada Soeharto karena berbagai pertimbangan.

Pertama, Soekarno sudah sangat mengenal Soeharto sejak zaman perang kemerdekaan RI 1945.

Kedua, dalam keadaan negara sedang kritis Presiden Soekarno memang membutuhkan seorang jenderal yang loyal. Dan, didukung oleh jenderal-jenderal lainnya di TNI AD.

Ketiga, sangat mungkin surat Soeharto yang dikirimkan kepada Soekarno pada tanggal 2 Oktober 1965 pagi juga menjadi pertimbangan.

Johan mengatakan, Soeharto menulis tangan suratnya itu dengan kalimat santun. Sarat dengan ungkapan Jawa yang menunjukkan rasa hormat dan takzimnya Soeharto kepada Soekarno.

Surat tersebut berisi laporan tentang apa yang sudah dilakukan Soeharto untuk mengatasi keadaan pasca G30S PKI 1965. Surat itu ditulis tangan oleh Soeharto, yang isinya seperti berikut ini:

Bapak Presiden,

Berkah Bapak, situasi dapat kami kuasai. Usaha kami dengan rekan-rekan selalu menjauhkan pertumpahan darah, dapat berhasil

pula. Laporan lengkap akan segera kami sampaikan.

Njuwun dawuh lan njadong deduko, bila saya bertindak lantjang.

Ananda

S Harto

02 10 65

Johan mengatakan, bahwa pada hari-hari kritis ketika eksistensi RI menjadi taruhan, Mayjen Soeharto sudah bertindak tepat.

Menurutnya, Soeharto menyelamatkan RI dari kudeta G30S PKI 1965 yang ingin menjadikan RI sebagai negara komunis.

Bahkan, semua itu dengan cara menjauhkan dari pertumpahan darah.

Johan mengatakan pula, bahwa surat itu juga menunjukkan posisi Soeharto terhadap Soekarno.

Dengan kalimat ‘njuwun dawuh lan njadong deduko bila saya bertindak lantjang’, Soeharto menyatakan siap menerima perintah dan siap menerima hukuman jika dianggap lancang.

Johan mengatakan, bahwa dalam tradisi Jawa Soeharto dalam surat itu menempatkan diri sebagai anak yang melapor kepada orang tuanya.

Lihat juga...