Di Dalam Lobang Buaya, Hanung Meresapi Teori Aidit untuk Memenangkan Setan serta Dajjal, Memperjahatkan Sosok Kiai, Santri, dan Tentara Menjadi Bagian Tujuh Setan Desa
OPINI
THOWAF ZUHARON
Ada lubang pada punggung seorang perempuan. Tetapi, dalam pembacaan saya atas Lobang Buaya, lubang yang lebih mengusik justru menganga pada bangunan moral ceritanya: siapa yang diberi kesempatan menjadi manusia, siapa yang dipadatkan menjadi lambang kebusukan, dan siapa yang akhirnya dibiarkan membawa kemenangan pergi. Ketika layar menggelap, persoalannya tidak selesai bersama teror. Ia tinggal dalam benak penonton sebagai pertanyaan tentang kekuasaan, agama, dendam, dan cara sebuah film menggunakan sejarah untuk mengatur simpati.
Hanung Bramantyo membawa kita ke sebuah desa yang dihantui pembunuhan berantai. Hantu perempuan berpunggung bolong mengiringi kematian orang-orang berpengaruh, sementara seorang perwira menyelidiki perkara yang terus bercabang. Karena korban mencakup pejabat, petugas keamanan desa, hingga kyai pemimpin pondok. Hanung menempatkan cerita itu pada 1964, dengan pembunuhan yang berulang setiap tanggal 30. Dengan demikian, sejak awal film mempertemukan teror supernatural dengan wajah-wajah kekuasaan di desa.
Dalam amatan saya, rangkaian itu membentuk sebuah daftar penghukuman: hansip yang terbaca sebagai bandit desa; sekretaris desa dan kepala desa sebagai wajah kapitalis birokrasi; tukang ijon, tengkulak jahat, lintah darat, aparat desa, serta tuan tanah yang menguasai kehidupan orang-orang kecil. Sebutan tersebut tidak sekadar memberi nama kepada tokoh. Ia menyediakan kerangka bagi penonton untuk menentukan siapa yang pantas dibenci, bahkan sebelum seluruh persoalan mereka dibuka.
Di sinilah bayang-bayang “Tujuh Setan Desa” memasuki ruang cerita. Kita perlu cermat menyoroti penggunaan istilah tersebut, karena film menghubungkannya dengan propaganda PKI pada awal 1960-an. Hanung sendiri menjelaskan, kelompok itu sebagai sosok-sosok yang mengisap rakyat dan petani, termasuk mereka yang seharusnya melindungi warga, tetapi malah justru membela tuan tanah.
Karena itulah saya membaca film ini sebagai karya yang meresapi logika pengelompokan musuh dalam slogan yang dilekatkan pada Aidit dan PKI tersebut. Ini merupakan pembacaan atas susunan cerita, bukan pengetahuan tentang keyakinan pribadi Hanung. Namun pertanyaannya tetap tajam: ketika kategori propaganda lama dipindahkan ke layar, apakah film mengujinya dengan sungguh-sungguh, atau justru memberinya tubuh, luka, dan pembenaran emosional yang baru?
Pada pusat kebusukan desa berdiri Sukarya, ayah Arum Wangi sekaligus ayah angkat Soegeng. Dalam rangkaian cerita yang saya saksikan, Sukarya merupakan pemerkosa dan pembunuh Ningsih, seorang ronggeng yang kemudian hadir sebagai hantu berpunggung bolong. Ia juga menjadi bandar kejahatan para pengikutnya, sekaligus pelaku penyerangan dan penyiksaan terhadap Suraji, kekasih Ningsih. Hubungan Sukarya sebagai ayah angkat sekaligus mertua Soegeng, serta pembunuhan Ningsih sebagai pangkal pembalasan Suraji, juga harus dicermati.
Hanung sah saja membuat keruwetan konflik melalui hubungan keluarga tersebut. Seorang penyelidik yang harus menemukan kejahatan di rumahnya sendiri menyediakan kemungkinan dramatik yang kuat. Ayah, mertua, pelindung keluarga, dan pemangsa perempuan berhimpun dalam satu tubuh. Rumah pun menjadi tempat yang menyimpan kehormatan di ruang depan dan menyembunyikan kekejaman di belakangnya.
Tetapi kejutan hubungan keluarga belum dengan sendirinya menghasilkan kedalaman. Plot twist boleh membalik dugaan penonton; ia tetap memerlukan jembatan sebab-akibat yang meyakinkan. Hal ini menempatkan film sebagai horor sejarah dengan kejutan berlapis dan kritik politik. Hanung mencoba mengangkat kejutan cerita sebagai daya tariknya. Bagi saya, justru di situlah pengujian harus dimulai: apakah lapisan kejutan memperdalam watak, atau menumpuk keburukan demi memperkeras hentakan?
Keberatan terbesar saya muncul ketika sosok kyai, santri, dan tentara ditempatkan dalam lingkaran yang menopang Sukarya. Dalam pembacaan saya, kyai digambarkan sebagai pemuka agama yang doyan duit dan bersedia melindungi tuan tanah jahat; santri terseret menjadi bagian dari lingkungan yang membiarkan kebusukan; sementara tentara kehilangan daya di hadapan kekuatan perdukunan. Di titik ini, saya menilai logika cerita Hanung serampangan dan terlalu keji terhadap citra ketiga sosok tersebut.
Apakah sejelek itu sosok kyai dan ulama dalam realitas masyarakat kita? Apakah sekeji itu masyarakat santri pada 1964? Apakah sepecundang itu sosok tentara yang kemudian begitu mudah ditaklukkan oleh Suraji, kekasih Ningsih yang cintanya dihancurkan oleh kesewenang-wenangan Sukarya? Pertanyaan ini lahir karena film menggunakan identitas yang memiliki bobot sosial dan sejarah. Jubah, lingkungan pesantren, serta seragam membawa ingatan yang lebih luas daripada nama seorang tokoh rekaan.
Tentu seorang kyai dapat melakukan kesalahan, seorang santri dapat terseret kejahatan, dan seorang tentara dapat menyalahgunakan kewenangan. Namun, ketika identitas tersebut ditempatkan berdekatan dalam satu barisan keburukan, film perlu memperlihatkan watak dan pilihan mereka secara cukup. Tanpa kedalaman itu, tokoh mudah berubah menjadi karikatur; kesalahan individu meninggalkan noda yang terasa diarahkan kepada lingkungan sosialnya.
Dalam amatan saya, persoalan tersebut menjadi lebih menyakitkan ketika kyai, santri, dan tentara seolah membiarkan Sukarya memperkosa Ningsih serta menjadikannya budak seks di gudang beras. Gudang itu menyimpan dua bentuk penguasaan sekaligus: penguasaan atas pangan dan penguasaan atas tubuh perempuan. Beras menjadi lambang kehidupan, tetapi di sekelilingnya berlangsung penghancuran hidup. Di tempat semacam itu, kebungkaman para pemegang kewibawaan merupakan perkara besar yang semestinya dijelaskan dengan ketelitian moral.
Apakah elok logika cerita yang membuat mulut kyai dan santri demikian mudah dibungkam dengan duit? Apakah moral mereka pada 1964 hendak dibayangkan telah senapas dengan penjahat dan pemerkosa? Saya membaca penggambaran tersebut sebagai pencorengan yang kasar. Jika uang menjadi penjelasan utama bagi runtuhnya kewibawaan agama, film berutang uraian yang lebih dalam tentang ketakutan, keterlibatan, kepentingan, serta pilihan masing-masing tokoh. Uang dapat membeli tindakan seseorang; penulis cerita tetap harus menjelaskan manusia yang menjual tindakannya itu.
Pembelaan terhadap korban kekerasan seksual sendiri merupakan landasan yang kuat. Ningsih layak mendapat simpati, sedangkan Sukarya layak dimintai pertanggungjawaban atas kejahatannya. Akan tetapi, simpati kepada korban membawa pertanyaan berikutnya: sampai di mana pembalasan dapat dibaca sebagai keadilan? Ketika penderitaan menjadi pintu masuk bagi kekuatan jahat yang kemudian mengancam orang lain, film harus membuat perubahan itu terasa dan terbaca.
Dalam rangkaian akhir yang saya saksikan, Ghayat al-Hakim atau Picatrix menjadi perangkat bagi berpindahnya roh dan berlanjutnya pembalasan. Suraji memasuki tubuh Soegeng, sementara arwah Ningsih merasuki Arum Wangi. Arum kemudian menghujamkan pisau berulang kali ke punggung Sukarya, ayahnya sendiri. Setelah pembunuhan itu, Arum yang dikuasai Ningsih menari ronggeng bersama Soegeng yang dikuasai Suraji. Unsur kitab tersebut memang diberitakan sebagai bagian dari perangkat gaib dalam film, tetapi pembacaan atas adegan akhirnya di sini mengikuti kesaksian saya.
Adegan tersebut menyimpan ironi yang mengerikan. Tubuh anak digunakan untuk membunuh ayah; tubuh penyelidik diambil alih oleh pihak yang seharusnya ia ungkap. Arum dan Soegeng kehilangan kedaulatan atas diri mereka. Dendam memperoleh kendaraan baru, sementara manusia yang menjadi kendaraan itu kehilangan suara. Bahkan kemenangan Ningsih dan Suraji mengandung persoalan: apakah mereka telah dibebaskan dari kekerasan, atau justru menjadi penerusnya?
Puncak kegelisahan saya terdapat pada penutup yang menggantung. Arum dan Soegeng naik jip dengan ancaman untuk melenyapkan seluruh penduduk Desa Lobang Buaya. Di jok belakang hadir lelaki tua gondrong dengan satu mata di tengah wajah, yang saya pahami sebagai guru sesat di balik kekuatan Suraji dan Ningsih. Mobil itu membawa dendam keluar dari rumah Sukarya menuju kemungkinan pembantaian yang lebih luas.
Saya membaca sosok bermata satu tersebut sebagai representasi Dajjal. Tafsir ini perlu disebut secara jernih: ciri visual bermata satu tidak otomatis memastikan identitas teologis seorang tokoh fiksi. Dajjal dikenal melalui hadis, termasuk riwayat tentang pendusta yang bermata cacat sebelah. Ia juga tidak boleh disamakan dengan Iblis yang menggoda Adam dan Hawa. Dengan ketepatan itu, pembacaan simbol tetap dapat dilakukan tanpa mencampuradukkan ajaran agama.
Namun, sebagai lambang dalam tafsir saya, kehadirannya memperkeras kesimpulan bahwa kekuatan jahat memperoleh ruang terakhir. Sukarya telah mati, tetapi ancaman tidak berhenti. Pembalasan terhadap pelaku berkembang menjadi ancaman terhadap seluruh penduduk. Pada titik itu, batas antara korban yang menuntut keadilan dan kekuatan yang hendak menebar kebinasaan menjadi persoalan paling penting dalam film.
Horor dapat berakhir dengan kemenangan kejahatan. Justru karena itu, penutupnya perlu membuat penonton menyadari harga kemenangan tersebut. Keberatan saya ialah ketika kyai, santri, dan tentara telah lebih dahulu direndahkan dalam susunan cerita, lalu kekuatan setan memperoleh gerak yang menentukan arah akhir. Saya merasakan ketimpangan: kewibawaan agama dan negara dipermalukan, sementara dendam supernatural mendapatkan panggung serta kelanjutan.
Saya pribadi mengajukan kritik bahwa latar sejarah dalam film ini belum berkembang menjadi pernyataan yang cukup kuat dan lebih banyak menjadi pembungkus kisah horor. Kritik tersebut membuka pertanyaan yang sejalan dengan kegelisahan saya: untuk apa nama Lobang Buaya, tahun 1964, serta kosakata politik yang begitu sarat ingatan digunakan, jika kedalaman yang dituntut oleh pilihan itu belum terpenuhi?
Hanung memang menyatakan perhatian terhadap penindasan masyarakat kecil serta keberlanjutan pola kekuasaan yang melindungi kelompok kuat. Gagasan itu pantas diperbincangkan. Tetapi maksud kritik sosial yang dinyatakan pembuat film tetap terbuka untuk diuji melalui hasilnya: bagaimana manusia digambarkan, bagaimana keburukan diberi sebab, dan bagaimana kekerasan memperoleh penutup.
Di sanalah kritik saya terhadap setan, Dajjal, dan si mata satu memperoleh pusatnya. Sosok di jok belakang itu, dalam tafsir saya, menjadi penanda bahwa kekuatan gelap tetap menguasai arah perjalanan. Setelah tubuh Arum dan Soegeng dirampas, setelah Sukarya dibunuh, dendam belum merasa cukup. Seluruh desa kini berada dalam jangkauan ancamannya. Kemenangan yang semula dapat disangka sebagai pembebasan korban berubah menjadi kemungkinan kebinasaan bersama.
Apakah memang demikian suratan yang diinginkan Hanung? Saya tidak mengetahui niat batinnya. Yang dapat saya pertanyakan ialah pilihan-pilihan yang tampak di layar. Di sana, seorang perempuan yang dihancurkan memperoleh jalan pembalasan; tetapi jalan itu, menurut pembacaan saya, dibuka menuju kekuasaan gelap yang hendak menghancurkan lebih banyak manusia. Ketika jip bergerak dan ancaman ikut menumpang, pertanyaan tentang keadilan tertinggal di belakangnya.
Yang paling kacau adalah puncak ending film ini dengan ending menggantung. Yaitu ketika Sosok Arum dan Letnan Kolonel Sugeng naik mobil Jip dan hendak melenyapkan seluruh penduduk desa Lobang Buaya. Namun ternyata, mereka berdua ditemani dan disupport sesosok lelaki tua gondrong di jok belakang mobil Jip yang matanya cuma satu di tengah wajah. Si Mata Satu inilah yang ternyata menjadi guru sesat si dukun Suraji maupun Ningsih arwah penasaran. Kita semua tahu, si mata satu adalah representasi dari Dajjal yang merupakan biang keladi dari fitnah buruk bagi Adam-Hawa berikut seluruh keturunannya di muka bumi.
Secara nyinyir, saya mengucapkan selamat kepada Hanung Bramantyo yang telah memenangkan sosok Dajjal serta setan hantu dalam Film Lobang Buaya. Melalui film ini, Hanung telah tega menghancurkan sosok Kyai, Ulama, Santri, dan tentara sebagai pihak pecundang jahat yang tidak kuasa apa apa menghadapi setan dan Dajjal. Betapa keji logika cerita ini. Atau, Apakah memang demikian suratan yang diinginkan Hanung?
Na’udzu Billaahi Min Dzalik.