Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 30/09/2026
Menelusuri latar belakang para tokoh PKI cukup menarik. Mereka berasal dari latar beragam: buruh, priyayi, pedagang, kaum terpelajar, keluarga Kristen terdidik, aktivis Islam, wartawan, hingga tokoh pergerakan nasional.
Sebenarnya latar belakangnya paradoks dengan idiologi komunis yang reposisinya melawan kapitalisme. Banyak tokoh PKI yang justru latar belakangnya bisa dikatakan dari kalangan borjuasi.
Ada paradoks lain dalam perjalanan mereka: ideologi Marxis masuk ke Hindia Belanda melalui jaringan sosialis Eropa, terutama ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging). Ialah organisasi sosialis-Marxis yang didirikan Henk Sneevliet pada 1914. Idiologi yang dibawa kalangan penindas yang hendak dilawannya.
Mungkin saja, Marxisme diterima mereka sebagai kerangka untuk membaca kemiskinan, eksploitasi buruh, ketimpangan, dan kekuasaan kolonial yang mereka alami sendiri. Dari perjumpaan itu lahir berbagai jalan politik.
Semaun lahir di Curahmalang, Jombang, dari keluarga pekerja kereta api. Pendidikan formalnya terbatas, tetapi ia belajar melalui organisasi dan pers. Dari Sarekat Islam ia mengenal ISDV.
Ia menjadi ketua pertama PKI, pergi ke Moskwa dan lama tinggal di Uni Soviet. Ia menulis Hikajat Kadiroen, roman politik sebagai medium gagasan, serta banyak artikel tentang buruh dan politik.
Darsono, dari lingkungan priyayi Pati. Masuk pergerakan melalui pers dan Sarekat Islam.
Bersama Semaun ia menjadi tokoh awal PKI dan wakil ketua, kemudian pergi ke Eropa dan berhubungan dengan Komintern. Pers, propaganda, dan tulisan politik menjadi bagian penting kehidupannya.
Tan Malaka berasal dari keluarga Minangkabau di Suliki. Pendidikan guru membawanya ke Belanda, lalu pengalaman politik membawanya ke Eropa, Uni Soviet, Cina, Filipina, dan Asia Tenggara.
Ia menjadi ketua PKI pada 1921–1922, tetapi kemudian berseberangan dengan kepemimpinan partai dan mendirikan PARI (Partai Republik Indonesia). Naar de Republiek Indonesia, Massa Actie, dan Madilog menunjukkan keluasan pemikirannya tentang republik, gerakan massa, serta materialisme, dialektika, dan logika sebagai cara menghadapi “logika mistika”.
Alimin berasal dari keluarga miskin di Surakarta. Ayahnya pernah menjadi tukang pateri sebelum menjadi lurah, sedangkan ibunya berasal dari keluarga tani Delanggu dan bekerja sebagai buruh batik. Latar belakangnya relatif relate dengan idiologi yang membawa slogan melawan kaum tertindas.
Pada usia sembilan tahun ia diangkat anak G.A.J. Hazeu dan mendapat pendidikan sekolah Eropa di Batavia. Ia kemudian menjadi wartawan, aktif dalam Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dan gerakan buruh sebelum masuk lingkungan komunis.
Ia berkiprah di Singapura, Cina, dan Moskwa. Lalu menjadi tokoh senior PKI dan kembali membangun partai setelah kemerdekaan.
Sardjono merupakan salah satu pimpinan PKI generasi pergerakan 1920-an. Lebih dikenal melalui aktivitas organisasi dan politik partai. Haji Misbach, dari keluarga pedagang batik Kauman, Surakarta, tumbuh dalam lingkungan Islam dan bergerak melalui Sarekat Islam Merah serta lingkungan kiri.
Ia bukan ketua PKI, tetapi penting karena berusaha mempertemukan Islam, sosialisme, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Ia dibuang ke Manokwari oleh Belanda dan meninggal di sana pada 1926.
Musso lahir di Pagu, Kediri, dari keluarga pegawai bank. Ia belajar di Batavia, masuk lingkungan pergerakan, lalu lama berada di Uni Soviet dan jaringan Komintern. Pada 1948 ia menjadi Sekretaris Jenderal PKI dan tewas di Ponorogo pada tahun yang sama.
Amir Sjarifuddin berasal dari keluarga Batak Kristen terdidik dan berpendidikan di Belanda. Ia lebih dahulu dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional, pernah menjadi Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri, sebelum masuk kepemimpinan PKI.
Maruto Darusman, Suripno, dan Wikana juga berasal dari lingkungan pergerakan nasional, buruh, pemuda, dan politik kiri.
Tan Ling Djie berasal dari lingkungan Tionghoa pergerakan di Surabaya. Ia belajar hukum di Batavia dan Leiden, menjadi wartawan Sin Tit Po, serta berhubungan dengan Partai Komunis Belanda. Setelah 1948 ia menjadi salah satu pimpinan PKI, tetapi kemudian tersisih ketika generasi Aidit naik.
Generasi berikutnya adalah D.N. Aidit, M.H. Lukman, Njoto, dan Sudisman. Aidit lahir di Belitung dari keluarga Muslim dan memasuki pergerakan pemuda di Jakarta. Ia menulis Sedjarah Gerakan Buruh Indonesia dan Lahirnja PKI dan Perkembangannja.
Lukman, putra Haji Muchlas, tumbuh dalam lingkungan Boven Digoel karena ayahnya pernah dibuang ke sana. Njoto lahir di Ledokombo, Jember, dari keluarga yang memiliki keterkaitan erat dengan Bondowoso. Ia dikenal sebagai wartawan, penulis, dan tokoh kebudayaan melalui Harian Rakjat.
Sudisman berasal dari lingkungan pergerakan nasional dan pernah aktif dalam Gerindo.
Haji Misbach merupakan kasus yang khas. Tampaknya ia secara sadar berusaha mempertemukan Islam dengan sosialisme sebagai dasar perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan. Sementara itu, banyak tokoh PKI lainnya semakin menempatkan perjuangan mereka dalam kerangka Marxisme dan gerakan komunis internasional.
Meski sama-sama menentang kolonialisme, perbedaan ideologi mengenai masyarakat dan negara yang hendak dibangun kemudian membuat gerakan komunis memiliki arah politik yang berbeda dari nasionalisme Indonesia. Kenapa kaum borjuasi justru menjadi tokoh komunis mungkin bisa dijelaskan satu hal: jalan kekuasaan.
Perjuangan komunisme di berbagai negara berujung kekuasaan.Dengan dalim memperjuangkan sosialisme. Bahkan membenarkan segala cara untuk merebut kekuasaan. Di Indonesia proyek mereka gagal.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.