RABU, 29 MARET 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Cendana News
MALANG — Selama pemerintahan 32 tahun Presiden Soeharto ternyata membawa tujuh implikasi atau keterlibatan dalam memajukan bangsa Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Lembaga yang bergerak di Bidang Seni, Budaya, dan Olahraga (LSBO) Muhammadiyah, Drs. H. Sukriyanto M.Hum dalam sosialisasi ‘Implikasi Supersemar bagi Peradaban Indonesia’ yang diadakan di Aula Ahmad Dahlan, Hotel Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Inn, Malang.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Soeharto sebagai presiden kedua yakni membangun peradaban dengan ketenangan. Kedua menciptakan iklim ekonomi yang baik. Ketiga program penduduk yang terintegritas, Keempat kebijakan mengenai pendidikan, Kelima membangun kesehatan merata di seluruh Indonesia. Keenam fokus terhadap pembangunan kegiatan keagamaan.
“Ketujuh yakni pembangunan budaya nilai lokal,” ujarnya didepan puluhan mahasiswa yang hadir.
Sukriyanto menerangkan, Soeharto dalam menciptakan kondisi peradaban dengan ketenangan dimulai dari dibubarkannya Partai Komunis Indonesia (PKI). Meski kejadian tersebut memukul Indonesia, namun harus diakui selama 32 tahun masa kepemerintahan Soeharto aman dari gerakan-gerakan pemberontak.
“Soeharto menyelamatkan Pancasila dengan cara membubarkan komunisme yang tak berperikemanusiaan,” imbuhnya.
Soekriyanto menegaskan, dengan pembubaran PKI demi menegakkan dan menyelamatkan Pancasila. Negara Indonesia aman karena kepemimpinan Soeharto berasal dari Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang dipegang teguh.
“Masyarakat sekarang harus pandai bersyukur dan selalu ingat filosofi pak harto ‘ mikul duwur mendem jeru’ salah satu orang yg akan dilindungi bisa menutup aib saudaranya maka akan dinaikkan ke surga,” pungkasnya.
Mahpudi Harapkan 50 Inisiatif Soeharto Bisa Dijadikan Bahan Penelitian Mahasiswa
Sementara itu, Penulis buku 50 Inisiatif Pak Harto, Mahpudi, MT melihat Soeharto sebagai sosok presiden yang memiliki jiwa teguh dan kharismatik yang meneguhkan dirinya demi persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia, peristiwa Supersemar pada Tahun 1966 memberikan hikmah tersendiri bagi bangsa Indonesia. Mahpudi mengharapkan 50 inisiatif Soeharto dalam kepemimpinannya bisa dijadikan sumber referensi penelitian bagi para mahasiswa. Satu tema bisa menjadi 3-4 penelitian.
Dijelaskan ada empat hikmah yang bisa diambil dari peristiwa Supersemar. Pertama, bangsa Indonesia kini mempunyai cita-cita peradaban. Kedua sebagai generasi penerus harus berani tampil. Ketiga pencabutan akar masalah di Indonesia yakni Partai Komunis Indonesia (PKI).
“Dan keempat terkait pembangunan bangsa yang berlandaskan pertanian yang kuat serta industri yang tangguh,” ujarnya saat ditengah-tengah acara ‘Implikasi Supersemar bagi Peradaban Indonesia’ di Hotel Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Inn, Malang, Rabu (30/3/2016).
Menurut penilaian Mahpudi, Soeharto berhasil menjadi sosok tumpuan bangsa Indonesia. Pasalnya, Nasakom yang dibangun oleh Soekarno tidak berhasil menjaga keutuhan negara ini dengan Supersemar dirinya (Soekarno.Red) bisa memerintah Soeharto untuk memberangus komunis.
“Soeharto dulu sangat dekat dengan Soeharto hingga terkenalnya Soeharto saat itu mendapat mandat langsung terkait Supersemar pada Tahun 1966,” tegasnya.
Indonesia harus kembali ke peradaban bangsa, yang adil, aman, makmur dan sentausa. Supaya tidak terjadi lagi tawuran antar pelajar, antar pekerja dan antar suku. Soeharto menjunjung betul nilai kebangsaan. Saat ini mulai tergerus kebangsaan kita akibat masuk dengan deras pengaruh dari negara lain.
“Soeharto anak ideologis dari Soekarno, jadi tidak ada mungkin Soeharto merusak negara yang sangat dijunjungnya ini,” pungkasnya.