Jenderal Moeldoko: Kita Harus Berterimakasih pada HM Soeharto

SABTU, 12 MARET 2016
Jurnalis : Adista Pattisahusiwa / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Adista Pattisahusiwa

JAKARTA — Mantan Panglima TNI, Jenderal (purn) Moeldoko menyebutkan, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) merupakan alat penting dalam mengusir ideologi Komunis yang menggerogoti Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
Diskusi ‘Supersemar- dari Soekarno ke Soeharto, 50 Tahun Lalu’
Disebutkan, meski kejadiannya pada saat masih sekolah dasar (SD), namun dia memahami bahwa Supersemar merupakan sebuah perintah dari Presiden Soekarno kepada Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostad) HM Soeharto untuk mengatasi permasalahan yang tengah dialami Bangsa Indonesia.
“Saat peristiwa Supersemar pada 1966 saya masih SD, tapi saya pahami tentang Supersemar adalah Pak Harto diminta untuk mengusir paham komunis, Supersemar menjadi alat penting untuk mengatasi situasi saat itu,” ujar Jenderal (Purn) Moeldoko dalam diskusi ‘Supersemar- dari Soekarno ke Soeharto, 50 Tahun Lalu’ di Jalan Wijaya Timur, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (11/3/2016).
Moeldoko memaparkan Supersemar merupakan sebuah perintah, Jadi jangan beranggapan Supersemar itu diperoleh pak harto untuk kekuasaan Mutlak.
Ia menjelaskan, pada saat itu kondisi bangsa tengah digerogoti oleh Komunis. Menyikapi hal tersebut maka keluarlah surat perintah pengamanan dari Soekarno untuk Pangkostrad Soeharto, dan itu merupakan Perintah yang harus dijalankan.
“Andai waktu itu, saya diposisi Pak Harto, kira kira saya juga ikuti perintah seperti itu,” tegasnya
Disebutkan, dengan adanya Supersemar, Pangkostad HM Soeharto berhasil mengemban amanah dan mengembalikan kondisi keamanan.
“Jadi kita mestinya berterimakasih pada Pak Harto, karna bisa membawa situasi itu menjadi aman,” sambungnya.
Ia juga menghimbau agar tidak membangun persepsi yang didasari dengan ketidakpastian, berasumsi yang tidak jelas, karena akan membuat generasi kedepan makin bingung.
Lihat juga...