Rumah yang Gembira

CERPEN TJAK S. PARLAN

SEORANG laki-laki yang tak dikenal, menyambangi halaman rumahnya siang itu. Laki-laki itu bertanya ini-itu tentang anjing-anjing piaraannya. Ia merasa tak pernah bertemu laki-laki itu sebelumnya. Laki-laki itu mengaku sedang dalam perjalanan mengunjungi keluarganya.

“Saya kebetulan lewat sini dan mampir karena melihat anjing-anjing ini,” terang laki-laki itu.

“Oh, hanya anjing kampung biasa,” tanggapnya.

Beberapa ekor anjing sedang bermain-main. Anjing-anjing itu baru saja diberi makan. Laki-laki itu tampaknya tertarik dengan seekor anjing berbulu hitam yang sedang bermalas-malasan di sudut halaman tak jauh dari kandangnya.

Anjing itu belum dilepaskan dari rantai yang membelenggu kakinya. Anjing itu ditemukan seminggu sebelumnya di depan pasar loak, sedang kehujanan dan terlunta-lunta.

“Apa anjing-anjing ini tak dijual?” tanya laki-laki itu tiba-tiba.

Ia cukup heran dengan pertanyaan semacam itu. Ia tak begitu mengerti soal anjing. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, apakah tak sebaiknya seseorang membeli seekor anjing ras yang benar-benar bagus?

Ia memiliki selusin anjing kampung yang tak pernah dibeli dari pemilik sebelumnya. Ia memungut dan menampung anjing-anjing terlantar itu karena alasan yang sangat sederhana: ingin memberinya makan.

“Oh, itu hanya anjing kampung biasa. Saya tak akan menjualnya.” jawabnya.

“Tak satu pun?” tanggap laki-laki itu. “Saya butuh seekor anjing. Saya akan membelinya dengan harga yang pantas.”

Ia menggeleng.

“Yang hitam ini sepertinya lebih tangguh. Bagaimana?”

Ia menggeleng, sekali lagi.

Laki-laki itu sepertinya belum mau menyerah. Ia tampak lebih antusias memerhatikan anjing-anjing itu. Matanya mengitari ke segenap penjuru halaman rumah. Rumah kecil itu memiliki sedikit sisa tanah yang dimanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran dan sebuah kandang ayam oleh pemiliknya.

Namun sejak kedatangan hewan-hewan terlantar itu, halaman rumah itu harus berbagi dengan kandang-kandang baru. Bukan hanya anjing-anjing saja yang ia pelihara, tetapi juga beberapa ekor kucing. Dan sepertinya, kucing-kucing dan anjing-anjing itu akan terus bertambah.

“Saya baru saja kehilangan anjing kesayangan. Anjing saya mati keracunan,” ujar laki-laki itu.

Laki-laki itu menceritakan tentang anjingnya yang mati dan mengaku sangat sedih. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain mendengarnya. Dalam hatinya, ia berharap agar laki-laki itu lebih cepat meninggalkan rumahnya.

Saat ia berharap-harap seperti itu, pintu pagar rumahnya kembali terbuka. Rupanya anak laki-laki satu-satunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar telah datang. Ia menjadi lega karenanya. Maka, tanpa menunda sedikit pun ia langsung memberi permakluman kepada laki-laki itu.

“Maaf, anak saya baru pulang sekolah. Saya harus menyiapkan makan siang untuknya,” ujarnya.

Laki-laki itu bergeming. Tak ada tanda-tanda ia akan segera pergi dengan isyarat semacam itu dari tuan rumah. Laki-laki itu justru mengatakan sesuatu yang tak diduganya.

“Oh, silakan. Semoga saya tak mengganggu. Bolehkah saya numpang di luar sini dulu? Sebentar lagi saya akan pergi.”

Ia tak punya pilihan lain selain menyetujuinya. “Silakan, di manapun. Tapi, maaf, saya tak bisa menawari Anda masuk ke rumah. Suami saya sedang ke luar kota,” terangnya.

Ia tak berbohong soal itu. Suaminya memang sedang ke luar kota, menyeberang ke pulau yang jauh. Suaminya adalah seorang sopir sebuah perusahaan ekspedisi yang sering menghabiskan waktu berminggu-minggu di tempat yang jauh.

Jika sudah begitu, ia dan anak semata wayangnyalah yang menjaga dan merawat hewan-hewan itu. Dulu, sebelum ada hewan-hewan itu ia sering merasa kesepian. Anak laki-laki satu-satunya itu lebih senang bermain dengan teman-teman sebayanya di luar rumah.

Sementara, ia sendiri tak pernah betah berlama-lama ikut bergosip dengan tetangga. Semakin hari, ia semakin menikmati kehadiran hewan-hewan itu di rumahnya. Baginya, saat hewan-hewan itu tampak riang dengan segala aktivitasnya ia pun merasa gembira.

Kegembiraan itu pun telah menyebar ke seluruh penjuru rumahnya. Sekali waktu, teman-teman sebaya anaknya juga bermain ke rumahnya. Mereka bercanda dengan kucing-kucing itu dan tampak bahagia. Beberapa yang belum terbiasa dengan anjing akan tampak takut-takut, tapi kemudian menjadi terbiasa. Dan ayam-ayam itu, setiap menjelang fajar —beberapa yang jantan— akan berkokok dengan riang.

Saat kembali ke halaman rumah, ia melihat laki-laki itu sedang mengusap-usap kepala seekor anjing hitam. Anjing itu tampak menikmatinya. Benar apa yang dikatakan laki-laki itu, bahwa anjing yang berbulu hitam itu tampak lebih tangguh dari yang lainnya. Sebagai pendatang baru, si hitam tergolong cepat menyesuaikan diri.

Betapapun begitu, ia belum berniat melepaskan rantainya. Beberapa hari sebelumnya, anjing itu nyaris menyerang anak laki-lakinya. Oleh karenanya, ia memerpanjang hukumannya dengan merantai anjing itu.

“Anjing yang bagus,” ujar laki-laki itu setelah menyadari kehadiran tuan rumah.
Ia baru memerhatikan bahwa kedua tangan laki-laki itu terbungkus oleh sarung tangan tebal. Mungkin laki-laki itu takut kalau bulu-bulu anjing itu atau air liurnya akan mengotori kedua tangannya, duganya.

Laki-laki itu membungkuk sekali lagi untuk mengusap kepala anjing itu. Seraya mengucapkan terima kasih karena telah diberi kesempatan untuk melihat-lihat anjing piaraannya, laki-laki itu mengusap-usapkan kedua tangannya ke celana dan jaketnya seolah-olah kedua tangannya baru saja mengenggam remah-remah kotoran tertentu. Setelah laki-laki itu mohon diri dan tubuhnya menghilang di tikungan, ia benar-benar bisa bernapas dengan lega.

Sore harinya, saat ia mulai bersih-bersih halaman rumah, ia mendapati seekor anjingnya sudah mati. Tubuh anjing berbulu hitam itu kaku dan dingin dan mulutnya berlendir. Ia terduduk lemas cukup lama di depan anjing tak bernyawa itu.

Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia mulai mengingat-ingat apakah ia telah melakukan kesalahan sejak pagi itu. Tiba-tiba terlintas laki-laki yang tak dikenalnya itu. Benarkah seseorang dari jauh lebih menginginkan seekor anjing kampung biasa?

Hingga hari nyaris gelap, ia belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Yang bisa dilakukan berikutnya adalah menguburkan anjing mati itu di belakang rumahnya. Ia melakukannya dengan diam, sambil merasakan kegembiraan yang mulai tercerabut dari rumah itu.
***
KEESOKAN harinya, sekelompok orang mendatangi rumahnya. Ia bisa mengenali beberapa wajah dalam kerumunan kecil itu, yang tak lain adalah warga sekitar.

Sementara yang lainnya mengaku mewakili sebuah lembaga tertentu yang mengurusi soal perlindungan satwa terlantar di kota itu— sebuah nama yang baru saja dikenalnya. Ia menerima mereka di dalam ruang tamunya yang sempit.

Seseorang—yang tak lain adalah kepala lingkungan setempat—menyampaikan sejumlah maksud kedatangan mereka. Beberapa waktu itu, katanya, ia sering menerima laporan dari sejumlah warga bahwa keberadaan hewan-hewan itu mulai mengganggu ketenangan warga sekitar.

Kepala lingkungan itu menyebut hal-hal seputar gangguan itu sebagai ‘pencemaran lingkungan’, ‘kegaduhan’, dan ‘ancaman’.

“Kami sama sekali tak melarang Ibu pelihara hewan. Hanya saja, kami ingin Ibu mau menguranginya,” jelas kepala lingkungan.

Tak banyak yang bisa ia lakukan dengan segala penjelasan dan permintaan itu. Ia sendirian dan tak ada teman untuk berbagi pendapat. Ia hanya minta diberi waktu agar bisa membicarakan persoalan itu dengan suaminya ketika sudah pulang nanti.

Tapi alasan itu telah dipatahkan oleh mereka. Keputusan warga akan tetap sama: hewan-hewan itu harus dikurangi jumlahnya.

“Ibu tak perlu khawatir, lembaga kami akan mengurus anjing-anjing liar itu. Kami juga akan merawatnya dengan baik dan menempatkannya di tempat yang lebih layak,” ujar salah seorang.

“Nanti saya akan bicara langsung dengan suami ibu,” tambah kepala lingkungan.

Selanjutnya, ia hanya bisa memandangi dengan tubuh gemetar ketika sebagian anjing-anjing yang telah diselamatkannnya itu dimasukkan ke dalam sebuah mobil.

Ia bisa mendengar dengan jelas saat anjing-anjing itu mulai menggonggong seolah meminta perlindungan darinya. Mereka hanya menyisakan dua ekor anjing. Sementara untuk kucing-kucing dan ayam-ayam, akan diurus belakangan, kata mereka.

“Bau kotoran hewan,” gumamnya lirih. “Apa yang salah dengan kotoran hewan? Saya setiap hari membersihkannya. Bukankah rumah ini terpisah dari mereka?”

Ia tak habis pikir dengan kejadian itu. Suaminya memilih rumah yang terpisah dari pemukiman warga itu karena persoalan harga kontrak yang lebih murah ketimbang rumah lainnya.

Lantas, apakah kokok ayam, sekali waktu gonggongan anjing, dan keriangan kucing di musim kawin benar-benar bisa merusak ketenteraman umat manusia? Apakah seseorang tidak boleh memiliki rumah yang gembira?

Ia terus bertanya-tanya. Di saat seperti itu, tiba-tiba ia ingin segera menelepon suaminya. Tapi sebelum itu, ia mungkin akan menangis. Selirih-lirihnya, sepilu-pilunya. ***

Pagesangan, 11 April 2018

Tjak S. Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di sejumlah media, antara lain Media Indonesia, Detikcom, Koran Tempo, Jurnal Nasional, Republika, Femina, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat dan lain-lain. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Mukim di Pagesangan, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak, dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

Lihat juga...