Halaman rumah Mbah Man berukuran 11 x 21 meter. Sangat luas. Tidak berpagar. Langsung bersambung dengan jalan kampung. Jalan itu sendiri hanya selebar 3 meter.
Di pojok barat selatan halaman itulah letak Sumur Tua. Disebut tua sebab memang usianya sudah tua. Digali pada zaman Majapahit.
Malah kata orang-orang, sumur itu sudah ada bakalnya sejak zaman kerajaan Dhoho. Atau malah zaman Ken Arok menguasai Singosari.
Karena itulah Mbah Man marah besar ketika terdengar kabar rencana Sumur Tua bakal diratakan. Bakal digusur.
“Mengganggu pemandangan, Mbah! Cobalah mengerti. Kampung kita butuh keindahan. Harus ditata. Lihatlah sumur itu sudah penuh lumut. Dindingnya retak-retak. Berbahaya! Perhatikan seksama, tiangnya degil begitu, Mbah!” ujar Urip, juru bicara pamong kampung.
Urip bekerja di kelurahan. Karena itu dia yang diminta maju menghadapi sepasang suami-istri Mbah Man. Ya, meski beda kelamin kedua lansia hampir seabad itu sama dipanggil Mbah Man. Baik lakinya. Atau perempuanya. Urip sendiri keponakan Mbah Man.
Dengan menunjuk Urip sebagai jubir harapannya rencana berjalan lancar. Tapi bak cinta bertepuk sebelah tangan. Keinginan itu langsung ditolak mentah-mentah. Bahkan Urip dan rombongan kena damprat.
“Kalian dengarkan!! Kalian anak-anak zaman sekarang hanya tahu hidup senang! Hanya kenal hura-hura di dunia maya! Hanya ngerti manis-manis gula depan layar kaca! Kalian generasi yang yang tak kenal darah dan air mata perjuangan!
Pantas kalian lemah. Wajar kalian melempem! Mana tahu kalian sejarah? Apa kalian ngerti warisan peradaban yang luhur? Tidak. Pasti tidak. Sebab mata kalian dibutakan kesukaan dunia. Telinga kalian ditulikan kemewahan. Hati kalian kelam oleh kemegahan yang menjadi lumpur jiwa!
Aku tidak setuju Sumur Tua ini digusur! Dan tidak mau warisan peradaban ini dihancurkan! Dan jika kalian, pamong-pamong yang bangga dengan pembangunan, yang kalian bangun dari hutang itu, aku keturunan prajurit Ronggolawe yang tersisa yang akan meneruskan perlawanan!!” seru Mbah Man.
Celurit digenggam erat. Sementara istrinya memegang tombak. Mata tombaknya sudah berkarat. Dan bengkok!
Aura anyir darah segera memancar. Pertarungan tampaknya segera dimulai. Kaki rombongan pamong surut dua langkah ke belakang. Hanya Urip yang masih tegak berdiri di tempatnya semula.
Biar bagaimana dia tetaplah keponakan Mbah Man. Paman dan bibi akan tetap sayang. Setidaknya tidak bakal menyakiti. Atau malah tidak membiarkan dirinya tewas sia-sia. Tega larane ora tega patine.
Urip coba bertahan. Dia menunggu dengan wajah tenang. Meski dadanya berdebar kencang. Musim carok telah tiba. Di mana-mana orang merasa wajib berjuang. Merebut haknya. Atau mempertahankan harga diri. Luka dibayar luka. Nyawa dibayar nyawa.
Akankah dia bakal jadi korban berikutnya?
Sepasang Mbah Man memang sudah lansia. Sangat renta. Tapi kesaktiannya sudah menyebar kemana-mana. Bukan hanya senjatanya. Kabarnya dia bisa bergerak secepat angin. Bahkan mabur duwur. Tanpa disebul!!!
Hampir seabad usianya tak pernah orang melihat keduanya belanja beras. Alias tak makan nasi!!
Orang banyak hanya melihat sesekali keduanya minum. Dari gentong raksasa seukuran gajah di samping sumur. Hebat. Gentong berbahan tanah yang kelihatan retak dari luar ternyata masih kokoh.
Garis-garis retakan menyebar. Membentuk semacam jalur pada gambar peta. Mirip gambar sketsa akar pada buku pelajaran. Mungkin sudah bercampur akar betulan.
Sebab selain lumut, ada juga semacam tumbuhan yang entah apa namanya. Akarnya menyeruak sebagian. Sebagian menempel gentong karena lembab. Tapi tidak pecah! Bahkan sekadar tanda-tanda mau pecah pun belum tampak.
Yang membuat orang keder sebenarnya cara sepasang Mbah Man minum air dari gentong. Ya, cara mereka minum!! Sudah banyak orang coba ikut meminum air gentong. Siapa tahu bisa ketularan sakti. Mereka pun izin empunya. Dan diizinkan.
“Silakan. Minum saja. Tak ada larangan. Air milik Gusti Allah. Dia yang membuat dan mengirimkan. Bukan kami. Siapapun boleh mengambil. Dengan cara dan kemampuan sendiri. Jangan minta tolong kami. Sebab itu sangat merepotkan kami yang renta!! ”
Begitu selalu jawaban sepasang Mbah Man. Dan orang-orang selalu bingung. Tidak mampu menemukan lubang keluar masuk air dari dan ke gentong. Mereka hanya sering melihat sepasang Mbah Minum dengan cara menempelkan bibir ke dinding gentong! Hanya dengan menyesap dan menyerapnya!
Apakah air meresap dari retakan gentong? Entahlah.
Yang jelas kesaktian sepasang Mbah Man telah tersebar ke delapan penjuru mata angin. Dan diwariskan turun temurun. Menjadi doktrin dan dogma di tengah masyarakat.
Sebab itulah Urip tetap waspada. Sebenarnya dia juga tidak terlalu khawatir. Sebab dalam dirinya juga mengalir darah Aria Wiraraja. Meski terhubung sangat jauh.
Dari jalur selir keturunan yang kesekian generasi. Tapi darah nasab tetap darah nasab. Dia mengalir dalam tubuh seseorang. Tak mungkin dibantah. Tak mungkin diingkari. Meski kadang status demikian jadi berkah. Kadang justru jadi sumber musibah. Menimbulkan kerumitan. Kesulitan. Kerepotan.
“Kowe bocah sudrun! Jangan berlagak sok berani! Jangan jadi pahlawan kesiangan! Jangan mentang mentang kau keponakanku lantas aku tak tega menebasmu! Meratakan tubuhmu ke atas tanah. Menimbun bangkaimu di bawah kubur tanah!!! Mundur dan menyingkirlah. Sebelum habis kesabaranku. Kalian benar-benar membuat gula darahku naik!! Bikin emosi saja!! Minggir!!” teriaknya.
Urip tetap bertahan. Bergeming. Tak beranjak dari tempatnya berdiri. Para pamong lain pilih mundur teratur. Nyali mereka ciut. Tapi Urip ialah anak cucu Aria. Wiraraja. Ada darah Ksatria dalam dirinya. Dia tidak akan mundur. Sejengkal pun. Meski gepeng. Meski jadi tumbal perubahan!!
Nenek. Mbah mendengus. Marah melihat kelakuan keponakannya yang mbalelo. Ngotot. Tak mau diarahkan. Tombak diangkat tinggi. Diacungkan lurus ke arah batok kepala Urip. Mata nyala.
Tajam menghunjam. Sepersekian detik ujung tombak semacam sudah siap menguras Urip dan menumpahkan ke tanah. Hampir-hampir tak ada lagi peluang pembatalan. Tak ada lagi unsur semesta yang peduli nasib Urip. Akankah hari ini nyawa keponakan bakal lenyap di tangan bibi?
Ketika ujung tombak itu telah hampir bergerak melesat, terdengar teriakan Kakek Mbah Man.
“Tahan. Kau nenek tak tahu diri!! Jangan sembrono. Jangan egois. Itu keponakanmu sendiri. Memang mereka bodoh dan dungu. Tolol dan tidak cerdas cerdas. Tapi ada darah leluhur kita pada tubuhnya. Hentikan tindakan konyolmu! ”
Hebat. Teriakan itu seketika menahan gerakan tombak nenek Mbah man. Seperti dikunci mati. Nenek. Mbah man melengos kesal. Perlahan tombak turun ke tanah. Tangan melemas. Ujung tombak menempel dan menancap ke tanah.
Mbah Man Lelaki memandang tajam ke arah pamong. Terutama Urip keponakannya.
“Kalian para muda, orang muda, anak muda, generasi muda, kaum muda, tahukah kalian apa itu masa lalu? Paham? Sumur tua ini jangan hanya dilihat sebagai tumpukan bata kuno berbentuk melingkar. Jangan!! Jangan pula hanya dipandang sebagai sumber air yang kalian butuhkan.
Jangan! Jangan menilai baik buruk hanya atas dasar kebutuhan kalian sendiri. Hanya sebab kalian butuh lantas disebut baik!! Jangan hanya memandang segala sesuatu benar atas dasar kepentingan kalian sendiri. Sesuatu kalian anggap benar sebab kalian merasa penting atasnya. Jangan!”
Mbah Man Lelaki berhenti. Tanpa ambil nafas. Hanya menghentikan artikulasi suaranya.
“Masa lalu memang telah lewat.Tapi ia menjadi pengalaman. Memberi pelajaran berharga. Kalian dapat menjadikannya sebagai pedoman dan pegangan. Kalian paham itu pedoman? Kalian ngerti apa itu pegangan? Kalian pasti bakal butuh mengambil keputusan. Keputusan apa saja. Terkait urusan apa saja. Hari ini. Atau esok hari. Atau lusa. Atau tahun depan. Atau abad-abad mendatang!”
Tanpa menghela nafas. Tapi suara Mbah Man tambah keras. Kian lantang. Memang luar biasa.
“Dan kau, istriku, kekasihku, cintaku, sayangku, pujaan hatiku!! Mereka adalah hari ini kita. Khususnya Urip ini ialah wajah kita hari ini. Kau pasti ngerti apa makna hari ini? Urip bukan semata keponakan. Atau sosok yang sudah kita anggap sendiri sebab kita tak punya anak.
Dia adalah anak zamannya. Kita hanyalah masa lalu bagi zaman ini. Biarkan mereka yang memberi warna hari ini. Mereka berhak memilikinya. Kita harus percaya Urip dan krocokroconya ini!! Meski kita tak puas. Meski kita sering agak kecewa dengan kegoblokan mereka! ”
Kembali perkataan panjang Mbah Man terhenti. Tidak untuk mengambil nafas. Hanya mengalihkan pandangan satu demi satu ke arah wajah para pamong praja.
“Ya. Meski mereka sering tak becus. Sering nyemelekethe. Sering sembrono. Ngawur. Tapi kita harus tetap percaya!! Biarkan mereka coba memperbaiki masa lalu menurut pandangannya sebagai pemilik zaman ini. Menentukan garis nasib manusia hari ini. Dan merancang apa saja yang dianggap baik untuk masa depan. Kita hanya masa lalu dan menumpang pada zaman ini!! ”
Suaranya lirih. Tidak melirik sedikitpun ke arah Mbah Man Perempuan. Sehingga dia tidak melihat perubahan sikap istrinya.
Mbah Man Perempuan melesat tiba-tiba. Tubuhnya melenting ke atas. Dan kakinya hinggap di atas wuwung rumahnya!! Terdengar suaranya lantang dari atas atap!!
“Kau tetaplah suamiku. Yang kucintai. Kusayangi. Kupuja-puja pagi siang malam. Meski kau selalu mengecewakan hatiku. Tak pernah menyenangkan diriku. Dan tak sekalipun membela keputusanku!! ”
Mbah Man Lelaki terkekeh. Dia paham istrinya merajuk. Marah. Tapi dia akan meluluhkan amarahnya.
“Tapi aku tetap marah kepada kalian!! Tidak ikhlas kalian hancurkan sumur tua ini. Meski kalian gusur, tapi akan kukejar sampai liang kubur!! Sampai kiamat!! Bahkan sampai akhirat!!”
Mbah Man Perempuan terus bersuara. Sampai dia kaget tanpa sadar suaminya sudah hinggap di belakang tubuhnya. Dan memeluk mesra.
“Sudahlah istriku. Tak usah kita memikirkan masa depan. Kuburan, kiamat dan akhirat ialah masa depan. Kau sendiri menolak hari ini. Juga menolak masa depan. Kita adalah sepasang makhluk pecinta masa silam!! Hari ini hanyalah bonus hidup dan kehidupan bagi kita. Untuk apa? Untuk bersenang-senang. Untu bergembira. Untuk berbahagia berdua!! ”
Mbah Man Lelaki segera saja mengangkat tubuh istrinya. Membopong dengan kedua tangannya. Dan membawanya terbang. Melompati ringan dari atap ke atap. Terus melakukan. Hingga tak tampak kedua tubuh mereka dari pandangan mata Urip dan para pamong praja.
Mereka saling pandang. Tak ada suara. Ada pendapat. Hingga Urip bertanya.
“Bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan? Mereka telah pergi. Dan meninggalkan rumah ini. Meninggalkan sumur tua ini. Meninggalkan kita semua. Entah pergi ke mana!! ”
“Sebaiknya kita kembali ke kantor. Dan membuat laporan. Kalau perlu kita rekayasa. Yang penting atasan senang. Apa yang terjadi hari ini, saat ini, sungguh tak enak. Menampar wajah kita. Mempermalukan kita. Apa kata pimpinan kalau mendengar kisah konyol kita saat ini?” ujar seorang pamong.
Seorang dari mereka menimpali.
“Aku ngeri sendiri dengan peristiwa hari ini. Bulu kudukku serasa merinding. Tubuhku dingin semua. Sumur itu terlihat lebih angker dari kemarin. Sebaiknya kita kembali ke kantor. Lapor. Dan rapat ulang semua rencana ini,” ujar seorang lagi.
Usulan tersebut tampaknya disetujui. Sebab mereka satu demi satu melangkah keluar dari halaman sumur tua.
Beberapa daun tua luruh dari ranting pohon nangka. Warnanya sudah kuning kusam. Sebagian sudah kering dihantam terik matahari awal kemarau panjang.
Sebuah pelepah pisang ambruk. Tapi tetap lekat dengan batang. Daunnya sangkut pada beberapa silangan cabang dan ranting nangka. Angin tipis berhembus. Udara kering bercampur debu terasa hingga ujung hidung. ***
Kendal, 2023
Muhammad Thobroni merupakan seorang penulis masyhur di Indonesia. Lahir di Jombang 25 Agustus 1978. Menghabiskan masa kecil dan remajanya di Surabaya dan Yogyakarta.
Lulus pendidikan tinggi S1 di Universitas Negeri Yogyakarta, S2 di perguruan tinggi yang sama, dan sedang menyelesaikan S3 di Universitas Negeri Semarang.
Dia pernah bekerja sebagai editor lepas di penerbit dan menjadi guru Madrasah di Yogyakarta. Ketika lulus Magister, dia menjadi dosen di STKIP PGRI Pacitan, Jawa Timur. Menjadi dosen linguistik dan sastra.
Dia juga mengajar kuliah dasar-dasar pendidikan. Dari Pacitan, dia berpindah ke Kalimantan menjadi dosen di Universitas Borneo Tarakan. Sebuah perguruan tinggi negeri di perbatasan Indonesia-Malaysia. Dia mengajar kebudayaan Indonesia, dasar-dasar pendidikan, linguistik dan juga sastra.
Di Kalimantan, dia mengenalkan budaya literasi kepada anak-anak di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T). Sebagian mereka anak-anak nelayan dan tenaga kerja asing di luar negeri atau buruh migrant. Dia mengajarkan anak-anak mencintai seni dan budaya. Mengajak mereka mencintai buku dan menjadikan tulisan sebagai ekspresi diri pikiran serta perasaan masyarakat.