KOKOK ayam mulai warnai bumi. Geliat mentari yang baru terbangun dari mimpi panjangnya, mulai menerangi bumi dan penghuninya.
Tak terkecuali menerangi jiwa dan hati Agung, yang telah terlunta-lunta karena penzaliman yang dilakukan pimpinannya tanpa perikemanusiaan.
Kini, Agung hanya bisa pasrah. Memasrahkan diri dengan status baru sebagai tersangka. Agung hanya bisa memasrahkan diri dengan status barunya sebagai koruptor.
“Semoga Tuhan mengampuni dosaku,” ungkap Agung.
Pagi hari ini semakin siang. Tapi suara Agung amat religi: panjatkan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Pencipta.
“Ya, Allah, ampuni dosa-dosaku dan dosa-dosa pimpinan kami yang telah tersesat dan menyesatkan kami dalam hidup,” kata Agung dengan nada suara yang sangat dalam sambil menengadahkan kedua tangannya.
Kemudian, lanjutnya, “Ampunilah kesalahannya dan luruskan jalan pikirnya ke jalan yang lurus.”
***
Selama ini, Agung yang sehari-hari mengendarai mobil mewah, tidak menyangka bila kesetiaannya kepada pimpinannya harus berbuah pahit.
Sama sekali tidak menyangka dibalik kereligiusan sang pemimpin terselip sebuah kerakusan besar, yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya sebagai bawahan.
Pimpinan Agung selama ini dikenal sebagai orang yang religius. Sederhana dan disiplin dalam bekerja.
“Kesederhanaan ternyata tidak menjamin seseorang akan rakus dan kemaruk akan harta,” batin Agung.
Agung sama sekali tidak menyangka kalau akan terseret dalam masalah besar korupsi di perusahaannya. “Kalau tahu akan begini, aku tak mau dititipi uang yang minta proyek,” keluh Agung.
Matahari kini mulai meredup. Garangnya cahaya matahari seolah-olah bersimpati kepada Agung.
Ya, Agung masih ingat kejadian itu. Sangat ingat sekali. Saat dipanggil pimpinannya untuk membahas masalah proyek pembangunan sebuah ruko yang sedang berlangsung. Sebagai bawahan Agung hanya berniat untuk membantu pimpinannya dalam menyukseskan proyek itu.
“Saya minta dana dari pemberi proyek ruko itu bisa diserahkan kepada saya setelah diberikan,” jelas Arbain, pimpinan Agung.
“Siap, Pak!”
“Saya ingin memberikan yang terbaik bagi pemberi proyek itu.”
“Biar mereka bahagia dan bisa dijadikan sebagai modal dagangan,” kelakar Agung.
“Kebetulan saya punya sahabat yang memiliki toko bahan bangunan yang berkualitas,” lanjut Arbain dengan nada penuh heroik.
***
Kegundahan hati Agung mulai melanda. Tanda-tanda ketidakberesan proyek itu mulai terlihat saat pembangunan ruko itu tengah berlangsung.
Pemberi proyek memperkirakan kualitas bahan bangunan itu amat jelek. Bahkan, jenisnya pun amat tidak sesuai dengan peruntukannya.
Keluhan pemberi proyek mulai bergema. Lalu menjadi konsumsi publik. Seolah-olah sudah menjadi narasi umum dalam setiap pertemuan warga masyarakat.
Kemudian persoalan itu disampaikan Agung kepada pimpinannya. Tapi, Agung malah disalahkan karena tidak bertanggungjawab.
“Kamu saya beri amanah ya harus mempertanggungjawabkan!” kata Arbain dengan nada keras.
Agung hanya terdiam. Membisu seribu bahasa. Suasana ruang kerja pimpinan itu pun hening. Sehening hati Agung yang sedang galau dan resah.
Kegundahan hati mulai dirasakan Agung ketika aparat hukum menyidik kasus tersebut. Saat diperiksa, Agung hampir pingsan. Sementara, pimpinannya seolah-olah tidak bersalah. Cuci tangan atas permasalahan yang menimpa bawahannya.
Pimpinannya malah membuat pernyataan agar aparat hukum untuk menuntaskan masalah itu. “Sesuai dengan hukum yang berlaku,” tandas Arbain.
Agung sedih. Pimpinannya tidak memberi dukungan sedikit pun kepada Agung. Seolah-olah membiarkan Agung menerima hukuman. Seolah-olah itu perbuatannya.
“Saya tidak ingin di perusahaan ini terjadi korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” kata Arbain.
“Dasar pimpinan licik. Pimpinan tak tahu malu!” umpat Agung.
***
Setelah menanyakan identitas dan kondisi kesehatan, penyidik mulai mengajukan beberapa pertanyaaan kepada Agung. Terlihat Agung menatap dingin dan sinis. Tatapan Agung kurang simpatik. Memorinya diaduk-aduk. Mengingat kembali pelaksanaan proyek ruko tersebut.
Rasanya lurus-lurus saja. Begitu lurusnya sampai kolega dan Sofia, mantan istrinya, menilai Agung sebagai orang pintar yang bodoh.
Sudah menjadi pejabat di perusahaan, tapi miskin. Istrinya akhirnya minta cerai. Meski berat, dipenuhi Agung.
Kasus korupsi pembangunan ruko di kantor tempatnya dulu bekerja membuat reputasi Agung yang selama ini sangat bersih, hancur berantakan.
Di sela-sela pemeriksaan, Agung menyempatkan diri melihat televisi. Running text berita sebuah stasiun televisi menyebutkan, Agung telah ditetapkan menjadi tersangka korupsi.
“Belum diperiksa sebagai saksi sudah dijadikan tersangka,” gumam Agung dengan gelisah.
Kini momentum terburuk dalam perjalanan hidupnya dijalani Agung. Lembaran buram dalam sejarah hidupnya diketahui semua orang. Tentu saja setiap orang ingin semua orang membaca sejarah hidupnya yang tertulis dengan tinta emas, bukan dalam lembaran hitam. ***
Affan Safani Adham, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY tinggal di Notoprajan, Yogyakarta. Cerpennya berjudul “Diamputasi” (dimuat di KR, 16 Juni 2002) masuk dalam Antologi Cerpen Indonesia “Perempuan Bermulut Api” yang diterbitkan Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2009 dan 2015.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.