Gadis itu pernah berjualan pisang goreng hingga minggu ketiga bulan Januari di sudut toko besi itu. Sebagai gadis muda, ia cukup pintar berjualan pisang goreng.
Mulai memilih lokasi tempat berjualan yang strategis, memilih pisang kepok yang tak terlalu matang untuk dijadikan pisang goreng, hingga meraciknya sedemikian rupa, sehingga enak dan gurih. Juga ia sangat ramah kepada setiap pembeli, sehingga pisang goreng jualannya laris manis tanpa pernah tersisa.
Ia hanya sendirian berjualan pisang goreng, alias pemain tunggal. Atas kemandirian yang disandangnya itu, orang banyak salut kepadanya. Termasuk para penarik ojek sepeda motor yang mangkal di persimpangan jalan yang berdekatan dengan toko besi itu sangat salut kepadanya.
Namun, memasuki minggu keempat bulan Januari, ia tak pernah berjualan pisang goreng lagi di sudut toko besi itu, sehingga orang banyak bertanya-tanya ke mana perginya gadis penjual pisang goreng itu?
Termasuk Parto pemuda bujangan berusia 26 tahun, berprofesi penarik ojek sepeda motor, sering bertanya-tanya tentang keberadaan gadis penjual pisang goreng yang hilang bak ditelan bumi itu.
Selama ini, Parto sangat memperhatikan gadis penjual pisang goreng itu. Bahkan Parto sangat penasaran dan saban hari berpikir, mengapa tiba-tiba gadis penjual pisang goreng itu menghilang dari di sudut toko besi itu.
Parto pertama kali menyapa gadis penjual pisang goreng itu saat mengantarnya sehabis berjualan pisang goreng di sudut toko besi itu. Saat itulah Parto pertama kali melihat wajah gadis penjual pisang goreng itu yang memang cantik, sehingga Parto terpesona.
Parto merasakan gadis penjual pisang goreng bukanlah gadis biasa-biasa meski penampilannya cukup sederhana. Sampai-sampai, Parto merasakan gadis penjual pisang goreng memantik keindahan nan tak terlukiskan di dinding hati Parto.
“Kalau boleh saya tahu. Si. Si. Siapa nama kamu?” tanya Parto tergagap-gagap sembari mengendarai sepeda motor ojeknya membonceng gadis penjual pisang goreng. Pikiran Parto sedang berkelana bersama gadis penjual pisang goreng itu.
Mengenang pertemuan pertamanya sangat indah dan sangat berkesan dengan gadis penjual pisang goreng. Namun saat Parto bertanya, gadis penjual pisang goreng diam seribu bahasa. Meski demikian, Parto bisa memaklumi mengapa gadis penjual pisang goreng tak menjawab pertanyaannya.
Parto menganggap gadis penjual pisang goreng diam seribu bahasa, karena angin sedang bertiup kencang, sehingga pendengaran gadis penjual pisang goreng terganggu. Tak mendengar pertanyan yang diajukan Parto.
Dan bukan menghiraukan pertanyaan yang diajukan Parto. Parto hanya sebatas itu bertanya kepada gadis penjual pisang goreng. Tak mendapat respons sama sekali.
Akan tetapi, Parto tak kecewa meski pertanyaannya tak dijawab oleh gadis penjual pisang goreng. Bahkan, hati Parto berbisik manis, masih ada kesempatan lain untuk bertanya kepada gadis penjual pisang goreng.
Saat itu Parto mengantar gadis penjual pisang goreng hanya sampai di persimpangan jalan. Selanjutnya Parto tak tahu lagi ke mana perginya gadis penjual pisang goreng.
***
Parto sangat risau di Pangkalan Ojek. Semalaman ia tak bisa tidur nyenyak gara-gara memikirkan gadis penjual pisang goreng. Di tengah Parto duduk bermalas-malasan di jok sepeda motor ojeknya, tiba-tiba calon penumpang berjenis kelamin perempuan menghampirinya, meminta supaya Parto mengantarnya ke pasar.
Namun, Parto tak melayaninya alias tak sudi mengantarnya ke pasar. Supaya hati perempuan itu tak kecewa, Parto menyarankan agar menaiki ojek sepeda motor Pak Poltak.
Lalu perempuan itu pun diantar Pak Poltak yang sebenarnya antri di barisan kedua. Pak Poltak amat kegirangan ketiban rejeki. Buka dasar di pagi hari. Menurut kata hati Pak Poltak, rejekinya adalah rejeki si jambang bayi yang tengah dikandung istrinya tercinta.
Parto duduk bermalas-malasan di jok ojek sepeda motornya. Roman wajahnya tampak seperti benang kusut yang berserakan di lantai. Atau roman wajahnya itu tampak seperti wajah langit sedang mendung kelabu.
Yah, semangat Parto benar-benar luntur mengemban profesinya sebagai penarik ojek sepeda motor. Penyebabnya, tak lain tak bukan, karena gadis penjual pisang goreng tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di sudut toko besi itu.
Parto turun dari ojek sepeda motornya. Kemudian melangkah menuju bangku panjang sembari bayang-bayang gadis penjual pisang goreng berseliweran di benaknya. Sampai-sampai, Parto menampik rejeki dan dialihkannya kepada Pak Poltak.
“Nopo sampean, To?! Nopo raimu ketok mutung?! Ono opo, To?!” (Kenapa kamu? Kenapa wajahmu murung? Ada apa?) tanya Pak Ponirin yang juga penarik ojek sepeda motor yang duduk berdekatan dengan Parto di bangku panjang itu. Memang, Pak Ponirin belakangan ini sangat prihatin dengan keadaan Parto yang awut-awutan.
“Mboten nopo-nopo, Pak De (tidak apa-apa),” jawab Parto sembari ogah-ogahan duduk di bangku panjang, sembari memikirkan gadis penjual pisang goreng. Namun kemudian, Parto tersentak, lalu mendekati Pak Ponirin.
“Ketika Pak De mengantar gadis penjual pisang goreng itu apa tak menanyakan nama dan alamat rumahnya?” tanya Parto sangat serius menatap Pak Ponirin.
Sementara Pak Ponirin langsung paham tujuan dari pertanyaan Parto. Ketika gadis itu masih berjualan pisang goreng, Pak Ponirin sering membeli pisang gorengnya, bahkan beberapa kali mengantarnya pulang.
“Meski sudah tiga kali mengantarnya, namun saya tak pernah menanyakan nama dan alamat rumahnya, To! Lagian untuk apa, To! Yang penting saya antar, dan saya dapat bayaran! Ngono loh, To!” kata Pak Ponirin sekenanya.
“Pak De mengantarnya sudah tiga kali! Masak iya tak pernah menanyakan nama dan alamat rumahnya?!” tanya Parto semakin penasaran sembari menatap wajah Pak Ponirin lama-lama.
“Untuk apa nanya nama dan alamat rumahnya segala, To! Ora penting, To!” jawab Pak Ponirin mulai kesal karena didesak Parto. Pak Ponirin yang dituakan di Pangkalan Ojek itu menganggap Parto sudah sinting.
“Pak De mengantar gadis penjual pisang goreng itu sampai di mana sih?!” tanya Parto mendesak lagi.
“Sampai di persimpangan jalan! Terus tak tahu lagi ke mana selanjutnya dia pergi!” jawab Pak Ponirin sangat kesal karena Parto berlagak seperti anggota penyidik kepolisian.
Kemudian Pak Ponirin bangkit dari bangku panjang itu. Lalu melangkah menuju sepeda motornya dan tak sudi dekat-dekat lagi dengan Parto. Sementara Parto semakin kebingungan dan pikirannya sangat sumpek dijejali sejuta pertanyaan soal keberadaan gadis penjual pisang goreng itu.
Sebab Parto pun pernah mengantar gadis penjual pisang goreng itu hanya sampai di persimpangan jalan, dan selanjutnya tak tahu kemana perginya.
Rasa kesal di hati Pak Ponirin tiba-tiba menghilang lantaran seorang Ibu bertubuh gendut mendatanginya, dan meminta Pak Ponirin supaya mengantarnya ke supermarket. Seharusnya giliran menarik ojek adalah giliran Parto lagi.
Namun, Parto merelakan Ibu bertubuh gendut itu dibawa Pak Ponirin. Sepertinya Parto benar-benar sudah sinting menolak rejeki hingga dua kali. Pertama, rejekinya diberikannya kepada Pak Poltak. Kedua, rejekinya diberikannya kepada Pak Ponirin.
Bahkan hari ini Parto memutuskan tak menarik ojek lantaran hati dan pikirannya disita oleh kemisteriusan gadis penjual pisang goreng itu.
Bang Ujang muncul mengendarai sepeda motor. Sepeda motor yang berfungsi sebagai ojek itu diparkirnya pada antrian terakhir. Bang Ujang baru sampai di Pangkalan Ojek itu dan memang selalu datang belakangan karena harus terlebih dahulu mengantar istrinya ke pasar untuk berjualan sayuran.
Usia Bang Ujang lebih tua dari usia Parto. Namun, jarak usia mereka tak terlalu jauh. Akan tetapi, usia Pak Ponirin paling tua dari keseluruhan penarik ojek yang mangkal di persimpangan jalan itu. Makanya, Parto paling suka bercanda dengan Bang Ujang.
Bahkan, kalau Parto tak punya uang, sering minjam uang kepada Bang Ujang. Parto sedang berpikir-pikir dan sesekali melirik Bang Ujang yang duduk di sampingnya. Kemudian Parto menarik nafasnya perlahan-lahan, lalu dihembuskannya perlahan-lahan sembari melirik Bang Ujang lagi.
“Bang Ujang! Aku mau nanya nih. Boleh iya, Bang Ujang?” Parto menatap Bang Ujang dengan serius. Sementara Bang Ujang agak heran menyaksikan roman wajah Parto begitu ketat diliputi mendung kelabu.
“Boleh! Boleh!” sahut Bang Ujang menjawab ramah dan tak ingin mengecewakan Parto. Lalu Bang Ujang menepuk pundak Parto dengan lembut. ”Kamu ingin menanyakan soal apa, To?”
“Sudah berapa kali Bang Ujang mengantar gadis penjual pisang goreng yang pernah berjualan di sudut toko besi itu?” tanya Parto sembari mengarahkan telunjuk kanannya ke sudut toko besi itu. Sementara Bang Ujang langsung paham dengan gadis yang dimaksud Parto.
“Seingat Abang baru dua kali, To!” jawab Bang Ujang merasa heran atas pertanyaan yang diajukan Parto. Bang Ujang tak menyangka Parto mengajukan pertanyaan soal gadis penjual pisang goreng itu.
“Apa Bang Ujang pernah menanyakan nama dan alamat rumahnya?” tanya Parto berharap Bang Ujang menyampaikan jawaban yang menyejukkan hatinya.
“Abang tak pernah menanyakan nama dan alamat rumahnya, To!” jawab Bang Ujang membuat Parto jadi lemas karena dari mulut Bang Ujang meluncur jawaban yang tak menyejukkan hati Parto.
“Menurut Abang tak penting menanyakan nama dan alamat rumahnya, To! Abang mengantarnya sampai di persimpangan jalan saja, To! Selanjutnya Abang tak tahu lagi ke mana selanjutnya dia pergi, To!” kata Bang Ujang lagi.
Parto pun diam dan tak mengajukan pertanyaan lagi kepada Bang Ujang. Bahkan, Parto semakin tak bergairah lantaran dicengkeram kenyataan yang tengah dihadapinya yang menghempaskan dinding hatinya hingga nyaris retak.
Sementara Pak Ponirin, Bang Ujang, bahkan dirinya sendiri sama sekali tak mengetahui nama dan alamat rumah gadis penjual pisang goreng itu.
Akhirnya, Parto meninggalkan Bang Ujang di bangku panjang itu. Parto berjalan dengan lunglai menuju toko besi yang jaraknya sekitar 10 meter dari Pangkalan Ojek itu. Sesampainya di teras toko besi, Parto duduk di bangku panjang bersebelahan dengan tempat gadis itu saat masih berjualan pisang goreng.
Parto duduk menghadap sudut toko besi sembari memandang bekas tempat gadis itu saat masih berjualan pisang goreng. Sementara dari dalam toko besi sejumlah pembeli masuk dan keluar tanpa dihiraukan Parto.
Pikiran Parto lebih terpaut kepada gadis penjual pisang goreng dan tak lekang-lekang memikirkannya hingga berjam-jam lamanya. Sebenarnya, bisa saja Parto bertanya kepada pelayan toko besi tentang gadis penjual pisang goreng. Namun, Parto malu dan merasa gengsi bertanya kepada pelayan toko besi itu.
Parto berani bertanya hanya kepada Pak Ponirin dan Bang Ujang karena teman seperjuangan sesama penarik ojek motor. Parto menganggap Pak Ponirin dan Bang Ujang bukan sebagai rival. Sedangkan pelayan toko besi usianya masih muda sepantaran dengan Parto.
Dahsyatnya lagi, pelayan toko besi berwajah tampan dan jauh lebih unggul dari wajah Parto yang pas-pasan alias wajah ngedeso. Sampai-sampai, Parto terbakar api cemburu dan menduga-duga pelayan toko besi menyukai gadis penjualan pisang goreng itu.
Parto masih duduk diam di bangku panjang di samping sudut toko besi itu. Parto duduk berlama-lama dengan wajah manyun dan semangatnya raib diterbangkan angin hingga bermil-mil jauhnya. Sementara jarum jam dinding di toko besi menandakan pukul 15.00 WIB siang.
Mentari masih garang bersinar menerpa tubuh Parto. Namun, Parto tak perduli dan tetap duduk diam di bangku panjang sembari pikirannya melayang-layang ke haribaan gadis penjual pisang goreng.
Hari pun beranjak sore. Mentari tak garang lagi bersinar. Biasanya, gadis penjual pisang goreng sudah muncul beraktivitas di sudut toko besi itu. Parto sangat tahu dan sangat paham itu. Sebab Parto sering diam-diam mengamat-amati gadis penjual pisang goreng dari Pangkalan Ojek tempatnya ngetem.
“Mas, saya mau bertanya! Boleh iya, Mas?!” Lelaki muda berwajah tampan tiba-tiba membuyarkan lamunan Parto.
“Bo. Bo. Boleh, Mas!” sahut Parto tergagap-gagap memandangi pemuda tampan itu.
“Gadis yang biasa berjualan pisang goreng di sini ke mana ya, Mas? Sudah seminggu dia tak kelihatan. Apa dia tak berjualan pisang goreng lagi, Mas?” Pertanyaan pemuda berpenampilan necis itu mengagetkan hati Parto yang belum usai merajut lamunannya tentang gadis penjual pisang goreng.
“Benar, Mas. Sudah seminggu dia tak berjualan.” Parto menjawab tak bergairah.
“Kalau boleh saya tahu siapa nama gadis penjual pisang goreng itu ya, Mas? Juga di mana alamat rumahnya ya, Mas?” kata pemuda itu membuat Parto jadi salah tingkah.
“Saya tak tahu namanya dan tak tahu alamat rumahnya, Mas,” kata Parto berusaha ramah sembari menutup-nutupi perasaan hatinya yang tak menentu. Kemudian Parto menatap pemuda itu dengan perasaan curiga. “Memangnya kenapa dengan gadis penjual pisang goreng itu, Mas?”
“Saya suka pisang gorengnya, Mas! Pisang gorengnya enak banget, Mas! Heran saya mengapa dia tak berjualan pisang goreng lagi ya, Mas!” kata pemuda itu membuat hati Parto tiba-tiba terbakar api cemburu.
Parto merasa memiliki saingan lagi. Pertama, saingannya adalah pelayan toko besi berwajah tampan itu. Kedua, saingannya juga pemuda berwajah tampan berpenampilan necis yang sedang berhadapan dengannya.
Parto menduga-duga, pemuda tampan di hadapannya bukan hanya menyukai pisang goreng buatan gadis itu. Juga menyukai kecantikan gadis penjual pisang goreng itu. Dan dugaan Parto itu sekaligus menelanjangi dirinya sendiri yang juga sangat menyukai kecantikan gadis penjual pisang goreng itu.
Parto diam dan tak menghiraukan pemuda itu lagi. Kemudian tanpa pamit pemuda itu meninggalkan Parto dengan raut wajah kecewa.
Ternyata bukan hanya satu pemuda tampan berpenampilan necis yang bertanya kepada Parto soal gadis penjual pisang goreng. Melainkan selanjutnya sebanyak lima belas pemuda tampan berpakaian necis silih berganti bertanya kepada Parto soal gadis penjual pisang goreng.
Juga selanjutnya sebanyak sepuluh bapak-bapak silih berganti bertanya kepada Parto soal gadis penjual pisang goreng. Namun, hanya pertanyaan keseluruhan bapak-bapak itu yang dijawab Parto dengan baik dan apa adanya.
Sedangkan pertanyaan sejumlah pemuda tampan berpenampilan necis itu dijawab Parto hanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa mulutnya mengeluarkan sepatah kata. Sebab hati Parto terbakar api cemburu.
Sebab Parto menyadari saingannya bukan hanya dua pemuda berwajah tampan, melainkan bertambah sebanyak lima belas pemuda tampan berpenampilan necis menjadi saingannya. Namun, Parto mengurut hatinya agar tak sampai patah arang.
Lalu Parto pun tak perduli dan sangat meyakini kata hatinya, bahwa gadis penjual pisang goreng bakal jadi miliknya, bakal jadi teman sehidup sematinya.
Selanjutnya Parto menghayal-khayalkan gadis penjual pisang goreng saat masih beraktivitas. Dari kejauhan Parto sering menikmati kecantikan wajah gadis penjual pisang goreng. Parto suka curi-curi pandang sembari mengagumi kecantikan dan penampilan gadis penjual pisang goreng nan sederhana itu.
Bahkan, ketika Pak Ponirin dan Bang Ujang lebih sering mengantar pulang gadis penjual pisang goreng, hati Parto terbakar api cemburu. Namun, Parto sangat pintar menyembunyikan perasaan cemburunya. Parto menyembunyikannya dalam-dalam sedalam laut Banda, sehingga Pak Ponirin dan Bang Ujang tak pernah tahu Parto menaruh hati kepada gadis penjual pisang goreng itu.
Sore hampir usai ketika Parto masih melamunkan gadis penjual pisang goreng. Mentari pun sudah tiarap di balik awan kelabu. Orang-orang pun tak datang bertanya lagi kepada Parto soal gadis penjual pisang goreng. Namun, Parto masih duduk di kursi panjang di samping sudut toko besi itu.
Parto tetap duduk diam sembari kedua matanya menekuri tanah bekas tempat kedua kaki gadis itu bertumpu saat masih berjualan pisang goreng. Lalu Parto mengkhayal-khayalkan gadis penjual pisang goreng berwajah teduh saat berdiri menggoreng pisang kepok di dalam kuali tanpa pernah mengeluh sedikitpun.
Lalu mengkhayal-khayalkan wajah gadis penjual pisang goreng berseri-seri dihiasi senyum bersahabat setiap melayani pembelinya. Namun, terkadang Parto terbakar api cemburu saat menyaksikan gadis penjual pisang goreng sangat ramah melayani setiap pembelinya.
Namun kemudian, Parto tak memperdulikan semua itu dan semakin dahsyat mengkhayal lagi. Seandainya kamu bersedia jadi istriku, pasti hatiku sangat bahagia. Kamu akan kuperkenalkan kepada orangtuaku di kampung, bisik hati Parto amat blingsatan.
Parto terlalu yakin mampu menaklukkan gunung hati gadis penjual pisang goreng. Juga Parto terlalu yakin gadis penjual pisang goreng berasal dari desa, sehingga tak mungkin mendambakan calon suami seorang pemuda kota yang kebanyakan terkontaminasi arus modernisasi.
Dan Parto sangat yakin gadis penjual pisang goreng sangat mengharapkan pemuda sederhana dari desa. Juga Parto sangat yakin dirinya adalah pemuda satu-satunya yang diidam-idamkan gadis penjual pisang goreng itu. Lalu Parto tersenyum-senyum sendiri, dan tiba-tiba hatinya berbunga-bunga setaman.
Kota ini tak seluas kota Jakarta! Besok kamu akan kucari sampai dapat! Akan kubuktikan bahwa aku pemuda desa yang sangat bertanggung jawab! Kalimat-kalimat heroik itu berlompatan dari hati Parto. Sangat deras berlompatan melambungkan semangat Parto hingga setinggi Gunung Sumantri.
Juga semngatnya meletup-letup bak letupan-letupan mercon menyambut hari lebaran. Namun kemudian, Parto tersadar dari dunia khayalannya lantaran ditegur senja yang mulai merambat datang.
Selanjutnya Parto pun bangkit dari kursi panjang itu. Namun, saat Parto akan melangkah menuju Pangkalan Ojek, tiba-tiba mobil sedan BMW warna putih seri terbaru berhenti di samping Parto, persis di sudut toko besi itu.
Kemudian pintu mobil BMW terbuka lebar, dan lelaki setengah baya berkulit putih bermata sipit turun dari mobil sedan BMW. Jumlah rambut di kepalanya bisa dihitung dengan jari tangan serta tubuhnya pendek dan tambun.
Kemudian lelaki yang sama sekali tak dikenali oleh Parto itu mengitari kepala mobil, lalu berhenti di depan pintu mobil di sebelah kiri.
Selanjutnya lelaki itu membuka pintu mobil, dan seorang wanita muda berpenampilan modis muncul, lalu turun dari mobil sembari memegangi tangan lelaki itu dengan sangat mesra, sehingga Parto sangat kaget serta merta kedua matanya terbelalak menyaksikan gadis itu adalah gadis penjual pisang goreng yang sedari tadi dikhayal-khayalkannya sedang digandeng lelaki lain di alam nyata.
Dan sebelum memasuki toko besi itu, lelaki setengah baya itu dan gadis penjual pisang goreng itu masing-masing melemparkan senyuman manis kepada Parto, dan hati Parto jadi terluka, kemudian jaringan otaknya mampet, lalu pingsan, dan rebah di sudut toko besi itu.
Kemudian tanpa dikomando orang-orang berdatangan mengerumuni Parto dan selanjutnya Parto dilarikan ke rumah sakit terdekat menggunakan taksi guna menyelamatkan nyawanya. ***
Jansen William lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Pernah menulis cerpen di Harian Terbit Minggu, Harian Analisa, Batam Pos dan di sejumlah media lainnya. Saat ini tinggal di Batam, Provinsi Kepri.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.