“Andai saja kau terima cintanya, Din. Pasti kejadiannya tidak akan seperti ini!” ungkap Gemblung, sahabat masa kecilnya menjelaskan.
Air teh setengah dingin di tangannya ditenggak bersama dengan tangan kiri mengambil rebusan ubi yang berada di atas meja tua rumah sahabatnya itu.
“Engkau juga seharusnya sudah mati jika saat itu aku tidak datang memberimu air dan rebusan ubi seperti yang tersedia di meja gubukmu ini.”
“Ingat, Din. tidak ada orang yang mati karena tirakat, yang ada orang mati setelah berbuka yang berlebihan setelah tirakat!”
Pria tambun itu masih saja menjelaskan kekecewaan apa yang telah diperbuat sahabatnya pada malam Jum’at kemarin lalu. Pasalnya, dirinya tidak suka dengan apa yang dilakukan sahabatnya jika sampai membuatnya gila dan mati.
***
Minggu terakhir, Mangsa Manggala sedang berlangsung, curah hujan mulai deras, di mana pohon Asam Jawa mulai menumbuhkan daun-daun mudanya, ulat mulai bermunculan, laron keluar dari liang, serta lempuyang dan temu kunci mulai bertunas. Semua tanda itu seperti mengingatkan para petani untuk mulai menggarap ladang sawahnya kembali.
Pagi menjelang matahari setinggi tombak, Mang Bunawas menagih janjinya kepada seorang pemuda yatim untuk membajak sawah ladang miliknya yang tertunda.
Ia datang dengan hati yang gusar, baginya pemuda miskin sepertinya harus bekerja keras untuk mengubah nasib, tapi jika diamanatkan untuk membajak sawah satu petak saja tidak becus, maka akan alamat tidak akan tercapai semua cita-cita dan kemuliaan pada hatinya agar hidup lebih baik lagi.
Pakaiannya kumal, sarungnya yang melilit di leher tampak kusut tak pernah diganti seumur hidup, di belakangnya tampak rumah gubuk yang sudah tidak karuan pondasinya hendak condong ke kanan atau ke kiri, yang kelak akan tahu bahwa rumahnya sudah hampir roboh lapuk dimakan usia. Baridin seperti tidak bersalah menjawab kesiangan lantaran semalam suntuk dirinya menonton wayang.
Untunglah budi baik Mang Bunawas tetap mengizinkan dirinya bekerja di sawah ladang miliknya. Dengan memberikan lokasi sawahnya yang rumit, berangkatlah Baridin membawa weluku di pundaknya. Akan tetapi suasana hati Baridin hancur ketika menanyakan jalan pada wanita cantik bertubuh sintal yang lancang omongannya.
“Sudahi hinaanmu, jangan banyak omong dan jangan liat tampangku. Lihat saja, aku akan mengejarmu!” katanya sambil mencoba mengoda.
“Aku tak sudi bersanding dengannmu!”
“Mungkin kamu sedang sakit, hingga tidak tahu hendak melamar siapa di hadapanmu.” katanya sambil berkacak pinggang. “Ratminah, anak Bapa Dam, orang terpandang se-kecamatan”
“Biarpun melarat, Baridin lelaki yang memiliki wewenang untuk mencintai wanita yang dipilih!”
“Seperti itu juga tergantung lelakinya, seperti ini juga tergantung perempuannya, perempuan sepertiku mahal harganya, tak pantas kau jodohnya!”
Mendengarnya seperti itu, hati Baridin yang semula hanya bercanda iseng menggodanya, sekarang malah terlanjur benar menaksirnya, kini dirinya telah tersulut api asmara dari keindahan seorang Ratminah putri Bapa Dam yang kaya raya dan telah kondang se-kecamatan itu.
“Kalau tidak tercapai maksudku, lebih baik aku sakit diderita cinta padamu.”
“Kalau terjadi demikian, aku lebih memilih gila dari pada hidup denganmu” jawabnya asal dan cepat.
“Apakah ucapanmu begitu sungguhan?” tanya Baridin memastikan, tidak percaya dengan ucapannya yang dianggap berani itu.
“Siap sumpah tujuh turunan!” jawabnya lagi seperti mengundang gemuruh guntur di langit dari ucapannya yang lancang.
Sementara caci maki masih berhamburan keluar dari mulut Ratmina, Baridin dihinakan dipandang seorang miskin yang hina dina tak karuan yang ucapannya telah lancang, lantaran pemuda melarat sepertinya berani melamar Ratminah yang hidup kaya raya bergelimang harta dan telah kondang se-Kecamatan.
“Baik jika begitu, larilah ke ujung pangkal mulut ular naga, aku akan mengejarnya!” ucapnya berat sebagai sumpah seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara.
Baridin pulang kembali ke rumah dengan amuk asmara di dadanya, bertemu dengan perempuan cantik bertumbuh sintal bukan saja dirinya bahagia telah mencintainya, tapi atas semua ucapannya yang menyakitkan, selain dirinya mencintai perempuan cantik itu juga dirinya tidak enak hati setelah banyak menerima hinaan dan cacian yang tak kepalang tanggung hingga terasa ke lubuk hati seperti cacian yang mengungkap semua tabiat kehidupannya.
Hidup dengan berkali-kali dihantam kesusahan, Baridin malah memilih untuk mencari perkara. Pemuda melarat itu nekat mencintai perempuan cantik bertubuh sintal putri Bapa Dam yang kaya raya. Jika dibandingkan dengan kehidupannya, dirinya layak dikatakan gila dan tidak pernah berpikir.
Ratminah gadis cantik terurus bergelimang harta semenjak kecil itu tinggal di rumah Rimas. Rimas merupakan kependekan dan doa dari makna “Sugih pari, sugih emas” yang artinya kaya akan padi dan emas.
Maka tak heran, banyak pemuda yang datang melamar anaknya. Mulai dari saudagar kaya, juragan minyak, pejabat tinggi, hingga dalang tarling pernah singgah di palataran rumahnya untuk mengais restu dari anak dari Bapa Dam untuk menerima lamarannya.
Namun sedemikian banyaknya pelamar yang mapan dan tampan itu tidak ada satupun yang diterimanya, semua itu karena kecongkakan tabiatnya yang buta dan tamak akan duniawi. Bapa Dam sempat mengkhawatirkan anaknya akan menjadi perawan tua, meskipun itu terjadi juga atas dasar didikannya kepada Ratminah untuk mencari jodoh yang kekayaannya papak dengan dirinya.
Dunia berbanding terbalik, seperti yang kini dirasakan Baridin di pelataran rumahnya yang sedang merenung meratapi nasib yang ditimpa derita berkali-kali. Namun, meskipun demikian, lazimnya seseorang pemuda yang normal, Baridin merasa bahagia selalu setiap kali dalam perenungannya ketika memikirkan dirinya telah sampai maksud untuk bersanding dengan Ratminah yang cantik dan bertubuh sintal itu.
Sesekali jika kelebat wajah dan tubuhnya muncul di pandangannya, Baridin menyunggingkan senyum manis diikuti dengan tertawa mengucapkan kalimat-kalimat khayalan khas pemuda yang sedang ingin sekali menikah.
Terbayang dirinya sedang duduk sanding dengan Ratminah yang dicinta di pelaminan, banyak orang yang datang untuk memberikan selamat dan doa, lampu di rumahnya mendadak terang benderang, teman saudara semuanya kumpul bergembira.
Di saat dirinya melambungkan khayalannya tinggi-tinggi, sahabatnya Gemblung datang menghampiri.
“Gemblung, sini duduk dengannku!” Sambut Baridin sambil menjabat tangannya.
“Sebentar lagi, aku ingin jadi pengantin, siapa lagi yang ingin jadi pengatur semuanya dalam acaraku, kelak kamu yang memandori semua kegiatannya, mencicipi masakannya, hahaha” jelas maksudnya sambil tertawa bahagia.
“Sama siapa kamu hendak menikah, Din?” tanya Gemblung masih keheranan.
“Aku hendak menikah dengan perempuan cantik dan kaya, dia anak dari Bapa Dam, Suratminah namanya.”
“Aih.. Aihh.. Kamu mau menikah dengan Ratminah?” tanyanya tak percaya.
“Apakah kamu tidak bercermin, Din? Kalau Ratminah itu orang kaya, orang bagus rupanya, sedangkan kamu? Hanya pemuda yang tidak cukup bagus rupanya pula hartanya!”
“Karena orang suka itu berangkat dari rasa cinta bukan dari karena harta, jangan sekali-kali Gemblung menyalahkan asmara lantaran aku yang demikian adanya.”
“Yah bukan begitu maksudku, Din. tapi kamu harus merasa diri, kamu itu wong blesak, sedangkan Ratmina orang paling cantik di desa ini”
“Gemblung, wong nyolong ayam kena disalahkaken, wong gebugi wong kena disalahkaken, wong jiwit wong kena disalahkaken, kaya sira sering nyolong pentile tangga bli wewara kena disalahkaken, tapi yen soal demen aja bae sira sok nyalakaken, kenae asmara ning alam dunia bli kenal dosa asal wajar tunggal menusa.”
“Baiklah. Aku hanya bisa mengingatkan, Din.” Jawab Gemblung pasrah dengan ambisi niat sahabatnya itu.
Dadanya tiba-tiba berdegup, batinnya gelisah, Gemblung merasakan hal ganjil yang akan terjadi atas perkawinan yang akan dilangsungkannya.
Sebagai seorang sahabat, dirinya khawatir jika nanti Baridin hidup lebih menderita karena lebih banyak lagi yang menghina dan tidak bisa mengimbangi gaya hidup istrinya yang terbiasa dengan kemewahan.
Sedangkan ibunya, Mbok Wangsih, belum kunjung pulang dari rumah Bapa Dam yang sedang melangsungkan lamarannya untuk Baridin. Namun setelah matahari condong ke barat, orang yang telah dinanti-nanti itu telah datang pulang dari rumah Bapa Dam.
Tubuhnya lemah, bahunya jatuh dengan tangannya yang memangku muka tersedu berkali-kali mengusap air mata dari matanya.
Seorang ibu yang dinanti-nanti kedatangannya itu malah datang dengan isak tangis yang menyedihkan, dengan kabar mengerikan pula yang disampaikan kepada Baridin putranya. Konon, Mbok Wangsih ditolak mentah-mentah oleh Ratminah dan bapaknya, dirinya diusir dengan kasar hingga nampan anyaman bambu yang berisi irisan pisang tidak lengkap jumlahnya itu terjatuh berhamburan dengan tubuhnya yang rentan.
“Apa? Mbok Wangsih didorong dan diludah dengan Ratminah?!”
“Iya, Cung. Sudahilah niatmu untuk melamar orang kaya itu, Mbok Wangsih tidak punya apa-apa.”
Hatinya sakit ketika mendengar pengakuan dari Mbok Wangsih, dirinya tak menyangka seorang Ratminah kekasih yang dicintainya tidak baik budi rupanya hingga tega meludahi orang tua seperti ibunya itu.
Baridin bersedih, baru saja membara kecamuk api asmara di dadanya, seketika redam mendengar kejadian demikian, kini hatinya jadi bimbang, dirinya sangat mencintai Ratminah, tapi di sisi lain hatinya sakit ibunya diperlakukan tidak manusiawi seperti itu.
Baridin keluar rumah dengan membawa sarung kesayangan satu-satunya yang tidak pernah diganti seumur hidup itu. Untunglah, di saat yang tepat, Gemblung Dinulur datang untuk mengibur Baridin.
Kejadian seperti ini sudah seperti apa yang ada di pikirannya, semenjak mendengar sahabatnya ingin menikahi Ratminah, pikirannya hanya ada dua kemungkinan, jika tidak ditolak, Baridin pasti hidup menderita.
Sebagai sahabat, Gemblung menyarankan untuk mengamalkan elmu peninggalan orang tuanya. Ilmu itu bisa digunakan untuk seseorang menebus malu atau memang bisa juga untuk berniat rumah tangga yang tulus. Dengan tekad pati, Baridin melakoni elmu itu setelah genap tirakat 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum. Kemudian di malam ke 41, tepat pada malam Jumat Kliwon, rapalan itu dibacakan dengan khidmat.
Seperti kepulan asap putih keluar dari tubuhnya di tengah hamparan sawah yang sedang musim kering. Kepulan asap itu terbang dan menukik tajam ketika sampai pada rumah Ratminah, Ratminah tergila-gila mencari Baridin untuk berupaya diterimanya.
“Kang Baridin, aku cinta padamu.”
“Dulu kau menjatuhkanku hingga sampai ibuku kau hinakan, tidak. Aku tidak mau menerimamu!”
“Kang Baridin, aku mencintaimu, aku ingin ikut dengganmu” rengeknya sambil mulai berisak tangis dan napas yang pendek. Namun karena masih kesal dan sakit hatinya Baridin, Ratminah tetap tidak diterimanya hingga mati dengan keadaan mengais cintanya.
***
“Aku masih sakit hati dengan apa yang telah diperbuatnya, Mblung” ungkapnya mulai angkat bicara. “Aku masih tidak terima jika mengingatnya, tapi sekarang kenapa aku mulai menyesalinya.”
“Karena kau telah menyalahgunakan suatu amalan mahabbah, Din.”
“Kau tahu, elmu kemat Jaran Guyang yang kuberikan padamu itu adalah elmu peninggalan nenek moyang kita yang ditulis untuk meraih kemuliaan mahabbah dalam perkara asmara. Sudah kukatakan bukan, biarpun dia sempat gila dibuatnya, tapi jika pihak lainnya menerima cintanya dia akan sembuh seperti semula.”
“Benarkah demikian Gemblung? Waktu itu Ratminah tidak akan mati jika aku menerima cintanya di saat dia sedang dibuat gila?!”
“Benar, Din. Kenapa kamu menyia-nyiakan kesempatan itu?”
“Aku sangat menyesal, Mblung, padahal saat itu cintaku padanya tidak pernah berkurang seperti aku pertama kali mencintainya. Tapi aku gelap mata lantaran luka batinku yang terlalu sakit dibuatnya!” ***
Catatan:
1. Mangsa manggala: Musim kelima, biasanya berlangsung pada 13 Oktober -5 November.
2. Weluku: alat bajak sawah tradisional yang ditarik kerbau.
3. Tarling: pemain organ tunggal atau acara musik dangdut pada era 1970-1990-an.
4. Papak: setara.
5. Blesak: orang jelek.
6. Wong nyolong ayam kena disalahkaken, wong gebugi wong kena disalahkaken, wong jiwit wong kena disalahkaken, kaya sira sering nyolong pentile tangga bli wewara kena disalahkaken, tapi yen soal demen aja bae sira sok nyalakaken, kenae asmara ning alam dunia bli kenal dosa asal wajar tunggal menusa. Wangsalan atau semacam tembang dari tarling Baridin, yang artinya. Orang maling ayam bisa disalahkan, orang mukulin orang bisa disalahkan, orang cubit orang bisa disalahkan, seperti kamu yang suka curi mangga muda tetangga bisa disalahkan, tapi kalau soal cinta, jangan disalahkan, karena asmara itu wajar asal sesama manusia.
7. Tekad pati: tekad mati. Tekad yang lebih memilih mati daripada tidak tercapai maksudnya.
A. Djoyo Mulyono, penulis dan jurnalis Ciayumajakuning, tulisan opini dan esainya sudah tersebar di beberapa website dan media portal berita. Buku pertamanya kumpulan cerpen yang berjudul SIRNA baru saja terbit tahun ini. Sekarang dia sedang menyelesaikan magister di Universitas Negeri Surabaya. Pemuda kelahiran Cirebon ini bisa disapa melalui akun Instagram di @agungdjoyo.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.