Sebuah Gazebo di Kebun Waluh

CERPEN

OLEH SUNARYO BROTO

 

Rumah yang indah itu ada gazebo atau saung kayu/bambu sebagai salah satu hiasannya. Hampir semua rumahku di beberapa lokasi ada gazebonya. Ada 4 tempat.

Gazebo biasanya ditaruh di luar rumah, sebagai tempat melepas penat, merenung, melihat alam sekitar, menikmati semilir angin dan mengembarakan lamunan. Kadang hanya duduk bersandar saja sambil melihat keluar bisa berjam-jam. Waktu berlalu tak terasa. Seperti asal kata gazebo, dari gaze (Inggris) yang artinya memandang dan ebo (Latin) artinya ke luar.

Khusus gazebo di kebun dengan rumahku ini, aku mengikuti prosesnya, meski yang membuat tukang.

Dari ide, mengeksekusi, mendirikan, evaluasi sampai menikmatinya.

Kebun itu luasnya satu pathok, sekitar 3000-an2. Kubeli waktu awal sebagai karyawan. Mendadak dan harus cepat karena penjualnya butuh uang segera. Lokasi hanya 500 m dari rumah orang tuaku. Aku sendiri kerja di luar Jawa dan tanah itu berwujud sawah yang selanjutnya diurus oleh ibu. Dikerjakan orang lain ibu yang urus dan menikmati hasilnya.

Lama kelamaan ibu menua, sakit dan tak bisa urus, sawah itu tak ada yang pelihara, jadi kebun. Lalu saya pensiun dan ibu meninggal. Kebun itu jadi kantorku setelah pensiun. Hampir tiap hari aku beraktivitas mencari keringat di kebun itu. Menyiram pohon buah, memanen, membersihkan rumput dan gulma serta aktivitas kecil lainnya yang sesuai dengan pensiunan.

Sudah 5 tahun saya menikmati itu. Tanaman sudah tumbuh besar. Ada pisang, pepaya, mangga, kurma, kelapa, sawo, rambutan, alpokat, black sapote, mamae sapote dll. Kebun itu sebagian dipake untuk resto outdoor dan parkir yang dikerjakan investor lain. Dua kali ada resto buka di situ dan keduanya tutup. Memang berat usaha kulineran di masa ekonomi sekarang yang pertumbuhan ekonominya hanya sekitar 5%. Banyak saingan dan tak banyak pembeli.

Aku menikmati proses pembuatan gazebo ini. Kayunya jati dan tambal sulam. Ukurannya 3×3 meter. Kadang kayunya kurang dan harus mencari dulu. Ada yang dari gudang kayu atau kalau gak ada ya membeli. Seefisien mungkin. Maklum pensiunan hehe

Kadang aku menunggu tukang dengan disambi kegiatan ringan, menyirami pohon atau membersihkan gulma.

Suatu saat pada sore sepulang tukang saya kecapaian dan berbaring di gazebo itu. Angin sore melenakan dan udara terasa sejuk.

Tiba-tiba ada yang membangunkan dan mengajak bicara.
“Udara terasa panas dan kami kurang air,” Katanya. Saya baru meraba-raba siapa yang bicara. Rasanya tak ada orang tapi ada suara.

“Siapa sampeyan?”
“Saya pohon pepaya di dekat gazebo,” Jawabnya. Kayaknya ada 6-7 pohon yang baru berbunga yang sering disiram.

“Pohon pepaya mana?”
“Yang belum lama kamu tanam” Ooo yang 3 hari kemarin saya pindah dari pot.

“Iya.”

“Tenang saja. Saya bertanggung jawab terhadap yang saya lakukan. Terlebih saya suka tanaman. Nanti rutin saya siram dengan air kesejukan.” Lalu dia tenang.

Ada suara lain. Kenapa kamu biarkan aku merana. Aku malu, buahku tak dapat dinikmati. Keras dan menghitam. Memang ada virus badong menggerogotiku tapi setidaknya daunnya bisa kamu manfaatkan. Baik, laksanakan. Pohon pisang berhenti bicara.

Begitu memperhatikan sekitar, tiba-tiba ada lagi suara.

“Kenapa kau biarkan aku mati?” Lho itu kan pohon alpokat. Memang alpokat dan rambutan itu kurang bandel untuk tanaman. Agak manja. Kurang air mati. Tapi kelebihan air juga mati. Hanya pohon mangga yang bandel, banyak yang hidup. Pisang mirip. Hanya akhir- akhir ini ada virus badong yang ganas sekali. Pohon pisangnya tak mati tapi buahnya hitam, gak bisa dimakan. Untung hanya pohon pisang kepok yang terserang virus itu. Pisang kapas, pisang kulit tipis, pisang raja masih kebal.

Tanaman waluh merambat mulai mengering meski akarnya bisa tumbuh di cabang-cabangnya. Ada 3 tanaman waluh ini. Tanaman ini istimewa, meski untuk jangka pendek. Sudah banyak berbakti. Dalam sekitar 2-3 bulan, satu tanaman lebih dari 15 buah besar-besar yang dihasilkan. Sudah dibagi untuk banyak teman dan saudara. Rasanya enak dan menyehatkan. Cukup dikukus saja sudah manis. Terlebih dibuat kolak wow sejuta rasanya hehe Tanaman ini diam saja.

Tanaman almon berbuah banyak dan tumbuh banyak anaknya. Beberapa teman meminta bibitnya. Dia diam saja tak peduli panas.

Lihat sekelilingnya. Pohon duren masih kecil. Pohon kelengkeng berbuah tapi dimakan codot. Hama sekarang tambah lagi tupai. Banyak sekali dan cepat berkembang karena predator alami burung hantu sudah tidak ada. Mungkin punah atau setengah punah diburu orang. Manusia memang kadang tak menyadari keseimbangan alam.

Tak terasa mungkin saya tertidur dan bermimpi atau berhalusinasi.

Adzan magrib barusan berkumandang. Bersautan dari satu masjid ke masjid lain. Angin semilir terasa sejuk. Senja sudah lewat. Langit di Barat berwarna ungu, kuning dan merah jingga. Indah sekali lukisan Tuhan.

Saya menggeliat melepas ketegangan. Melepas kepenatan. Enak sekali tidurnya. Kucing penunggu gazebo dan resto yang tutup mengeong mondar-mandir di dekat saya. Saya bergegas pulang ke rumah mengejar sholat jemaah di masjid Mujahidin, dekat rumah. Tuhan kenapa bisa bahagia?

Tiba-tiba saya ingin mengubah judul cerita ini menjadi Seekor kucing bernama Gazebo. Tapi belum saatnya. Ya seekor kucing putih bercak hitam bernama Gazebo. Sebut saja itu namanya. Saat itu hari Rabu. Ia datang begitu saja. Mengelendot ke kaki kami yang baru bangun gazebo. Mungkin dia kesepian karena ditinggal pemiliknya, yang jaga resto. Jadilah dia penjaga gazebo.
Tiap kami datang dia selalu menyongsongnya.
Berharap makan or minum sekedarnya.
Secuil roti, ikan, ketela atau bakpia.
Dia juga dapat menangkap burung pipit atau cecak atau belalang.
Pernah dia dapat pesta besar.
Ada ikan-ikan nila mati di kolam, kami bakar dan dia tak henti memakan dengan mendengung gembiranya.
Pernah pula sepasang pecinta kucing membelainya.
Tak lupa membagi makanan kripsi enak tentunya
Si Gazebo lahap memakannya sambil tak lupa berdengung.
Kalau sudah kenyang, dia tidur melingkar di sekitar gazebo. Ditemani harum bunga mangga bermekaran.
Tapi ada yang belum bisa dilakukannya.
Mengusir tikus yang makan ketela yang ditanam.
Dan itu harusnya pekerjaan utamanya.
Sejak kapan kucing jadi segan sama tikus ya?

Sunaryo Broto, Beji, 2 Juli 2026

Lihat juga...