Driver Ojek Online

CERPEN

OLEH SUNARYO BROTO

 

Pagi itu Suto bergegas ke Yogya. Dia lawan hawa dingin bulan Agustus yang mbediding. Kalau pagi dingin sekali. Seperti biasa dia naik ojek aplikasi sekitar Rp27rb sampai Stasiun Palur, lewat pintu Timur. Suto sudah lama tidak bawa mobil ke Yogya kalau pergi sendirian. Ribet, Yogya sudah padat dengan banyak motor. Jalan masuk komplek banyak polisi tidur. Belum kalau nyari parkir. Biayanya juga banyak. Untuk bensin pertamak harganya sudah naik banyak, Rp16 ribuan per liter. Belum biaya tol. Kalau anak sekarang bilang, tidak worth it. Gak cucuk.

Dia bergegas mengejar kereta pagi supaya tidak kedahuluan dengan tamunya di Yogya yang akan datang jam 10-11. Suto sudah janjian serah terima kunci kost untuk penghuni baru. Kegiatannya setelah pensiun dia mengurus kost beberapa kamar di daerah utara Yogya. Dekat kampus ternama.

Untung rumahnya dekat Stasiun Palur. Dia bisa dapat tempat duduk kereta KRL karena itu stasiun tempat pertama berangkat. Sekarang kereta KRL menjadi favorit orang bepergian karena praktis dan murah. Hanya Rp 8 ribuan sudah sampai Yogya. Kalau Sabtu Minggu lebih padat lagi karena banyak pelajar TK, SD piknik ke Yogya rombongan. Kereta lebih banyak penumpangnya. Orang bepergian dari Stasiun Balapan sudah susah mendapat tempat duduk. Beberapa penumpang sengaja mencuri start dengan ikut kereta ke Stasiun Palur. Kalau naik dari Stasiun Kartosuro dipastikan sudah tidak dapat tempat duduk. Capek, lansia harus berdiri sekitar 1 jam.

Suto kadang mengamati penumpang yang duduk. Hampir semuanya asyik dengan HP nya. Hanya satu dua orang yang tidak pegang HP tetapi tidur atau bersandar santai. Jarang sekali orang ngobrol. Kereta lancar dan tepat waktu. Melaju melewati kota. Rumah- rumah padat berjejer. Sampai Delanggu, Klaten pemandangan sudah hijau. Banyak sawah- sawah. Sampai Stasiun Brambanan (bukan Prambanan) penumpang mulai berkurang. Sampai stasiun Lempuyangan, Suto turun. Lebih praktis turun di Lempuyangan dari pada Stasiun Tugu. Dekat cari ojek. Suto turun lalu pesan ojek via aplikasi dan chat driver janjian di bawah fly over Timur. Begitu sudah biasa dia jalani.

Sampai di kost Pogung, dia ke kamarnya di lantai 2. Istirahat sebentar lalu bersih-bersih kamar yang mau ditempati. Ada 2 kamar yang disiapkan untuk 2 penghuni baru.

Dia sudah sering membersihkan kamar kost sendiri. Mau hire orang nanggung karena hanya 9 kamar. Dulu ada yang urus tetapi mendadak meninggal sudah setahun ini. Mau tak mau Suto harus handle sendiri urus kost. Kalau kerjaan bersih-bersih banyak dan ada yang perlu perbaikan, dia mengajak tukang dari rumah.

Dia temui penghuni kost baru dari Semarang. Dia datang diantar ibunya. Ibunya langsung bersihkan kamar dan penguni baru mengangkut barang dari kost lama. Ternyata dia pindahan.

Suto menginap semalam di kost karena masih menunggu kedatangan penghuni baru besok pagi. Bulan Agustus itu bulan pergantian tahun ajaran baru. Biasanya banyak yang pindah kost atau mahasiswa baru.

Selesai tugas di kost, masih ada waktu luang sedikit sebelum pulang. Dia ingin melihat pameran lukisan terakhir dari Nasirun, pelukis terkenal Yogya yang barusan meninggal mendadak. Banyak orang merasa kehilangan karena Nasirun dikenal sebagai pelukis yang baikan, suka membantu teman. Dia tidak bisa melayat karena posisinya tidak di Yogya. Suto bukan teman dekat atau cicle seniman tetapi kenal dan pernah berkunjung ke rumahnya.

Dia menuju Pendhapa Art Space di daerah ring road Selatan dengan naik ojek on line, andalan transportasi saat ini. Dia nikmati pameran lukisan bertajuk Arundhati bersama pematung Dumadi. Banyak patung dan relief Soekarno-Hatta. Ternyata Dumadi yang juga pemilik Pendhapa Art Space dikenal sebagai pembuat patung Soekarno. Sudah 15 kali dibuatnya.

Lukisan Nasirun seperti biasa bergaya surealis, mistis, dengan simbol-simbol mitologi, wayang, profilnya, malaikat, bumi dengan dipenuhi banyak hiasan sulur-sulur dan tulisan. Cenderung agak gelap. Lukisan sangat besar ukuran 14 x 2 m menyita ruangan. Berisi berita, gambar para pelaku seni korban covid 19 tahun 2020-2022. Termasuk dalang Seno Nugroho, penyair Joko Pinurbo, penyanyi Glenn Fredly.

Ada yang menarik dalam suatu ruangan bertajuk uwuh seni. Ada 360 kertas undangan berbagai pameran lukisan direspon dengan lukisan dan coret-coret ala Nasirun. Dibingkai dan disusun menarik. Juga cap dan stempel dikreasikan menjadi menarik. Memang seniman kreatif. Dulu, waktu Suto berkunjung ke rumah studionya, ditunjuki lukisan model ini yang banyak dipajang di dinding rumahnya. Ada juga ruangan yang didedikasikan untuk pelukis Affandi. Nasirun mengidolakan Affandi dan punya koleksi banyak sketsa kertas Affandi. Sketsanya ada yang di buku tulis bergaris.

Mengasyikkan. Waktu berjalan cepat. Tak banyak pengunjung pameran. Selesai melihat pameran, dia pulang naik ojek on line lagi ke Stasiun Tugu karena jaraknya dekat. Seperti biasa dia pesan via HP dan langsung bonceng motor.

Sampai Stasiun Tugu pintu Selatan, tak disangka, mas driver ojek mengenalinya.
“Bapak yang kemarin naik dari Lempuyangan ke Pogung?” Tanyanya.
“Betul.”
“Bapak yang kelupaan helm dan topinya”.
“Lho kok tahu…”
“Saya yang antar kemarin.”

Wah baru sekali ini saya diantar ojek yang sama meski tidak janjian. Hanya kebetulan.

Suto lalu bertanya tanya, “Namanya siapa tadi?”
“Haryono”
“Ya trims Pak Haryono. Ini ada sesuatu untuk makan siang,” spontan disodorkan selembar uang yang ada di dompetnya. Mas ojek sangat berterima kasih dan membungkuk hormat sambil mengingatkan helm yang masih dipakai.
“Mudah-mudahan ketemu lagi ke tiga kalinya nanti. Kita bisa mengobrol sambil makan-makan hehe…”.

Tujuh hari meninggalnya Nasirun, Suto mendapat undangan untuk tahlilan dan doa bersama. Dia merasa terhormat diundang tahlilan. Memang bukan ke pribadi tetapi ke group WAG proyek kebudayaan sebuah perusahaan yang dibuat 4 tahun lalu tetapi group itu masih aktif. Suto salah satu membernya. Nasirun memang tak ikut di WAG HP tetapi diwakili sama putri tertuanya mbak Ima Bunga. Karena ada waktu dan merasa terkenang atas kebaikan almarhum, dia ke Yogya.

Sore itu, Suto naik dari Palur dan turun di Stasiun Tugu karena lebih dekat ke arah rumah Nasirun di komplek Bayeman Jl. Wates. Dia mencari ojek lewat aplikasi dan sekitar 5 menit sudah dapat. Meluncurlah ke arah Jl. Wates.

Di tengah jalan sopir bertanya, “Apa bapak yang kemarin dari ring road Selatan ke Stasiun Tugu?”
“Lho kok tahu?”
“Saya Haryono, yang mengantar bapak kemarin.”

Masya Allah. Suto kaget dan tertegun. Bisa-bisanya sampai tiga kali bertemu dengan driver ojek tanpa janjian di tempat berbeda tetapi masih satu kota. Ini masih sore dan tahlilan biasanya habus Isya. Masih ada waktu sebelum acara tahlilan.

Spontan Suto ingin berbuat kebaikan. Kata seorang teman, “Kalau ingin berbuat baik jangan banyak dipikir.” Langsung saja. Ingin juga meniru alm Nasirun yang banyak berbuat baik pada orang lain.

“Pak Haryono ada waktu untuk sekedar mengobrol sambil makan minum?”
“Bisa pak,” jawabnya cepat.
“Cari cafe yang enak sekitar jalan ke arah Jl. Wates.”

Sore itu Suto menikmati senja di sebuah cafe daerah Yogya Barat bersama seseorang yang baru dikenalnya. Mengobrolah di cafe itu. Pak Haryono ternyata pekerja keras. Dia tinggal di pinggiran Yogya. Anaknya 3 masih sekolah semua. Istrinya bekerja di usaha laundry. Dia mengojek dari pagi sampai capek. Kadang sampai malam. Setiap hari. Tak ada hari libur. Luar biasa potret pekerja yang pantang menyerah pada nasib. Harus berjuang. Suto selalu respek pada orang yang bekerja keras. Dia respek pada P Haryono. Tuhan tidak salah mempertemukannya. Dengan cara yang tidak biasa.

Habis Isya Suto sudah terlarut di rumah Nasirun alm. Lantunan kalam Allah menghias malam itu. Mengiringi hiasan banyak lukisan di dinding rumah Nasirun alm. Terutama lukisan Jeihan dengan wajah figuratif Nasirun bermata gelap.

Seusai tahlilan, para tokoh seniman bercerita pengalaman dengan almarhum yang unik dan lucu. Banyak menolong sesama teman sesuai arti kata namanya, nasir, penolong. Juga saat-saat menjelang akhir. Ternyata pameran terakhir Arundhati itu juga isyarat dari almarhum dengan memberi sub judul, seniku mohon maaf lahir batin. Ini bukan bulan Syawal tetapi kenapa harus ada kata maaf lahir batin. Itu cara pamitan yang elegan. (Sunaryo Broto, Beji, 10-11 Agustus 2026)

(Penulis, pensiunan yang suka sastra dan melukis, tinggal di Karanganyar, Solo)

Lihat juga...