Seekor anak anjing berbulu coklat kayu lari dari arah suatu gang. Tubuhnya basah dan berbau comberan. Anak anjing sebesar balita itu menerobos masuk ke suatu rumah mewah yang berada di Gang Bahagia.
Hari masih pagi dan pintu rumah itu sengaja dibuka. Anjing itu menabrak gerumbulan bunga, memecahkan porselen-porselen, dan menumpahkan hidangan yang sudah tersaji rapi di atas meja makan.
Pak Toto si pemilik rumah seketika geram dan meraung-raung mengetahui seekor binatang yang dianggapnya najis memasuki rumah bagusnya seolah tamu istimewa.
Ia berteriak memanggil satpam dan tukang kebun. Kedua pekerja di rumah itu cepat-cepat menuruti panggilan Pak Toto. Mereka sudah tahu akibatnya kalau terlambat sedikit saja.
Mereka bisa dimarahi habis-habisan atau lebih dari itu gaji mereka dipotong secara semena-mena.
“Kenapa kalian biarkan anjing buduk ini masuk ke rumah saya?” Pak Toto langsung menyembur satpam dan tukang kebun begitu keduanya tiba.
“Maaf, kami tidak tahu, Pak,” ujar satpam dan tukang kebun kompak.
“Cepat kalian keluarkan anjing itu. Saya tidak mau rumah ini menjadi najis karena hewan sialan!”
Satpam dan tukang kebun bergerak cepat seperti seorang prajurit perang yang diultimatum akan dihukum setrap seharian oleh komandan mereka. Anak anjing itu begitu lincah.
Ia berlarian ke mana-mana tanpa mengacuhkan harga benda-benda yang ada dalam ruangan-ruangan rumah Pak Toto. Ditabraknya guci-guci bermotif bunga, diseruduknya patung-patung tokoh terkenal, dicabiknya lukisan-lukisan Affandi, dan dicakar-cakarnya tirai sutera yang alangkah halusnya.
Anjing itu tak memedulikan apa-apa dan hanya dalam waktu beberapa menit ia sudah memorak-porandakan jerih payah Pak Toto selama bertahun-tahun.
Satpam dan tukang kebun terus mengejar anak anjing itu. Mereka mengejarnya ke ruang-ruang kamar, halaman depan, halaman belakang, ke seluruh penjuru rumah.
Namun, alih-alih meringkus si anjing, keduanya malah membuat anak anjing itu makin menjadi-jadi. Sudah tak terhitung berapa banyak barang rusak dibuat anjing kecil itu. Sementara itu, dari arah tak jauh-jauh amat, Pak Toto memperhatikan kelakuan destruktif si anjing dengan sepenuh nestapa.
Ia memegangi kepala separuh botaknya sambil melolong seperti anjing gila. Satpam dan tukang kebun kewalahan. Mereka tak bisa menangkap anjing itu.
Anjing itu memang sudah keluar dari area rumah. Walau berbadan mungil, anjing itu cerdik belaka, sempat-sempatnya ia menggondol sebuah kalung mutiara sebelum menghilang di balik sebuah tikungan.
Kehebohan di Gang Bahagia pada hari itu belum berakhir. Tak berapa lama setelah menghilang, anak anjing itu muncul kembali di depan rumah Ustaz Gustam. Kali ini ia tampak seperti anak baik-baik.
Tak banyak gerak dan berkelojotan ke sana ke mari seperti saat memasuki rumah Pak Toto. Ia berdiam di depan pagar rumah Ustaz Gustam seperti menunggu belas kasihan. Gonggongannya lemah dan terdengar sesekali layaknya anjing yang tak makan berhari-hari.
Dalam hitungan tak lebih dari sepuluh menit, keluarlah Ustaz Gustam dari rumahnya. Itu hari Minggu yang cerah dan Ustaz Gustam kedapatan jadwal mengisi pengajian di suatu masjid di tengah kota.
Baru saja ia menuntun sepeda motornya keluar pagar, Ustaz Gustam terperanjat bukan main. Refleks ia mengucap istigfar dan memundurkan tubuhnya sampai-sampai motornya hampir jatuh.
Anak anjing itu menggonggong-gonggong kian sering begitu mendapati Ustaz Gustam muncul. Namun, tak seperti si anjing yang tampak antusias, Ustaz Gustam terganggu dengan kehadiran si makhluk berbulu basah itu.
Ia sangat membenci anjing. Selain lantaran hewan itu merupakan salah satu di antara hewan-hewan kotor yang mesti dijauhi—menurut yang ia pahami dalam kitab-kitab yang dibacanya—Ustaz Gustam punya kenangan buruk dengan seekor anjing.
Suatu hari ketika umurnya tujuh atau delapan, ia berangkat mengaji sendirian selepas Magrib. Itu pertama kalinya ia berangkat mengaji seorang diri. Biasanya pastilah ada satu-dua kawan yang menemaninya.
Pada hari gelap dan agak sejuk itu, takut-takut Ustaz Gustam kecil melintasi jalan. Semakin jauh langkahnya, semakin berdentam-dentam dadanya.
Ketika pada langkah kesekian tiba-tiba ia menjumpai seekor anjing hitam besar muncul dan menyalak keras kepadanya, jantung Ustaz Gustam kecil nyaris copot.
Ia menangis ketakutan dan berlari tunggang-langgang kembali ke rumah dengan celana basah di bagian selangkangan.
Anjing itu terus menggonggong seolah sedang menyapa Ustaz Gustam. Ustaz Gustam mempertimbangkan langkah apa mesti ia ambil. Dengan syak wasangka buruk atas hewan itu ditambah sejumput kenangan buruk masa kecil, ia pergi ke gudang dan mengambil tongkat besi dari kotak perkakas.
“Hei anjing kecil! Kau pergi dari tempat ini atau saya hantamkan tongkat ini ke kepalamu,” kata Ustaz Gustam sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkat besinya. Sorot matanya menandakan gabungan antara perasaan takut dan dendam meluap-luap.
Anjing itu tak mengubah sedikit pun sikapnya. Ia malah mengulang-ulang dan memperbanyak gonggongannya seakan ingin mengajak Ustaz Gustam bercakap-cakap.
“Menyingkir kau hewan najis! Saya ada keperluan untuk umat. Jangan sampai keberadaanmu di tempat ini membuat saya terhalangi untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama. Jadi, menyingkirlah,” kata Ustaz Gustam dengan sorot mata kian tajam.
Anjing itu tak peduli. Ia malah berusaha mendekati Ustaz Gustam dengan melompatinya seperti seorang anak yang merindukan ayahnya. Ketika anjing itu melompat, Ustaz Gustam melayangkan tongkatnya.
Tapi, karena terburu-buru dan tampaknya tak punya bakat dalam pukul-memukul tongkat, tongkat itu tak mengenai si anjing, alih-alih tongkat itu terlempar jauh ke jalanan.
Anjing itu menghindar, meloncat sekali lagi, dan berhasil mendekap gamis putih Ustaz Gustam. Kalaplah Ustaz Gustam dibuatnya. Sebab, gamis itu seketika menjadi kotor dan berbau.
Dengan memekikkan kalimat-kalimat tertentu, Ustaz Gustam berusaha menyerang anjing itu. Ia mengejarnya dan berhasrat menghajarnya. Namun, anjing itu berlari terlalu cepat, sangat cepat.
Ustaz Gustam ngos-ngosan. “Dasar anjing,” katanya pelan takut didengar orang sambil menyaksikan si anjing menghilang di balik sebuah tikungan.
Pada sisa hari, anak anjing itu masih terus berkeliaran dan berlarian sebelum ia memutuskan berhenti di depan rumah seorang polisi. Polisi pemilik rumah itu bernama Darman.
Orang-orang memanggilnya “Pak Darman”, ada pula yang memanggilnya “Pak Polisi Darman”. Namun, tak serupa orang-orang itu, si anjing yang kini sudah duduk tegak di depan rumah dua lantai yang sangat besar itu, memanggil Pak Darman atau Pak Polisi Darman dengan “guk guk guk” berulang kali dan tanpa sopan santun.
Pak Darman sedang libur hari itu. Ia sedang bersantai membaca koran di teras rumah. Ketenangannya terusik saat suara gonggongan berkali-kali menyentuh gendang telinganya.
Mulanya ia ingin mengabaikan gonggongan tersebut dan menganggapnya keributan seekor anjing liar belaka. Tapi, menit-menit berlalu dan gonggongan itu tak juga usai.
Tak sabar, ia melipat koran, mengenakan sandal kulit berharga jutaan, dan membuka gerbang rumah dengan kegagahan seorang polisi.
Tampaklah di hadapan Pak Darman seekor anak anjing jelek, berbulu kotor, dan beraroma got tengah menggonggong-gonggong tiada henti. Anjing itu menyeringai memamerkan gigi-giginya yang basah dan menjijikkan ke hadapan Pak Darman.
Tak sampai situ, si anjing kian berani dan percaya diri. Bukan hanya menggonggong dan menyeringai, ia membelakangi Pak Darman yang diam saja seperti manekin dan memperlihatkan bokong kecil dan hitamnya.
Merasa diejek dan direndahkan kehormatannya, Pak Darman berusaha menyepak anjing itu. Tapi, anjing itu mahir sekali dalam seni hindar-menghindar.
Dari jarak sedikit jauh, sekali lagi ia pamerkan bokongnya kepada Pak Darman beserta gonggongannya yang kian lama terasa seperti ejekan brutal.
Pak Darman berusaha terlihat kalem. Ia meninggalkan anjing itu. Ia beranjak ke dalam rumah. Ia menuju ke suatu ruangan khusus berisi senjata-senjata yang diselundupkannya.
Diambilnya sepucuk senapan yang baru dirampasnya dari seorang tahanan pemberontak. Ia melangkah lambat-lambat menuju halaman rumah, membuka gerbang, dan memandangi si anjing yang belum beranjak dengan pandangan seorang yang memendam hasrat membunuh di dalam diri.
Ia mulai membidik. Anjing itu masih menggonggong dan pamer bokong. Ia mulai menarik picu. Anjing itu menggonggong lebih keras dan memamerkan bokongnya lebih terang-terangan.
Sore mendadak panas dan dilingkupi hawa kematian. Burung-burung gereja yang sedang bertengger di dahan cemara seberang rumah Pak Darman beterbangan menjauh.
Seekor anak kucing mundur dan bersembunyi di sudut tiang listrik. Dari balik gang tak jauh dari rumah Pak Darman, gegas langkah terdengar berderap.
Beberapa detik setelah keheningan yang mencekam, suara letusan memecahkan kesunyian sore di Gang Bahagia. Pak Darman melepas napas panjang. Sementara di hadapannya, sesosok tubuh terluka di bagian punggung dengan darah bercucuran.
Namun, sosok yang tertembak senapan Pak Darman itu bukanlah si anak anjing. Ia adalah jasad Santo Aji, seorang pemuda kurang waras yang biasa hilir-mudik di Gang Bahagia. Sedangkan anjing itu berada di dekapan Santo Aji.
Dan memanglah Santo Aji dan anjing itu adalah sepasang kawan akrab. Sepasang makhluk yang dibenci dan dijauhi sesisi penduduk Gang Bahagia.
Tubuh Santo Aji lunglai. Ia sudah mati. Si anjing menggonggong-gonggong lemah, lemah sekali, seperti sebuah ratapan tak tertahankan.
Sementara dari rumah-rumah, orang-orang bermunculan. Pak Toto, Ustaz Gustam, dan para penghuni Gang Bahagia lainnya.
“Apa anak anjing ini perlu saya tembak juga?” kata Pak Darman kepada orang-orang yang berkerumun.
Mereka hanya menggidikkan bahu. Si anjing masih menggonggong lemah sambil menggoyang-goyang jasad Santo Aji.
Pak Darman bersiap menarik pelatuk senapannya sekali lagi. Sore itu udara kian panas, sangat panas, udara terpanas yang barangkali pernah ada di Gang Bahagia. ***
Erwin Setia lahir tahun 1998. Menulis cerpen dan esai. Ia menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Jawa Barat. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.