Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 12/08/2026
China menghadapi lawan yang tidak dapat ditundukkan dengan rudal, tarif, atau kapal perang. Ialah Demografi.
Persoalannya bukan sekadar penduduk yang berkurang. Melainkan menyusutnya basis manusia yang menopang pertumbuhan ekonomi dan kekuatan negara.
Pada 2025, populasi RRC turun 3,39 juta menjadi sekitar 1,405 miliar. Kelahiran hanya 7,92 juta, sementara kematian mencapai 11,31 juta. Sekitar 23 persen penduduk telah berusia 60 tahun atau lebih.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memproyeksikan China dapat kehilangan sekitar 786 juta penduduk hingga 2100. Lebih dari separuh populasinya sekarang.
Secara ekonomi, mekanismenya jelas.
China selama beberapa dekade menikmati demographic dividend. Ialah proporsi penduduk usia kerja lebih besar dibandingkan anak-anak dan lansia. Banyak penduduk usia kerja menopang produksi, tabungan dan investasi.
Kini dividend itu berbalik menjadi demographic drag. Ialah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi akibat menyusutnya penduduk usia kerja dan meningkatnya proporsi penduduk tanggungan, terutama lansia.
Dalam teori pertumbuhan, output ditentukan oleh modal, tenaga kerja dan produktivitas. Ketika tenaga kerja menyusut, pertumbuhan potensial ikut tertekan kecuali akumulasi modal dan produktivitas meningkat cukup cepat. Tenaga kerja menyusut, sementara biaya pensiun dan kesehatan meningkat.
IMF memperkirakan penuaan penduduk saja dapat mengurangi laju pertumbuhan ekonomi China sekitar dua poin persentase per tahun pada 2024–2050 dalam salah satu skenarionya.
Namun demografi bukan takdir final. China memiliki satu senjata yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: AI, robotika dan otomasi.
Jika satu pekerja dengan AI dan robot mampu menghasilkan output beberapa pekerja sebelumnya, penyusutan tenaga kerja dapat dikompensasi oleh kenaikan produktivitas. Secara teoritik, inilah productivity compensation: ketika kuantitas faktor produksi turun, kenaikan produktivitas faktor dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan output.
China memiliki posisi strategis untuk mencoba hal ini. Basis manufaktur terbesar dunia, industri robotik yang berkembang cepat, serta kapasitas besar dalam kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan dan infrastruktur.
Tetapi robot tidak menyelesaikan seluruh persoalan. Robot tidak melahirkan generasi baru, tidak menjadi konsumen, dan tidak membayar pajak.
Karena itu, China menghadapi dua masalah sekaligus. Supply shock akibat berkurangnya pekerja dan demand shock akibat masyarakat yang menua.
Di sinilah demografi bertemu dengan pertarungan Amerika Serikat–China.
AS memasuki persaingan dengan keunggulan relatif dalam demografi Hal itu dikarenakan imigrasi, sekaligus posisi kuat dalam AI, semikonduktor, modal dan universitas.
China harus membiayai perlombaan yang sama sambil menghadapi pensiun, kesehatan dan tenaga kerja yang menyusut. Jika pertumbuhan produktivitas gagal mengejar penurunan tenaga kerja, sebagian sumber daya nasional akan bergeser dari ekspansi teknologi dan militer untuk menopang masyarakat yang menua.
Sebaliknya, jika Beijing berhasil mengubah AI dan robot menjadi “tenaga kerja sintetis”, China dapat mempertahankan kekuatan ekonomi meskipun penduduknya jauh lebih sedikit.
Karena itu, pertarungan AS–RRC pada 2035–2050 pada hakikatnya adalah perlombaan melawan waktu. Amerika memiliki lebih banyak waktu demografis; China memiliki kebutuhan lebih besar untuk mengotomatisasi.
Pertanyaan penentunya bukan apakah China akan menjadi tua. Itu hampir pasti.
Pertanyaannya: apakah China dapat menjadi cukup produktif sebelum menjadi terlalu tua?
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.