Memang menyakitkan menjadi perawan tua, tapi jika untuk melepas sebutan itu aku harus menikahi duda beranak dua, maka lebih baik aku jadi perawan tua.
Ibu kerap mendesak-desak supaya aku lekas menikah. Dia tak ingin aku menjadi perawan tua. Dia juga tak mau aku hidup melarat sepertinya.
Selama ini ibu selalu mendengarkan apa kata orang-orang. Akan tetapi, di saat dia mengalami kesulitan, tak ada orang yang bersedia memberinya pertolongan.
Dulu sewaktu bapak masih bekerja sebagai tukang patri orang-orang menggunjingnya setiap hari lantaran penghasilan yang didapat hanya bisa untuk makan sekali.
Mereka berbicara dengan mata yang menyala-nyala dan mulut berbusa-busa. Mendengar yang mereka katakan, hati ibu serasa dipanggang: mungkin lebih panas ketimbang matahari pagi yang menyengat tubuhnya setiap menggarap sawah juragan Basri.
“Aku rela berpayah-payahan kepanasan, sementara kau hanya berkeliling tanpa uang ketika pulang?” ucap ibu ketus.
Bapak baru saja sampai rumah. Kaus yang dikenakannya tampak jenuh keringat.
“Carilah pekerjaan lain! Atau ikutlah kami! Pasti ada yang bisa dikerjakan di musim tanam!”
Bapak masih tak menggubris perkataan perempuan yang menggelung rambutnya sejajar dengan telinganya itu. Dia terlihat sibuk mengangkut beberapa barang dari sepeda motor untuk dibawa ke gudang.
“Hei, apa kau ingin aku dan Sekar terus-terusan makan sambal? Oh, itu pun hasil upah tanam padi yang kusimpan di kaleng lemari.”
Bapak menghentikan langkahnya sejenak, lantas menatap ibu lekat-lekat, “Kau ingin aku ikut-ikutan bermulut pisau seperti mereka?”
“Apa maksudmu?”
“Apa lagi julukan untuk orang yang suka menggunjing orang lain seperti mereka?”
“Mereka berbicara benar, lantas apa salahnya?”
“Terserah! Aku lelah. Kau lebih mendengar mereka ketimbang suamimu sendiri.”Dada bapak berguncang, dengan langkah cepat dia berlalu meninggalkan kami di beranda rumah.
Dua hari sesudahnya—menyadari dompetnya tak lagi terisi, juga jengah dihujani omelan ibu berhari-hari—bermodalkan kendaraan roda dua keluaran tahun 2000-an, bapak menjajal pekerjaan lain menjadi tukang ojek atas anjuran salah satu saudara kami.
Namun, alih-alih menyuguhkan selembar rupiah ketika sampai rumah, dia malah menunjukkan tangan yang lebam akibat pukulan beberapa orang. Mereka tidak terima apabila bapak turut memasuki kawasan pangkalan ojeknya.
Dan bukannya disambut senyuman hangat, ibu malah memaki-maki dengan amarah yang menjadi-jadi. Mereka pun beradu mulut—sebagaimana yang biasa terjadi sebelumnya—apabila sudah begitu, maka seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.
Mereka lupa jika ada aku di antara mereka. Jika sudah lupa, maka kewarasan pun bisa sirna: mereka bisa seperti orang gila, bahkan barangkali orang gila lebih sopan ketimbang mereka.
Bapak suka sekali menghantam meja, merobohkan kipas, menendang sapu, juga membanting pintu. Sedangkan ibu—seolah tak mau kalah—akan menghamburkan semua barang-barang yang ada di sekitarnya.
Sesekali kertas-kertas diremasnya kuat-kuat lalu dibuang, lalu bumbu-bumbu dapur ditumpahkan, gelas-piring dipecahkan, hingga ponsel berharganya dilempar sembarangan.
Suara bapak yang tinggi akan dibalas lengkingan ibu yang membuat cicak-cicak tunggang langgang bersembunyi di balik dipan. Pada waktu itu aku berusia sebelas.
Aku mendadak belajar menjadi orang dewasa agar tak menangis: aku pun tak menangis. Akan tetapi, di suatu kali, di kala senja masih menurunkan gerimis yang dingin, seorang lelaki tambun dengan baju biru kekecilan datang ke rumah kami.
Dia mengabarkan jika bapak telah ditemukan jatuh dari sepeda motor di pinggir jembatan. Aku tak kuasa menahan tangis waktu itu. Ibu pun turut menangis, air matanya lebih deras lagi. Dia sesenggukan, meraung-raung hingga tak mau makan.
Bapak telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Dia bahkan belum sempat berpamitan pada kami di pagi sebelum keberangkatannya.
Kian hari mata ibu tampak cekung. Tubuhnya kurus dan punggungnya semakin membungkuk. Aku sedih bila melihat ibu sedih. Tapi apa yang bisa kulakukan sebagai anak kecil? Aku tidak mahir menghibur ibu, justru aku butuh sentuhan kasih untuk mendamaikan jiwaku.
Peristiwa yang terjadi pada masa itu bagaikan inai yang tergurat di tangan, sampai kini masih melekat di ingatan. Karena itulah, sekarang di usiaku yang sudah berkepala tiga, di saat teman-temanku pada menggendong bocah, aku masih asyik membuat kue basah.
Kupikir tidak gampang memutuskan hidup bersama orang lain—bahkan kendati pun saling mencintai—seperti bapak dan ibuku; mereka mengaku saling mencintai namun seringkali berkelahi.
“Cinta akan tercipta jika kalian sudah hidup bersama.” Sambil melangkah pelan-pelan, ibu mendekatiku yang tengah membungkus adonan nagasari dengan daun pisang.
“Lihat fotonya sekali lagi! Meski duda, dia itu tampan dan dermawan. Jangan risaukan anak-anaknya! Di sana sudah ada pengasuhnya.”
“Kenapa bukan Ibu saja yang menikah dengannya?” sahutku kesal. Aku benar-benar benci dipaksa menikah hanya karena harta.
“Jaga ucapanmu! Mana mungkin aku bersuami lelaki sepantaran denganmu?”
“Kenapa, Bu? Nabi Muhammad juga lebih muda dibanding Siti Khadijah.”
“Berhati-hatilah kalau bicara. Apa kata Bapakmu di alam sana?”
“Bukankah selama ini Ibu tak pernah peduli Bapak?”Seketika ibu terdiam. Kepalanya merunduk dan bibirnya ditekuk.
“Kenapa aku harus berkaca dengan kehidupan Ibu? Jika suamiku orang tak punya, bukan berarti aku akan sengsara.”
Ibu mengembuskan napas geram. Ini sudah ke sekian kalinya dia membujukku. Sementara aku masih tetap pada pendirianku. Terdengar dia sempat mengumpat saat berlalu dariku. Lantas masuk kamar dan menutup pintu kasar. Membuat papan dinding dari bambu itu turut bergetar.
Sebetulnya aku tak ingin menyakiti hati perempuan yang telah melahirkanku itu. Tapi aku juga tak mau menjadi Siti Nurbaya yang malang. Menikah bukanlah berdagang kue yang bisa dibayar dengan uang. Jadi, kupikir tindakanku sudah benar.
Semenjak kejadian itu, ibu tak lagi mengajakku berbicara. Akan tetapi aku masih mengantarnya ke sawah setiap hari.
Ternyata mendengar makian ibu berkali-kali lebih baik ketimbang didiamkannya berhari-hari. Dan kini genap ketiga harinya kami tak saling bertegur sapa.
Aku jadi teringat kata guruku di kala berseragam putih-biru, bahwa tidak baik tidak saling bertegur sapa dengan orang lain lebih dari tiga hari. Aku ingin menjadi anak yang baik, maka aku mencoba mengajak ibu berbicara.
Dan di pagi ini, di kala dia sudah siap kuantar ke sawah, aku bertekad mengajaknya berbincang-bincang selama di perjalanan. Namun melihat wajah ibu yang selalu murung itu, lidahku serasa diikat tambang raksasa: aku masih tak mampu mengucap kata-kata.
Sementara tempat tujuan semakin dekat. Sudah tampak beberapa perempuan mengenakan baju panjang berwarna pudar dan menutupkan caping di atas kepalanya. Mereka sedang sarapan sebelum menerjunkan kaki ke hamparan tanah berlumpur.
Ketika roda sepeda motorku berhenti tepat di bawah pohon pepaya yang setinggi perawakan tubuhku, kudengar para perempuan paruh baya itu tengah membicarakan seseorang. Kemudian begitu menyadari kedatanganku, seorang ibu berkerudung biru langsung menyerudukku dengan pertanyaan.
“Apa kau juga dengar kabar tentang Pak Romi?”
“Pak Romi?” Sejurus kemudian semua mata tertuju padaku, sedang menanti jawaban yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu.
“Iya, guru SMP itu. Katanya dia selingkuh dengan mantan muridnya,” kata ibu berkerudung biru lagi, “Katanya juga sudah lima murid yang diajaknya kencan.”
Dalam hati aku terheran-heran. Apa pun berita yang terjadi di kampung ini, kenapa begitu cepat melesat ke telinga mereka?
Aku saja yang kerap menitipkan kue ke kantin sekolah yang diampu Pak Romi tak mendengar apa-apa tentangnya. Tentu saja aku langsung menggelengkan kepala.
“Laki-laki itu kalau udah bergelimang harta suka lupa asal. Main wanita sana-sini seenaknya sendiri,” tutur ibu berkerudung hijau, sedangkan ibu-ibu yang lain turut menambahkan kalimat serupa.
Semua serentak membicarakan Pak Romi. Tak lama kemudian, mereka juga membicarakan lelaki kaya lainnya yang, katanya, punya tabiat sama.
Mereka terus berbicara dengan mata yang menyala-nyala dan mulut berbusa-busa. Seperti suara ringtone ponsel yang berbunyi: semakin panjang berdering, semakin nyaring.
Sementara kulihat wajah ibu mendadak memerah karenanya. Semakin merah, teramat merah. Kubayangkan pemandangan itu bertahan di sana lebih lama. Sangat lama.
Mungkinkah aku akan jadi perawan tua selamanya? ***
Prima Yuanita, seorang ibu rumah tangga yang berkeinginan menjadi guru mengaji. Peraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik PKK tahun 2020 tingkat Provinsi Jawa Tengah.