“Ibu dan Anak” Pelukan Diam yang Menjaga Kehidupan
YOGYAKARTA — Tri Suharyanto menghadirkan kisah tentang kasih sayang melalui sebuah patung resin berjudul Ibu dan Anak dalam pameran seni rupa Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan. Karya berukuran 63 x 35 x 50 sentimeter itu tampil sederhana, tetapi menyimpan pesan mendalam mengenai relasi yang menjadi awal dari setiap kehidupan.
Patung tersebut menampilkan sosok induk babi dan anaknya dalam komposisi yang saling merangkul secara visual. Bentuk tubuh yang membulat menghadirkan kesan hangat sekaligus menenangkan. Pengunjung yang memandangnya seolah diajak memasuki ruang sunyi yang dipenuhi rasa aman dan perlindungan.
Tri Suharyanto memilih figur babi sebagai simbol kehidupan yang terus bertumbuh. Berbagai tradisi memaknai hewan tersebut sebagai lambang kesuburan, daya tahan, dan keberlanjutan generasi. Simbol itu kemudian diterjemahkan sang seniman menjadi refleksi mengenai perjalanan hidup yang selalu bergerak dari satu generasi menuju generasi berikutnya.

Sosok induk dalam karya ini memancarkan keteduhan melalui gestur yang mengarah kepada anaknya. Kehadiran figur tersebut menghadirkan makna perlindungan tanpa perlu menunjukkan kekuasaan. Kelembutan justru menjadi sumber kekuatan yang menjaga kehidupan tetap tumbuh.
Figur anak yang berada di dekat sang induk melambangkan harapan dan masa depan. Kedekatan keduanya menciptakan narasi tentang hubungan yang tidak sekadar biologis, tetapi juga emosional. Kehidupan memperoleh kesempatan untuk berkembang karena adanya perhatian yang diberikan tanpa syarat.
Tri Suharyanto membangun komposisi karya secara harmonis. Tubuh induk dan anak saling melengkapi tanpa ada bentuk yang mendominasi. Lengkungan-lengkungan organik menciptakan alur visual yang mengingatkan pada siklus kehidupan, mulai dari kelahiran, pertumbuhan, perlindungan, hingga lahirnya generasi baru.
Pesan yang disampaikan karya ini terasa relevan dengan kehidupan masa kini. Kesibukan, kompetisi, dan percepatan teknologi sering kali membuat manusia melupakan nilai-nilai dasar yang justru menopang keberlangsungan hidup. Perhatian, pengorbanan, dan kasih sayang tetap menjadi energi utama yang menjaga manusia bertahan dalam berbagai keadaan.
Karya Ibu dan Anak mengajak publik untuk kembali menghargai relasi yang penuh ketulusan. Masa depan tidak lahir semata-mata dari kecanggihan dan kekuatan, melainkan tumbuh dari tangan-tangan yang merawat serta hati yang bersedia menjaga.
Pameran Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan berlangsung dalam rangka Grand Opening Ary’s Wabi Sabi Co & Cafe di Ary’s Wabi Sabi Co & Cafe, Ary’s Garden Hotel Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan Nomor 29, Mantrijeron, Yogyakarta.
Kurator seni dan dosen ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, membuka pameran tersebut dengan menghadirkan 21 perupa lintas generasi. Nama-nama yang terlibat antara lain Awang Behartawan, Budi Ubrux, Chamit Arang, Dadi Setiyadi, Erica Hestu Wahyudi, Heri Purwanto, Klowor Waldiyono, Komroden Haro, Lully Tutus, Nasirun, Ridi Winarno, Rina Kurniyati, Rismanto, Samuel Indratma, Sigit Handari, Sinung Rubiyanto, Sulardi Wiyana, Ugo Untoro, Watie Respati, dan Yaya Maria.
Di tengah keragaman gagasan yang hadir dalam pameran tersebut, Ibu dan Anak menawarkan jeda yang menenangkan. Karya itu tidak tampil dengan kemegahan yang riuh, melainkan hadir sebagai pengingat bahwa cinta yang merawat merupakan kekuatan paling mendasar yang membuat kehidupan terus berlangsung. (*)