KLATEN – Upacara bendera peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia tak hanya dilakukan pemerintah. Di RW 04 Jati Dawuh, Desa Geneng, Prambanan, Klaten, warga juga rutin menggelar upacara secara mandiri sebagai bagian dari tradisi kampung.
Tradisi tersebut telah berlangsung hampir 10 tahun. Tahun ini, sekitar 300 warga dari RT 1 Ngentak, RT 2 Jati Dawuh, dan RT 3 Kemit Bumen mengikuti upacara memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Pesertanya beragam, mulai dari anak-anak, pemuda, ibu rumah tangga hingga warga lanjut usia. Sekitar 15 warga juga terlibat sebagai petugas upacara.
Ketua RW 04 Jati Dawuh, Lulut Basuki, mengatakan kegiatan tersebut menjadi cara warga menumbuhkan nasionalisme sekaligus mengingat kembali perjuangan para pahlawan.
“Ini sudah berjalan hampir 10 tahun. Kita laksanakan sampai sekarang untuk meningkatkan rasa nasionalisme warga,” ujar Lulut.
Menurutnya, rasa memiliki terhadap bangsa perlu dibangun dari lingkungan paling kecil. Karena itu, warga tidak ingin peringatan kemerdekaan hanya menjadi kegiatan seremonial.
“Kita ingin mengajak masyarakat dari lapisan paling bawah agar merasa memiliki bangsa dan negara. Bahwa negara kita Indonesia bisa merdeka karena betul-betul diperjuangkan,” katanya.
Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan berbagai kelompok usia. Warga lanjut usia yang tidak mampu berdiri lama tetap dapat mengikuti upacara dengan menggunakan kursi yang disiapkan panitia.
Usai upacara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan jalan sehat, hiburan dan berbagai lomba kemerdekaan.
Warga juga menggelar donor darah bersama PMI dengan target sekitar 50 kantong. Kegiatan sosial tersebut menjadi agenda rutin yang turut menyemarakkan peringatan kemerdekaan di RW 04.
Berbagai hadiah disiapkan untuk warga, mulai dari sembako dan peralatan rumah tangga hingga dua ekor kambing. Seluruh kegiatan dibiayai dan disiapkan melalui swadaya serta gotong royong masyarakat.
Bagi warga Jati Dawuh, mempertahankan tradisi upacara selama hampir satu dekade menjadi salah satu cara sederhana untuk merawat semangat kemerdekaan.
Dari lapangan kampung itulah, nasionalisme terus dikenalkan kepada generasi muda—bukan hanya lewat cerita tentang perjuangan masa lalu, tetapi melalui kebersamaan yang mereka lakukan bersama setiap tahun.