Cahaya langit timur terlihat perlahan merambat mulai surut, serpihan bulir-bulir pasir lembut berhamburan terbang mengambang dan hinggap di wajah orang-orang penduduk padang pasir yang keluar dari bangunan sahara.
Sesekali juga di langit terlihat kelebatan burung pemangsa yang menukik tajam ke tanah untuk mencabik mangsa ketika terlihat timbul tenggelam dari celah persembuyiannya.
Sedangkan di sisi barat pusat peribadatan umat muslim itu terdapat Pemuda Punjul Sejagat yang gelisah dan bingung ketika hendak mencari ibundanya yang beberapa menit lalu hilang di balik pintu. Tak kuasa, ia pun kembali memasuki bangsal kaputren, dengan iringan tarian kafilah-kafilah di kejauhan dari luar rumahnya.
Sepulang berguru dengan Baginda Rasul (1), ia memang ingin sekali rasanya pulang membantu uwak (kakak)-nya di tanah Jawa untuk kepentingan umat, yaitu syiar agama Islam. Juga berkunjung menemui Rama Prabu di negara Pejajaran. Akan tetapi ketika hendak memberi tahu rencana keberangkatannya, ibundanya baru saja meninggalkan dirinya.
Untunglah tak sampai adzan Maghrib dikumandangkan, ibundanya kembali bersama ayahnya. Tak menungggu lama, ia langsung saja menghaturkan sembah kepada ibundanya, “Mohon izin pamit, Ibu, saya hendak bertolak ke tanah Jawa dan berniat menetap di sana” ucapnya berat, mengungkapkan keputusan serius itu.
Pangeran Putra Mahkota pewaris utama Kerajaan Mesir, tidak menginginkan tahtanya yang mentereng. Setelah ayahnya memutuskan menikahi ibundanya dari negara Sunda yang dianggap mirip dengan mantan istrinya yang telah meninggal, juga telah memutuskan bahwa keturunannya nanti dari putri Jawa itu akan dijadikan penerusnya sebagai pemegang tahta Kerajaan Mesir.
Akan tetapi, rupanya beliau lebih suka untuk tinggal di dalam lingkungan yang justru masih perlu diislamkan, baginya hidup tanpa berbuat apa-apa tidak akan menjadi apa-apa, maka sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lain. Sehingga sekarang dirinya ingin cepat-cepat bertolak ke tanah Jawa.
“Restu Ibunda berikan kepadamu, Cung (2), sebarkanlah kebaikan ajaran Rasul ini di sana, jadikanlah Bumi Jawa sebagai ladang amalmu kelak.”
“Enggih (ya), Ibu, terima kasih banyak, pandongane (doanya),” salamnya sambil mengaturkan sembah.
“Sing ati-ati. (Hati-hati).”
***
Penanggalan Saka menunjuk tahun 1392 (3).
Orang-orang penduduk pesisir itu tampak semakin ramai dengan hiruk pikuk transaksi perdagangan yang dilakukan pribumi, roda ekonomi penduduk pesisir juga semakin membaik, mereka juga sudah dapat memperjual-belikan hasil olahan bumi mereka seperti ikan, terasi rebon dan jenis tangkapan laut lainnya.
Sedangkan di sisi barat dari kediamannya, penduduk yang menyibukkan dirinya untuk mengurus masjid yang juga dulu didirikan olehnya serta rekan-rekan ulama lainnya itu tampak lebih hidup dengan banyaknya masyarakat yang berkunjung dan perawatan yang baik.
Ia senang melihat pemandangan demikian, yang ada di pikirannya sekarang, uwaknya sangatlah hebat, hingga membawa masyarakatnya lebih banyak lagi yang beriman.
Ki Kuwu Cirebon itu memanglah tinggi ilmunya, selain memumpuni ilmu kebatinannya, pasca menjalankan agama Rasul juga dirinya telah pesat mempelajari Al-Qur’an dan kitab-kitab karangan ulama besar lainnya. Maka tak ayal, umurnya yang semakin sepuh, kini saatnya memerlukan bantuan keponakannya yang didatangkan langsung dari negeri Mesir.
“Bagaimana kabar Ibundamu di sana, Cung?”
“Baik, Uwak, Ibunda sehat dengan ayah dan adik Nurullah di sana.” Jawabnya dengan menundukkan pandangan sedikit. “Ibunda juga menitipkan salam, untuk Uwak dan keluarga di Cirebon.”
“Enggih.. Syukurlah jika senantiasa sehat semua,”
“Ada tugas penting yang harus kamu jalankan di sini, Cung,” katanya “Juga, ada kabar yang harus kamu mengerti!”
“Jika demikian baiknya, bagaimana yang diperintahkan uwak saja, saya bersedia.”
“Ada beberapa wilayah di pesisir ini, yang masih belum beriman untuk mengikuti ajaran Rasul, semoga Kacung bisa memulainya dari situ, dan juga mengingat penduduk yang mulai banyak selain butuh adanya pemerintahan, Kacung juga sudah barang tentu membutuhkan istri. Oleh karena itu, kelak dengan saya jodohkan bersama anakku, maka seluruh keturunanmu akan mendapati tugas memerintah di wilayah Cirebon ini,” jelasnya singkat dan tak mudah diterima dengan waktu yang cepat.
“Bagaimana, apakah Kacung bersedia?”
Apa yang dikatakan uwak-nya itu bukan mimpi atau kabar burung yang hayal, tetapi nyata dan sedang ditunggu. Dirinya sungguh terkejut dengan apa yang sudah dikatakan uwak-nya, perjalanannya dari negeri Mesir benar-benar tidak terbesit sedikitpun akan dapat perintah semacam itu, tentu bukan masalah mensyiarkan ajaran Rasul yang membuat dirinya keberatan, tapi tawaran perjodohan dirinya dengan sepupunya sendiri itulah yang membingungkan.
Secara Islam, memang tidak dilarang menikah dengan sepupu sendiri, akan tetapi tetap saja memakan pikiran, dan banyak hal yang harus dipertimbangkan, seperti bagaimana nanti tanggapan ibunda mendengar kabar ini, apa yang terjadi kelak ketika semua orang mengetahui dirinya memperistri sepupunya sendiri, bagaimana nanti kelak keturunannya dengan sang sepupu.
Jika memang uwak akan menyerahkan pemerintahan di tangannya dan seluruh keturunannya kelak, apakah suatu keharusan demikian sebuah perkawinan untuk tidak dengan jodoh yang lain?
Mungkinkah uwak mengharapkan keturunan yang punjul sejagat juga agar keturunaannya kelak kuat memegang tahta pemerintahan Cirebon?
Semua pemikiran itu memenuhi kepalanya, berbagai macam pertimbangan diam-diam dilakukan di hatinya, tidak bisa dipungkiri, untuk menyanggupi permintaan uwak-nya sangatlah tidak mudah. Sebagai orang yang awas akan hukum alam dan ilahi, ia tidak mau asal memutuskan suatu perkara, bahkan jika itu berasal dari uwak-nya sendiri, keluarganya sendiri yang selama ini dihormati.
Maka agar tidak lama menunggu jawaban darinya, ia mencoba memikirkan dan menimbang dari pikiran dan hatinya kepada pandangan yang terakhir, yaitu masalah nasab yang selama ini diperhatikan oleh uwak-nya dengan baik itu, dan kelanggengan hidup tentang siapakah jodoh sejati yang telah digariskan dengan dirinya.
Jodoh sejati bagi dirinya sangatlah penting untuk bagaimana kelak menjalani hidup, selain mempengaruhi seperti apa lika-liku menjalani bahtera rumah tangga, juga bagaimana kelak anak keturunannya digariskan, sekali salah menjalani sunatullah ini, menurutnya akan melenceng sedikit dari apa yang sesungguhnya telah Gusti garis pertama kali.
Satu hal yang perlu dipertimbangkan dari keputusan uwak-nya itu adalah masalah nasab, jika benar sangatlah teliti uwak-nya karena telah menjadikan dirinya dan seluruh anak keturunannya yang kelak memegang tahta pemerintahan Cirebon, memang benar, dirinya harus bersanding bersama sepupunya sendiri.
Oleh karena itu, demikianlah yang ia sampaikan, “Enggih, Uwak, tapi bolehkah saya meminta waktu untuk memikirkan keputusan ini terlebih dahulu?”
“Silakan,” katanya dengan masih bersila di depannya. “Pertimbangkanlah dengan baik, ini juga demi kepentingan umat, bagaimana kelak memiliki pemimpin dari pemerintahan yang kuat!”
***
Malam ke-40 telah berlalu, sekarang adalah malam terakhir dirinya menahan hawa nafsu untuk bertirakat guna meminta petunjuk kepada Gusti Kang Akarya Jagat untuk memberikan jawaban atau setidaknya perlambang untuk dirinya lebih mantap memutuskan menerima perjodohan itu dengan sepupunya sendiri.
Puasa dengan beberapa zikir, diharapkan mampu mendapatkan petunjuk dari Allah Swt, apakah putri dari uwak-nya itu adalah jodohnya yang sejati? Amalan yang dirapalkan juga diharapkan mampu membawakan perbawa karomah dari Allah yang diturunkan pada dirinya dengan cara yang halus.
Bukan main, rapalan yang ia panjatkan adalah rapalan yang sejati, bagaimana tidak, seperti keputusan akhir, dirinya merapalkan perlambang bagaimana dzat manusia bersumber, Bapa nyatana Langit, Ibu nyatana Bumi (4).
Secercah cahaya matahari yang menerangi tanah menumbuhkan tunas-tunas segala macam jenis tumbuhan dengan nutrisinya, air yang disiramkan dari langit juga dibutuhkan oleh segala jenis tumbuhan guna menghidupi di waktu senja hari.
Sedangkan tanah, menerima itu semua untuk menghasilkan sari, melalui cahaya yang menumbuhkan tumbuhan, air yang menutrisinya hingga membuahkan hasil aneka macam jenis dan ragam hasil bumi untuk manusia nikmati.
Apa yang manusia nikmati dari hasil bumi adalah bentuk dari perwujudan sari tanah, yang merupakan sumber perantara terciptanya manusia di dunia, dari Bapa yang nyatanya Langit, dan Ibu yang nyatanya Bumi adalah bentuk prosesi dari perwujudan manusia.
Mengambil perlambang demikian, rapalan tersebut dilisankan dalam sanubari untuk memohon petunjuk apakah putri dari uwak-nya itu adalah benar sebagai jodohnya.
Hakikatnya, perlambang demikian adalah perlambang bagaimana manusia yang laki-laki dapat menjadi ayah sebagai langit yang kokoh, serta perempuan dapat menjadi ibu sebagai bumi yang tangguh. Kedua elemen tersebut adalah sumber dari terciptanya sebuah kehidupan yang baru dan lebih indah, layaknya anak-anak hasil dari buah keturunannya.
Dari perlambang demikian, tiba-tiba saja kelebat ingatan tentang Putri Ki Kuwu Cirebon itu muncul di kepalanya. Di atas joglo jati, beralas anyaman pudak di dalam bangsal kaputren, seorang putri cantik itu sedang duduk bersama para pembantunya. Tubuhnya ramping, dadanya berisi, lengannya mungil, wajahnya keemasan.
Tatapannya angkuh sekaligus sendu. Jika suatu ketika hatinya sedang tidak enak, tatapan orang lain bisa membuatnya cemberut. Kecantikan semacam itu tak memerlukan dandanan.
Baik rambut diikat atau diurai, dia akan tetap menjadi pusat perhatian, dialah Putri Ki Kuwu Cirebon. Seorang putri yang memiliki jenis kecantikan atulis, kecantikan yang konon hanya ada pada karya para kawi (5).
Pemandangan yang syahdu itu sungguh mengganggu pikirannya, relung gelisah kini terukir di raut wajahnya, apakah ini jawaban dari Gusti Kang Akarya Jagat tentang apa yang selama ini dirinya inginkan.
Sesungguhnya tak kuasa jika bersanding dengan putri uwak-nya, malu rasanya menikahi putri dari sosok yang ia segani, akan tetapi bayangan yang syahdu itu juga telah menggoda dirinya, bahwa kecantikan putri Ki Kuwu memang sangat menenangkan. Jika benar demikian petunjuknya, di malam ke-41 pertapaannya, jawaban itu datang.
Hatinya gelisah sekaligus senang, pikirannya sedikit tak tenang, kecamuk di dadanya belum saja padam. Perlahan ia mulai membuka matanya, menyudahi bayangan sang putri yang cantik itu.
Kemudian perlahan ia mendongakkan pandangannya ke angkasa, dan memantapkan hatinya dengan apa yang sudah digariskan Gusti.
Maka yang ada sekarang, bersandinglah jodoh sejati, Maulana Syekh Syarif Hidayatullah dan Nyai Pakungwati di Kesultanan Cirebon beserta keturunannya. ***
Catatan:
- Baca kisahnya di buku Babad Tanah Sunda Babad Cirebon Penyusun: P.S. Sulendraningrat.
- Panggilan orang tua kepada anak laki-laki.
- 1470 Masehi.
- Bapa nyatanya Langit, Ibu nyatanya Bumi. Potongan dari rapalan yang dipanjatkan Syekh Syarif Hidayatullah saat puasa istikharah ketika diminta untuk berjodoh dengan sepupunya.
- Sastrawan/pujangga.
A. DJOYO MULYONO – Lahir di Cirebon, 1999. Tulisan-tulisan seperti opini, esai dan cerpennya telah dimuat di beberapa website dan media portal berita seperti Lensasastra.id, Cendananews.com, Metrodua.com, Ngewiyak.com, Nusantara9news.com, Nongkrong.co, Historicirebon.com, dan Negerikertas.com. Kumpulan Cerpen SIRNA (Interlude, 2022) merupakan buku pertamanya. Dan sekarang, ia sedang menyelesaikan magister di Universitas Negeri Surabaya.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.