Jika diibaratkan seperti penjarahan di sebuah rumah kosong yang penuh barang-barang — meskipun tidak mewah— dan sebetulnya masih cukup layak untuk digunakan kembali.
Begitulah jika seseorang meninggal dunia, satu per satu rahasianya akan muncul ke permukaan. Rahasia itu, tentu saja, dibeberkan oleh setiap orang yang mengenal si mayat atau mengetahui tindakannya semasa dia masih hidup.
Si mayat umpama sebuah rumah kosong dan rahasia-rahasia itu adalah barang-barang layak pakai di dalamnya. Begitulah perumpamaan yang bisa kuberikan dari mencermati setiap hal yang terjadi setelah kematian Kasman, tetangga kami yang terkenal alim, baik hati, dermawan, rajin ke masjid, dan sebagainya.
Kasman, begitulah namanya sesuai E-KTP miliknya. Orang-orang juga diminta olehnya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Haji Kasman meskipun memang dia sudah pergi ke tanah suci untuk ibadah haji, melengkapi rukun Islam yang tidak semua orang dapat melakukannya.
Kami mengenalnya sebagai seorang yang berilmu, maksudnya tahu aturan-aturan agama, dan sesekali dimintai untuk menyampaikan khotbah pada salat Jumat, kalau tidak salah setiap Jumat Kliwon.
Khotbah-khotbahnya tidak pernah berpanjang-panjang, ringkas dan berisi. Yang terpenting, dia menyampaikan isi khotbahnya itu dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam, bukan bahasa ndakik-ndakik agar dia terlihat benar-benar pintar.
Orang pintar yang sejati tidak akan memperumit sesuatu yang sebenarnya sederhana. Karena khotbah-khotbahnya yang ringkas itu—tidak sampai sepuluh menit, paling lama sekitar delapan menit—orang-orang jadi lebih bersemangat untuk pergi salat Jumat dan tidak pernah nggerundel, “Khotbahnya lama,” atau semacamnya sepanjang salat Jumat pada hari Jumat Kliwon berlangsung.
Itu baru satu hal darinya. Masih ada lagi.
Masjid di dusun kami baru saja dibuat pondasinya ketika aku masih berusia sekitar dua belas tahun. Masjid itu dibangun dengan menggunakan uang sumbangan dari para warga juga para orang yang melintasi jalan itu.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Kasman telah menggelontorkan uang dengan nominal banyak untuk pembangunan masjid tersebut, meskipun tidak benar-benar disebutkan secara jelas bahwa Kasman-lah yang memberikan sumbangan lebih banyak dari orang-orang sekitar untuk pembangunan masjid dusun tersebut.
Begitu masjid itu selesai dibangun, Kasman sering salat di sana, bahkan hampir tidak pernah absen kecuali ketika badannya meriang atau sedang pergi ke suatu tempat lain.
Sekarang, di usianya yang ke delapan puluh enam, dia telah terbaring kaku, dingin, tanpa bisa bergerak sedikit pun.
Tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan dari penyebab kematiannya. Dia meninggal dengan tenang ketika tidur di kasurnya yang empuk, di samping istrinya yang sepuluh tahun lebih muda darinya.
Ketika istrinya yang sepuluh tahun lebih muda itu membangunkannya untuk bersiap ke masjid untuk salat subuh berjemaah, Kasman tidak bergerak sedikit pun.
Biasanya, orang yang dibangunkan akan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas atau menggeser tubuhnya sebagai bentuk penolakan, tapi tidak ada tanda-tanda semacam itu sama sekali.
Istrinya yang sepuluh tahun lebih muda memanggil anak sulungnya, kemudian anak sulungnya memanggil pamannnya di belakang rumah. Setelah pamannya, adik Kasman, mengecek kondisi tubuh Kasman, dia menggelengkan kepala.
Mereka bertiga meninggalkan Kasman tetap di kamarnya sendirian dan mereka mengerjakan salat subuh dalam kondisi sedih, dan menghubungi modin untuk datang ke rumah mereka.
Modin memeriksa Kasman sebentar dan kemudian menghubungi salah satu takmir masjid agar mengumumkan kabar duka itu melalui pengeras suara di masjid.
Sekurang-kurangnya itulah yang kudengar dari cerita orang-orang yang berkumpul di rumah Kasman untuk bertakziah.
Saat itu juga ada yang berkata dengan tiba-tiba, “Dia pergi begitu cepat. Ini tidak adil.”
“Ya,” sahut yang lain, “orang sebaik dirinya sebaiknya pergi belakangan. Biar yang jahat-jahat saja yang pergi duluan.”
“Aku tidak menganggap Kasman itu orang baik,” kata yang tadi.
“Awas kualat kau. Kasman jelas orang baik. Apa maksudmu berbicara seperti itu?”
“Dengar, dari luar dia memang tampak baik. Tapi, aku pernah melihat suatu hal yang benar-benar tidak cocok dengan citra baik yang ditampilkan Kasman selama ini.”
“Kau pasti salah lihat.”
“Dengar dulu, aku belum selesai berbicara.”
“Lanjutkan.”
“Dia pergi ke warung esek-esek.”
“Mana mungkin?” pekik seseorang yang ikut mendengarnya sehingga menarik perhatian pelayat yang lain. Salah seorang dari mereka coba menenangkannya dan mengatakan bahwa itu mungkin saja terjadi karena pria yang tengah bercerita adalah juga seorang langganan warung itu.
Meskipun dia ke sana hanya untuk minum kopi dan menggoda—hanya menggoda—perempuan belia yang menjadi pelayan di warung itu—dia tidak punya cukup uang untuk menyewa salah satu dari mereka.
Pria itu melanjutkan ceritanya bahwa Kasman tidak hanya bertandang ke warung itu sekali, melainkan beberapa kali. Kalau diingat-ingat minggu terakhir setiap bulan dia lebih sering bertandang ke sana.
Mungkin dia masih bersemangat sementara istrinya sudah tidak sanggup lagi. Karena hal itulah dia mencari daun segar. Tapi, yang paling buruk, dia mengasari perempuan-perempuan belia itu.
Salah satu dari mereka bahkan sampai trauma dan tidak berani bertemu dengan Kasman lagi meskipun siapa pun yang bersama Kasman akan mendapatkan uang yang lebih banyak dari biasanya.
Pergunjingan itu buyar ketika jenazah hendak diberangkatkan ke liang lahat.
Semenjak Kasman ditanam, berbagai rahasia mencuat ke permukaan. Seperti sebuah benda yang awalnya tenggelam di dasar laut karena pemberat yang diikatkan kepadanya tiba-tiba terlepas sehingga membuatnya perlahan naik menuju permukaan laut dan mengambang di permukaan itu.
Diombang-ambingkan gelombang, dan tinggal menunggu perahu atau kapal yang lewat untuk kemudian seseorang yang tertarik akan memungutnya. Tentu orang yang memungutnya tersebut berpikir bahwa yang dipungut olehnya adalah barang yang masih berharga.
Samar-samar mulai terdengar bahwa pundi-pundi uang yang disumbangkan Kasman untuk berbagai hal, pembangunan masjid hanyalah salah satu di antaranya, berasal dari sesuatu yang tidak jelas.
Ada yang bilang bahwa uang itu adalah hasil dari kompensasi yang diberikan oleh pihak perusahaan karena diizinkan mendirikan pabrik di sana. Uang itu semestinya diberikan kepada orang-orang yang mengalami penggusuran, tetapi ditilap separuh oleh Kasman.
Hal itu terdengar masuk akal di telinga orang banyak ketika mengingat Kasman-lah yang begitu bersemangat menyambut datangnya orang-orang dari kota entah mana itu untuk mendirikan pabrik di sana.
Kasman, karena setiap perkataannya dipercaya banyak orang di sana, mengadakan pertemuan rahasia dengan pihak investor.
“Bujuklah orang-orang desa agar bersedia tanah mereka digunakan untuk mendirikan pabrik. Kami akan membuka lowongan khusus untuk para pemuda di desa ini, dusun ini akan kami beri tempat lebih khusus lagi. Kami juga akan, tentu saja, beri ganti rugi. Ganti rugi itu akan kami serahkan pada Anda,” kata salah satu orang dari kota entah mana itu.
Kemudian melanjutkannya dengan tersenyum, “Terserahlah cara Anda membagikannya. Toh mereka juga akhirnya akan percaya kepada Anda.”
Begitulah kata-kata yang dibayangkan orang-orang, kutulis kembali dengan tambahan beberapa detail lagi.
“Apa jangan-jangan sikap relijiusnya itu hanya kedok?” tanya seseorang.
“Saya tidak habis pikir. Orang bisa begitu teganya memanfaatkan kepercayaan orang lain kepadanya,” kata yang lain.
Tapi, membencinya pun mereka rasa akan menjadi hal yang sia-sia. Yang akan mereka benci pun sudah tidak ada, sementara melimpahkan setiap kemarahan mereka kepada keluarganya yang masih hidup tampak tidak bijaksana. Bagaimanapun, keluarganya sendiri belum tentu tahu tentang yang dilakukan Kasman.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya seseorang.
“Entahlah, Kawan. Kita tampaknya tidak bisa melakukan apa pun. Toh Kasman sendiri sudah mampus. Biar Munkar dan Nakir yang menghajarnya di kuburan atas segenap dosa-dosanya. Dia sudah tidak bisa kita jangkau lagi. Tapi…”
Dia berhenti sebentar untuk melihat limbah industri yang memenuhi sungai.
“Tapi,” sambungnya, “Yang jelas kita harus melakukan sesuatu dengan air ini. Mustahil mengairi sawah dengan air semacam ini.” ***
Keterangan:
Ndakik-ndakik: bahasa yang berlebihan
Nggerundel: kecewa di belakang orang yang bersangkutan
Mojokerto, 1 April 2022
Mochamad Bayu Ari Sasmita, lahir di Mojokerto pada HUT RI ke-53. Menyelesaikan studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang (2021). Beberapa cerpennya pernah tayang di beberapa media daring. Sekarang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.