Setidaknya, sudah ada dua belas orang yang datang silih berganti ke rumah Udin. Ia tak sedikit pun merasa kebingungan, seperti sudah tahu jelas akan seperti ini kejadiannya.
Jadi saat ada yang duduk dengan perasaan was-was dan siap memberinya seribu alasan, ia mengangkat tangan, menyerahkan beberapa lembar uang dan berkata, “tidak perlu dikembalikan, ambil saja…” alias tidak perlu dibayar.
Mereka yang datang dengan maksud meminjam uang, beberapa kelihatan bingung, dan beberapa berseru senang. Mensyukuri nikmat, merasa ini sebuah rezeki dengan ingatan Udin yang seringkali tidak punya uang untuk beli rokok, malah dengan sukarela memberi uang yang dimilikinya.
Tapi Udin sepertinya sudah punya alasan yang jelas, tentang mengapa ia harus berbagi dengan lembar-lembar berharga yang ada di tangannya. Dan karena kebaikannya itu, tidak cukup seminggu uang yang banyak itu sudah menghilang dari tangannya.
Pekerjaan Udin sebenarnya hanya kerja serabutan, atau paling tidak berdasar kenyamanan dan keinginan. Kadang ia ke kebun istirinya, membantu memetik cengkeh mertuanya, kadang pun ke sungai di belakang rumahnya menangkap ikan yang cukup beragam. Tapi tidak jarang, ia merasa cukup bosan, dan membuatnya tidur-tiduran di rumah kakaknya.
Setidaknya di sana, ia bisa mendapat makanan gratis tanpa harus bekerja, dan tentu saja kakaknya merasa kalau Udin itu hanya berusaha kabur dari keluarganya sendiri.
Meski begitu, tiga anaknya yang sudah remaja dan dewasa, rupanya tidak merasa kesal pada tingkahnya itu. Entah kenapa? Mungkin karena sayang atau mungkin karena sudah capek mengurusi.
Sebenarnya Udin ini memang punya sifat baik dan ramah, yang membuat orang lain tak bisa membencinya. Ia pun memang jarang menolak permintaan siapa saja, termasuk saat ia diajak untuk menjadi bagian dari pertarungan angka di depan kios jajanan di depan rumah kakaknya.
Maka hampir tiap hari, dari beberapa minggu, sejal awal bulan lalu, Udin mulai memasang angka, yang berarti harus menggunakan uang dari hasil jualan ikan yang ditangkapnya dari sungai. Ia pun memohon sebelum tidur, meminta dikasih mimpi biar ia punya angka yang bisa dimasukkannya pada bandar.
Kalau ada yang berpikir jika nomor Udin pada sebuah undian yang sekarang tidak lagi legal itu, bisa menang di kali pertamanya pasang angka, maka itu salah besar. Karena lebih banyak uang yang harus dituangkannya. Soalnya ia harus mengulangnya beberapa kali, sampai pada akhirnya dewa keberuntungan berpihak padanya.
Nomor hasil rangkaian yang dipikirkannya dengan hasil kerja sehari semalam, membuahkan hasil. Udin mendapatkan sembilan juta yang merupakan kumpulan uang dari beberapa orang yang menaruh sebagian harta mereka itu di bandar yang sama dengannya.
Jadilah hari itu, Udin memiliki harta yang cukup melimpah. Bisa beli rokok sepuasnya, bisa beli makanan apa saja, ia juga membeli telepon pintar yang lalu diberikan pada anak bungsunya.
Sisanya, sekitar lima juta, akan ia tabung. Tapi itu hanya sekadar rencana, karena baru sehari ia memegang uang banyak, beberapa orang mulai berdatangan di depan pintu rumah.
“Bisa tak pinjam uang?” tanya teman yang kalah banyak di taruhan nomornya kali ini. “Nanti kalau menang kubayar, yah.”
Udin diam sejenak, hanya beberapa detik, lalu memberi beberapa lembar uang pada temannya itu, yang terlihat senang, seketika berlalu dari sana.
Tidak sampai di situ saja, kemungkinan karena mendengar kabar dari Si Teman ini, beberapa orang lain mulai menunjukkan wajah penasaran mereka. Menyadari hal ini, Udin seperti tahu jelas apa yang sedang terjadi.
“Aku lagi butuh, Din,” temannya yang lain memelas.
Udin mengangguk, “ini, ambil saja.”
“Terima kasih, Din,” ucap temannya itu penuh haru, “Akan kulunasi bulan depan,” ia memasang janji.
“Tidak usah,” Udin menggerakkan tangan, menunjukkan penolakan, “ambil saja, tidak perlu dibayar.”
Maka kalimat Udin mulai menyebar dan pada akhirnya, ia tidak memiliki sepeser pun, bahkan tidak ada yang disimpannya lagi untuk beli rokok.
Jadi seminggu berlalu, hari ini, Udin yang masih di rumah kakaknya, mendekat, “Utang dulu yah, kak?” ia meminta izin, bergerak ke lemari rokok.
“Loh,” kakaknya nampak bingung, melihat tampilan Udin dengan keranjang bekas ember cat dan juga jala di selempangnya.
“Kupikir kau punya banyak uang sekarang, ke mana aja tuh?” ia bernada setengah menyindir.
Udin cengengesan, “Dari awal memang bukan punyaku, Kak,” ucapnya dan berlalu ke sungai, mencari uang lagi, sambil merangkaikan angka-angka di kepalanya. ***
Jelsyah Dauleng, penulis yang tinggal di Minangasadae, Siwa, Sulawesi Selatan
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.