Di dusun B, siapa yang tidak kenal dengan Haji B? Dialah orang yang bertanggung jawab atas mengeruhnya air sungai yang ada di belakang rumah warga dan yang menjadi satu-satunya sumber irigasi persawahan di dusun itu.
Tapi, orang-orang di sana tidak banyak membicarakan hal itu, bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Mereka lebih suka membicarakan kebaikan Haji B yang sering menyumbang masjid dengan nominal yang lumayan besar, membagikan uang lima puluh ribu kepada tamu undangan ketika ada acara tahlil di rumahnya untuk mendoakan mendiang istrinya, dan tidak lupa turut menyumbang sejumlah material untuk pondok pesantren.
Hanya Wak H yang terang-terangan menyatakan sikap permusuhan kepada Haji B dalam setiap geraknya. Wak H hanya orang kecil yang sehari-hari mengolah sawahnya yang tidak seberapa luas.
Di tengah-tengah orang-orang menjual sawahnya kepada orang-orang dari kota yang berencana membangun sebuah perumahan murah untuk generasi milenial yang diisukan tidak sanggup membeli rumah sendiri, Wak H bersikeras menolak untuk menjual sawahnya.
Sawah itu adalah warisan dari bapaknya, bapaknya juga mewarisi itu dari kakeknya yang dengan susah payah membeli sepetak sawah itu dari orang terkaya di dusun berdekade-dekade lalu.
“Kau bodoh, Wak H,” kata salah satu temannya ketika mereka duduk-duduk di warung sambil main gaple. “Mestinya kau jual saja sawah itu. Kau bisa untung banyak. Anakmu ingin kuliah, bukan?” Wak H mengabaikan perkataan temannya itu dan membanting kartu ke tengah-tengah mereka. Dia memenangkan pertandingan itu dan segera pulang ke rumahnya karena sudah begitu mengantuk.
Wak H hampir tidak pernah mengeluh mengenai nasibnya. Meskipun hasil mengolah sawah tidak seberapa, dia tetap keras kepala untuk menjaga dan merawat sawah peninggalan bapaknya itu.
Tapi, sejak permulaan abad kedua puluh satu, banyak yang berubah di tempat itu. Haji B memulai sebuah bisnis yang belum pernah dipikirkan banyak orang sebelumnya. Dia mengambil usus ayam dari tempat pemotongan ayam.
Awalnya dia hanya mengambil dua tong besar, tapi lama kemudian jumlah tong yang diambil kian bertambah. Dari sanalah dia mulai mempekerjakan para tetangganya yang menganggur untuk membersihkan kotoran dari usus ayam itu dan mengolah usus yang sudah bersih itu menjadi kripik usus.
Kripik-kripik usus itu kemudian dibungkus dengan berbagai ukuran, mulai dari bungkus paling kecil yang harganya dapat dijangkau uang saku anak-anak sekolah dasar sampai bungkusan dua kilogram yang dipasarkan ke tempat-tempat jauh. Banyak yang memuji Haji B sebagai penyelamat para pengangguran di dusun itu. Tapi, tidak bagi Wak H.
Suatu kali Wak H mendapati anak buah Haji B membuang bertong-tong limbah usus ayam ke sungai. Seketika air sungai bercampur dengan lemak dan terlihat berminyak. Orang-orang memang tidak memanfaatkan air sungai lagi sebagai MCK semenjak mereka mengenal mesin pompa air yang diproduksi oleh Jepang.
Tapi, bagi Wak H lain soalnya. Dia dan beberapa petani yang masih bertahan dan cukup keras kepala masih memanfaatkan air sungai itu untuk mengairi sawah mereka.
“Apa yang kau lakukan, Bocah?” pekik Wak H pada mereka saat itu.
“Membuang limbah, Pak.”
Bocah itu gugup ketika mendengar gelegar Wak H. Bocah itu bukan asli penduduk dusun itu. Dia pendatang dari luar desa yang mencari peruntungan di dusun itu. Dia banyak mendengar bahwa di dusun itu ada lowongan pekerjaan.
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Haji B. Saya bekerja di sana.”
“Hentikan. Kau tidak boleh membuat sungai di sini kotor, tahu! Kami masih menggunakannya untuk mengairi sawah kami. Pulang dan katakan itu kepada Haji B, juraganmu itu.”
Bocah itu berhenti membuang limbah dan segera kembali ke Haji B dan menceritakan segalanya kepada juragannya itu.
“Siapa yang bicara seperti itu?” tanya Haji B dengan berang.
“Saya tidak kenal, Pak Haji. Dia bertubuh tinggi besar. Suaranya menggelegar.”
“Mungkin si Wak H, Pak Haji,” kata salah satu pekerja lain yang berada di sana untuk ikut mendengarkan. “Dia memang keras kepala. Padahal istrinya bekerja di sini juga.”
“Mungkin dia ingin uang Pak Haji,” kata yang lain. “Mungkin setelah Pak Haji beri dia uang, dia akan tutup mulut dan berhenti keras kepala. Uang bisa memperlancar segalanya. Segala urusan bisa beres kalau ada uang.”
“Kau benar.”
Keesokan harinya Haji B menyuruh orang untuk menghampiri Wak H guna menyampaikan salam “damai” darinya. Tapi, keributan terjadi di pematang sawah. Wak H menganggap hal itu sebagai penghinaan.
Semiskin apa pun dirinya, dia tidak sudi menerima uang semacam itu. Wak H hampir saja membacok utusan Haji B itu dengan celuritnya kalau saja tidak ada teman-temannya yang menghentikannya.
“Kau masih punya anak dan istri. Jangan main bunuh saja,” teman-temannya memperingatkannya.
“Terima kasih,” kata Wak H sambil mengatur kembali napasnya.
Wak H kemudian duduk lagi dan menenangkan dirinya dengan meminum air dari botolnya. Teman-temannya menghiburnya dengan membicarakan hal-hal lain seperti tentang tengkulak dari kota yang akan membayar padi mereka dengan harga yang lebih tinggi dari panen sebelumnya dan sebagainya.
Keesokan harinya lagi, setelah Wak H pulang dari sawahnya pada sore hari, Haji B datang seorang diri untuk menemuinya. Wak H yang masih kesal dengan peristiwa kemarin menolak untuk mempersilakan tamu itu duduk di ruang tamunya, dia hanya menyilakannya duduk di teras rumah yang hanya ada sebuah lincak di sana.
“Ada apa, Pak Haji?” tanya Wak H dengan tidak bersemangat.
“Saya ingin meminta maaf untuk yang kemarin.”
“Dengar, Pak Haji. Jangan pikir bahwa karena punya banyak uang, Pak Haji bisa berbuat sesukanya. Tidak semua orang bisa takluk oleh uang. Saya adalah salah satunya.”
Perlakuan kasar seperti itu membuat Haji B geram.
Pada malam di hari berikutnya, Wak H pergi ke sawahnya untuk mengawasi sawahnya. Tikus-tikus sedang merajalela akhir-akhir ini. Mereka binatang yang meresahkan.
Wak H menyorotkan lampu senternya ke setiap titik sawahnya. Saat itulah beberapa orang yang misterius muncul. Wak H dicekik dari belakang dengan sebuah tali tampar.
Wak H berusaha melawan, tetapi dia kesulitan bernapas. Tapi, dia kewalahan. Dia hanya seorang diri sementara musuhnya lebih banyak darinya.
Setelah Wak H kesulitan untuk melawan, beberapa orang misterius itu menyeretnya ke tengah sawah dan menghabisinya di sana.
Wak H tidak bisa mengenali mereka di dalam kegelapan. Yang dia tahu, ada tiga orang yang mengepungnya, memukulkan tinjunya ke wajahnya, dan menyabet sedikit kulit di kakinya dengan celurit.
“Bangsat!” sembur Wak H ketika celurit itu menciptakan garis merah di kulit kakinya.
“Kita akan benar-benar membunuhnya?”
“Dia orang yang suka cari masalah. Kalau tidak kita habisi, dia akan terus merepotkan kita.”
Wak H seperti mengenal suara itu. Tapi, rasa sakit yang dialaminya mencegahnya untuk memikirkannya lebih lanjut.
“Kau yang melakukannya.”
“Mengapa harus aku?”
“Kau yang paling muda. Kau harus melakukannya. Tenang saja, tidak akan ada yang tahu.”
Bulan tidak sedang purnama pada malam itu. Orang misterius yang paling muda itu mengambil celuritnya dan memukulkan bagian luarnya ke kepala Wak H sebelum dia membacok dada Wak H dan kemudian mencabik-cabik perutnya.
“Lihat, sama seperti usus ayam, bukan? Sehari-hari kita sudah terbiasa dengan semua ini.”
“Kita biarkan di sini?”
“Kita buang dia ke sungai.”
Mayat Wak H digotong oleh mereka secara hati-hati menuju ke dekat sungai. Di sana, mereka juga menurunkan mayat Wak H secara pelan-pelan ke dalam sungai yang dipenuhi oleh limbah usus itu.
Sungai itu menguarkan bau yang tidak enak. Permukaan airnya mengeras dan lalat-lalat dengan hati riang beterbangan di atasnya.
Mayat Wak H mengambang di sana bersama dengan limbah usus yang dibencinya seumur hidupnya.
“Buruk sekali sungai ini,” kata salah satu dari mereka. “Tapi, siapa peduli? Kita tidak menggunakan sungai ini lagi. Ayo pergi.” ***
Mojokerto, 7 Desember 2021—17 Juni 2022
Mochamad Bayu Ari Sasmita lahir di Mojokerto pada HUT RI ke-53. Penggemar layar kaca Liverpool FC yang senang menulis cerpen. Cerpen-cerpennya pernah tayang di koran lokal dan media daring. Lebih senang tinggal di Kabupaten Mojokerto Jawa Timur setelah lulus kuliah di Malang. Akun instagram @sasmita.maruta.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.