22-10-1969, Presiden Soeharto: Potensi Bangsa ditentukan pembinaan anak dan pemuda

RABU, 22 OKTOBER 1969 “Saya sangat menaruh perhatian pada Konferensi Nasional tentang Anak dan Pemuda. Dalam perencanaan pembangunan nasional, sungguh bukan omong kosong bahwa potensi suatu bangsa ditentukan oleh pembinaan anak dan pemuda”. Demikian antara lain dikatakan Presiden Soeharto dalam amanat tertulisnya pada pembukaan Konferensi Tentang Anak dan Pemuda di Gedung Pola, Jakarta.

Dikatakan Kepala Negara, pembangunan suatu bangsa yang maju tergantung kepada pembangunan manusia-manusia, warga negaranya dan perorganisasian yang tepat dari segala macam kegiatan masyarakatnya. Dalam pengertian ini, maka anak-anak dan pemuda merupakan sumber tenaga manusia, baik untuk masa sekarang dan lebih-lebih untuk masa depan.

“Oleh karena itu, dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun yang sekarang telah mulai kita laksanakan, pembangunan tenaga manusia ini mendapatkan perhatian, khususnya yang tercermin dalam bidang pendidikan dan tenaga kerja,” sebut Presiden Soeharto.

Dilihat dari segi biaya yang disediakan, sebut Kepala Negara, pembangunan di bidang ini memang masih belum memadai dari apa yang kita butuhkan.

“Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa kita mengabaikan masalah pembinaan anak-anak dan pemuda kita. Dalam keadaan yang terbatas tadi, kita harus dapat menentukan prioritas-prioritas Nasional; dengan perhitungan, bahwa dengan memusatkan perhatian kepada prioritas-prioritas Nasional tadi kemampuan-kemampuan kita untuk membangun akan lebih besar,” terang Presiden.

Menurut Jenderal Soeharto, pembinaan anak dan pemuda harus disesuaikan dengan proses pembangunan bangsa serta berlandaskan Pancasila, karena pembinaan anak dan pemuda merupakan persiapan kader-­kader bangsa dalam arti yang luas.

Dengan dasar, tujuan dan ruang lingkup pembinaan yang sangat luas tadi, jelas tampak bahwa masalah itu bukan hanya merupakan tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga tanggung jawab masyarakat. Pembinaan yang demikian itu, bukan hanya terbatas pada pendidikan formil di bangku sekolah, melainkan juga harus dibina dalam lingkungan pendidikan yang pertama, ialah keluarga, dan pendidikan yang lebih luas, ialah masyarakat. Demikian Presiden Soeharto

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973”, hal 166-167. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Lihat juga...