Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 13/04/2026
Christian Zionisme merupakan salah satu arus pemikiran paling berpengaruh dalam hubungan agama dan geopolitik modern. Terutama dalam dukungan terhadap Israel oleh sebagian besar kelompok Kristen evangelikal.
Gerakan ini berkembang luas di Amerika Serikat. Menjadi salah satu faktor sosial-politik penting dalam kebijakan luar negeri terkait Timur Tengah.
Christian Zionisme adalah keyakinan bahwa kembalinya bangsa Yahudi ke tanah Israel dan berdirinya negara Israel merupakan bagian dari rencana Ilahi/ Tuhan. Menurut tafsir Alkitab Kristen.
Basis sosialnya sangat besar. Mencakup sekitar 70–90 juta evangelikal di Amerika Serikat.
Survei menunjukkan sekitar 60–70% di antaranya memiliki sikap pro-Israel yang kuat. Organisasi seperti Christians United for Israel, yang mengklaim lebih dari 10 juta anggota, menjadi salah satu jaringan lobi agama terbesar yang aktif dalam memengaruhi opini publik dan kebijakan.
Pengaruh ini terlihat jelas dalam hubungan antara tokoh agama dan politik. Di ranah religius-politik, John Hagee menjadi figur sentral yang menghubungkan teologi evangelikal dengan dukungan aktif terhadap Israel.
Dalam politik Amerika, tokoh seperti Donald Trump, Mike Pence, dan Mike Pompeo sering dikaitkan dengan kebijakan luar negeri yang selaras dengan aspirasi Christian Zionist.
Di tingkat kebijakan, keputusan seperti pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 2017 dan pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem menjadi simbol paling jelas bagaimana tekanan basis evangelikal beririsan dengan strategi negara.
Di luar Amerika Serikat, pengaruh ini juga menyentuh politik global. Dukungan kuat terhadap Israel dari sebagian politisi di Eropa dan Amerika Latin sering dipengaruhi oleh jaringan gereja evangelikal transnasional. Meskipun tidak sekuat di AS.
Dalam konteks ini, Christian Zionisme berfungsi bukan sebagai institusi formal. Melainkan sebagai ekosistem ideologis yang memengaruhi keputusan politik melalui pemilih, lobi, dan narasi moral.
Namun, Christian Zionisme perlu dibedakan secara tegas dari Zionisme. Zionisme adalah gerakan nasional Yahudi modern yang dipelopori Theodor Herzl pada akhir abad ke-19. Tujuannya mendirikan negara bagi bangsa Yahudi sebagai respons terhadap diskriminasi di Eropa yang berpuncak pada Holocaust.
Perbedaan mendasar terletak pada justifikasi teologis. Christian Zionisme bertumpu pada tafsir Kristen yang eskatologis. Ialah keyakinan bahwa sejarah bergerak menuju penggenapan rencana Tuhan yang melibatkan Israel.
Sementara itu, Zionisme Yahudi bersifat beragam. Sebagian religius memandang Israel sebagai tanah perjanjian berdasarkan Taurat.
Tetapi banyak Zionis Yahudi modern bersifat sekuler dan melihat Israel sebagai proyek nasional dan perlindungan politik. Bukan mandat teologis.
Dengan demikian, hubungan antara Christian Zionisme dan komunitas Yahudi bersifat konvergen dalam dukungan terhadap Israel. Tetapi divergen dalam dasar pemikiran.
Keduanya bertemu dalam kepentingan geopolitik yang sama. Namun berangkat dari justifikasi yang berbeda secara fundamental.
Christian Zionisme menunjukkan bagaimana keyakinan religius dapat bertransformasi menjadi kekuatan politik global. Kekuatan itu memengaruhi arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan sekutunya dalam isu Timur Tengah.
Karena ia berakar dari tafsir teks keagamaan, maka setiap upaya kritik dan kontra terhadap gerakan ini pada dasarnya juga menuntut pelurusan dan perdebatan dalam ranah tafsir teks keagamaan itu sendiri. Bukan semata-mata pendekatan politik atau kekuasaan.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.