Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 08/04/2026
Sejarah Nusantara menunjukkan kejayaan tidak lahir dari peniruan. Melainkan adaptasi potensi internalnya.
Sriwijaya hingga Majapahit menekankan penguasaan laut, jaringan perdagangan, dan kemampuan membaca alam tropis. Teknologi yang berkembang berupa sistem maritim, logistik, dan sosial yang selaras dengan geografi kepulauan.
Sriwijaya menjadi contoh teknologi maritim global. Memanfaatkan angin musim dan Selat Malaka—yang kini dilalui sekitar 1/4 hingga 1/3 perdagangan dunia—ia menjadi simpul perdagangan dunia.
Majapahit memperluas konsep ini melalui sistem mandala, armada laut, dan manajemen wilayah yang efektif. Sementara itu, Mataram Kuno menunjukkan kemampuan rekayasa bangunan yang adaptif terhadap iklim tropis.
Namun, sejarah juga mencatat keterbatasan. Nusantara tidak mengembangkan navigasi ilmiah, industri logam skala besar, atau institusi sains formal seperti Eropa dan Tiongkok. Ketika revolusi teknologi global bergerak ke arah mekanisasi dan militerisasi, keunggulan adaptif tidak cukup mempertahankan dominasi.
Di sinilah pelajaran masa lalu menjadi relevan bagi masa depan. Indonesia tidak perlu mengulang industrialisasi klasik secara mentah. Tetapi memperkuat keunggulan historis sekaligus mengintegrasikannya dengan teknologi modern.
Pertama, teknologi maritim harus kembali menjadi inti. Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan sektor maritim menyumbang sekitar 7–8% PDB.
Potensi ini dapat menjadikan Indonesia pusat logistik laut global melalui pelabuhan pintar, kapal ramah lingkungan, dan sistem keamanan berbasis digital.
Kedua, penguatan logistik antar pulau menjadi krusial untuk distribusi pangan dan obat. Tentu dengan dukungan rantai pasok modern.
Ketiga, sektor kesehatan tropis berbasis biodiversitas membuka peluang besar di farmasi dan riset penyakit tropis. Indonesia sendiri termasuk negara megabiodiversitas dunia.
Keempat, pengembangan teknologi bangunan tahan bencana menjadi kebutuhan strategis. Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Menghadapi gempa, banjir, dan kenaikan muka laut.
Kelima, transformasi digital dan kecerdasan buatan menjadi pengungkit integrasi seluruh sektor tersebut.
Dengan demikian, masa depan Nusantara bukan tentang mengejar ketertinggalan. Melainkan merumuskan kembali jati diri.
Seperti masa lalu, kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan membaca ruang—laut, alam, dan jaringan manusia. Lalu mengubahnya menjadi keunggulan strategis.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.