Kisah Sabdo Palon Noyo Genggong, Proyek Divide et Impera Kolonial?

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 12/04/2026

 

 

Perdebatan mengenai kisah Sabdo Palon dan Noyo Genggong tidak pernah benar-benar selesai. Di satu sisi, ia hidup kuat dalam tradisi Jawa. Di sisi lain, ia lemah sebagai fakta sejarah.

 

Salah satu versi populer menyebut bahwa pada suatu masa, atas persuasif Sunan Kalijaga, Raja Brawijaya V memeluk Islam. Namun, dua pembantu setianya—Sabdo Palon dan Noyo Genggong—tidak menerima perubahan tersebut.

 

Mereka dikisahkan bersumpah akan kembali 500 tahun kemudian untuk “membalas”. Menghidupkan kembali ajaran lama. Ajaran “Budhi”.

 

Narasi dramatik ini kemudian memunculkan pertanyaan mendasar. Apakah kisah ini sekadar produk budaya, atau justru bagian dari strategi kolonial: “divide et impera”?

 

Rujukan utama kisah ini berasal dari Serat Darmagandhul. Sebuah teks yang diperkirakan ditulis pada abad ke-19. Pada saat Jawa berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

 

Jarak waktunya sangat jauh dari era Brawijaya V pada abad ke-15. Artinya, kisah tersebut bukan catatan sezaman. Melainkan rekonstruksi naratif yang muncul belakangan, dalam konteks sosial yang sudah sangat berbeda.

 

Lebih jauh, sumber primer Majapahit seperti Nagarakretagama dan Pararaton tidak pernah menyebut Sabdo Palon. Ketiadaan ini menunjukkan bahwa tokoh tersebut lebih tepat dipahami sebagai konstruksi simbolik ketimbang figur historis.

 

Dalam perspektif historiografi modern, hal ini sejalan dengan teori “invented tradition”. Masa lalu kerap direkonstruksi untuk menjawab kebutuhan identitas, legitimasi, atau resistensi pada masa berikutnya.

 

Namun, perdebatan menjadi semakin relevan ketika menyentuh soal identitas kejawen. Seringkali kejawen diposisikan sebagai “sisa” tradisi Hindu-Buddha yang berhadapan dengan Islam.

 

Pandangan ini terlalu menyederhanakan. Dalam banyak kajian, kejawen justru merupakan bentuk pembumian nilai-nilai Islam dalam kerangka budaya Jawa. Sebuah proses yang dalam teori antropologi dikenal sebagai lokalisasi atau indigenisasi agama.

 

Nilai-nilai seperti laku batin, etika, dan spiritualitas menunjukkan kedekatan kuat dengan tradisi tasawuf dalam ajaran Islam.

 

Dengan demikian, narasi yang membenturkan “agama lama” dan “agama baru” menjadi problematis. Bisa jadi, dikotomi tersebut bukan refleksi realitas sosial, melainkan konstruksi wacana yang muncul kemudian dan diperkuat oleh kepentingan tertentu.

 

Di sinilah relevansi pertanyaan tentang divide et impera menjadi signifikan.

 

Realitas historis memgemukakan bahwa ajaran Bhinneka Tunggal Ika telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Majapahit.  Ungkapan ini berasal dari Kakawin Sutasoma.

 

Mencerminkan pandangan bahwa perbedaan keyakinan—khususnya antara Hindu dan Buddha—tidak harus melahirkan konflik. melainkan dapat hidup berdampingan dalam harmoni.

 

Dalam praktiknya, kerajaan Majapahit menunjukkan pola kehidupan inklusif. Berbagai tradisi spiritual dan budaya saling berinteraksi dan berasimilasi.

 

Hal ini menunjukkan bahwa prinsip persatuan dalam keberagaman bukan konsep baru. Melainkan telah menjadi bagian dari fondasi sosial dan filosofis masyarakat Jawa sejak masa lampau.

 

Maka aneh jika muncul narasi pertengkaran oleh karena raja memeluk agama yang berbeda. Karena itu (beda agama) merupakan hal lumrah di Majapahit.

 

Secara historis, strategi pecah belah memang digunakan oleh kolonial untuk mengelola masyarakat yang majemuk. Namun, tidak ada bukti langsung bahwa Darmagandhul merupakan proyek yang dirancang oleh pemerintah kolonial.

 

Penjelasan yang lebih kuat adalah bahwa teks ini (kisah Sabdo Palon) lahir dari dinamika internal masyarakat Jawa yang sedang mengalami transformasi identitas. Lalu berpotensi dimanfaatkan dalam konteks kolonial.

 

Meski demikian, narasi yang memecah—terutama jika memisahkan antara tradisi dan Islam—tetap berisiko melemahkan kohesi sosial.

 

Dalam konteks ini, penting untuk membaca ulang kisah Sabdo Palon bukan sebagai fakta sejarah. Melainkan sebagai wacana yang mencerminkan pergulatan identitas. Sekaligus menguji sejauh mana narasi masa lalu dapat memengaruhi persepsi kebangsaan hari ini.

 

Kisah itu masuh berdengung sampai hari ini. Khususnya pada masyarakat Jawa. Suku terbesar di Indonesia. Empat besar dunia.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.