“Mengenalmu adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Hadirmu menginspirasi dan membangkitkan asa kehidupanku. Meskipun saat ini kamu telah mati, aku tetap percaya jika kamu tetap hidup selamanya dalam hatiku dan orang-orang yang mengasihimu.”
Aku ingat betul kata-kata itu sesaat sebelum kamu menutup mata, menyusulnya ke alam keabadian.
Aku tertegun lagi di hadapan dua nisan yang dingin membisu dan menyaksikanku. Bertebaran bunga-bunga teriring doa dari bibir.
Berjatuhan di atas tanah merah dua pusara. Pasangan hebat yang tidak akan lekang dari kenanganku selamanya. Sebab merekalah, hidupku berubah.
Langkahku pelan keluar dari pemakaman. Di trotoar jalan, aku dihentikan sebuah mobil Kijang hitam keluaran terbaru.
Pintu terbuka, tampak seorang gadis yang cantik berpakaian kasual berwarna biru-biru dengan motiv bebungaan di beberapa bagian.
“Kamu tidak kembali ke sekertariat?” tanyanya.
“Tidak, Ar.” Aku menggeleng enggan.
Tatapan gadis itu menyiratkan tanya, tetapi aku mengabaikannya. Aku lebih memilih masuk mobil, di kursi sebelahnya.
Kubuka gawai, menggulir sebuah aplikasi untuk mencari informasi.
“Kamu sudah tahu ini, Ar?” Aku menunjukan sebuah postingan.
“Baru tahu.” Ibaruri, gadis itu menggeleng.
“Kamu udah save dari sebelumnya, Mun?”
Aku tidak menjawab, justru memperbesar layar. Terpampang jelas informasi tersebut. Mata Ibaruri terbelalak.
“Kamu serius?” tegas gadis berusia dua dekade itu.
“Iya, aku jarang sekali bercanda sesudah dari pemakaman Tuan dan Nona, kan?” tanyaku balik.
“Huff, kerjaan baru, ya?” gumam Ibaruri, menyandarkan kepala sambil mengembuskan napas ke langit-langit mobil.
“Memang kerjaan kita gitu, kan?” tanyaku tidak memperoleh jawab.
“Tutup pintu, kita kembali ke sekertariat sekarang!”
Aku menurut lalu menutup pintu. Ibaruri langsung melesatkan mobil. Sepanjang jalan perkotaan, tidak ada hal yang menarik. Mobil dan motor lalu-lalang dengan lancar.
Orang-orang tertib menggunakan trotoar jalan. Bangunan gedung, pertokoan, dan rumah penduduk menyaksikan dengan bisu semua itu.
“Kalian sudah lewat dari janji semula.” sambut Pak Rudy Kancil, seorang manajer senior di LSM Bakti Buana ketika aku dan Ibaruri memasuki ruang tamu sekertariat.
“Sungguh disesalkan, Pak. Tadi aku terlarut mengenang Tuan dan Nona.” tangkis aku menjawab.
“Bohong dia, Pak! Dia tidak rela berpisah dengan tanah merah yang harum, apalagi sesudah menabur bunga-bunga di atasnya.” kelakar Ibaruri.
Pak Rudy tersenyum, mengisyaratkan untuk duduk, sementara dia menghubungi seseorang via pesan instan. Aku dan Ibaruri saling pandang dan menemukan kesepahaman.
“Ibaruri, Munir. Kalian sudah mendapat kabar terkini dari aplikasi itu?” tanya Pak Rudy, santai.
“Sudah, Pak.” jawabku seerempak dengan Ibaruri.
“Apa yang mau kalian rencanakan?” tanya Pak Rudy mulai agak serius.
“Sementara belum ada, Pak.” Ada keraguan dalam suaraku, kali ini Ibaruri terdiam.
Pak Rudy diam, tampak berpikir. Dia tersenyum tipis saat seorang gadis berusia tanggung datang dengan senampan yang mengalasi tiga cangkir kopi hitam yang asapnya masih mengepul. Teliti dan berhati-hati gadis itu menata cangkir di atas meja.
“Terima kasih, Irma.”
Gadis itu tidak menjawab, hanya mengangguk, dan beranjak ke belakang.
“Isu HAM terkini semakin mencemaskan. Negara tidak mau mengurusinya kalau tidak mendatangkan keuntungan. Kebanyakan warga menggantungkan harapan di atas pundak kita.
Sedangkan, generasi pertama sudah benar-benar habis. Beberapa orang dari generasi kita sebagian besar sudah terbeli.” Pak Rudy tidak sanggup melanjutkan.
Aku dan Ibaruri saling berpandangan lagi. Suasana ruang tamu menjadi terasa beku. Pak Rudy mengisyaratkan untuk meneguk kopi. Sekadar pencair situasi percakapan.
“Syafrudin Munir Wijaya, Ibaruri Fatma Maudianti. Kalian punya integritas, tidak ingkar janji meskipun kadang molor dari awal kesepakatan waktu pertemuan, dan tidak mudah terlarut dalam perasaan sesal karena kalian cepat bangkit. LSM ini hampir mati.
Tinggal saya sebagai pemimpin dan pembimbing kalian, Ade Irma Kancil sebagai anak turun saya yang kemungkinan akan meneruskan serta mengusung perjuangan kita pada generasi ketiga, dan kalian berdua. Semula LSM ini dikenal karena sepak-terjang Tuan dan Nona.
Namun, mereka dipanggil Tuhan begitu cepat melalui tragedi yang sengaja dirancang pihak-pihak tertentu.” Pak Rudy berhenti. Seteguk kopi membuatnya reda dari emosi yang bergelora.
“Jadi begini, informasi itu mengatakan kalau LSM kita akan dibubarkan. Perasaan kita hanya membela HAM, kan? Tapi, begitulah! Pemerintah kita sudah terlalu tiran. Untuk itu, sebaiknya kita berpisah terlebih dahulu. Kita sembunyi! Tolong, jangan bantah kata-kata saya. Saya sayang kalian, karena itulah kita harus menyelamatkan diri.”
Aku mengisyaratkan untuk bicara. Pak Rudy mengangguk. Ibaruri menyiratkan ketidaksetujuan dalam tatapan.
“Lantas, bagaimana aset kita, Pak? Terus, kemana idealisme warisan Tuan dan Nona?” desakku, agak tersengal dengan kemarahan.
“Kamu membela HAM dengan kata dan aksara. Sementara mereka melawan kita dengan uang dan senjata. Kamu berani menghadapi semua itu?” Ucapan Pak Rudy menohok hatiku sehingga aku hanya mengangguk setuju saja akhirnya.
“Memang perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata. Tapi, kamu perlu menimbang juga risikonya. Jangan sembarangan!” Pak Rudy menambahkan dengan sedikit lebih tegas.
“Maaf, Pak. Nanti kita berpisah sendiri-sendiri atau bersama?” Ibaruri takut-takut bertanya.
“Kamu aneh, Nak! Berpisah ya, sendiri-sendiri. Sekurang-kurangnya kamu bersama Munir.” Tukas Pak Rudy.
“Sekarang strateginya begini. Mereka sepekan lagi akan menggerebek rumah kita ini. Dari saat ini, tolong persiapkan segala sesuatunya agar kalian selamat dalam pelarian.”
Aku dan Ibaruri akhirnya beranjak setelah berbicara beberapa menit kemudian. Ke kamar masing-masing untuk mengemas perbekalan yang perlu-perlu saja agar tidak terlalu repot. Hari cepat berganti.
Tanpa terasa, akhirnya tiga hari menjelang penggerebekan tiba. Sepanjang hari-hari itu, banyak sekali ancaman intimidatif didapatkan.
Surat Kaleng, peletakan bom waktu dalam plastik hitam, suara tembakan di atas atap di malam hari, suara seruan menyerah dari megaphone di tengah malam, dan masih banyak lagi.
Untungnya Pak Rudy punya segudang solusi. Aku, Ibaruri, dan Ade Irma yang melaksanakannya.
Malam sebelum hari ketiga, suara pesawat tempur bolak-balik di udara. Aku terjaga dibuatnya.
Hati-hati aku ke kamar mandi untuk sedikit membersihkan diri. Kemudian, keluar kamar dengan membawa koper perbekalan, menuju kamar Ibaruri. Gadis itu keluar kamar juga, bertemu di depan, dan saling pandang sejenak.
“Aku curiga dengan Pak Rudy, Mun. Apa sebaiknya kita lari saja malam ini?” tanya Ibaruri, bergetar suaranya.
Aku belum sempat menjawab, terdengar suara tawa terbahak-bahak. Reflek Ibaruri menggamit tanganku dan agak merapatkan tubuh wanginya.
“Sudah kuduga, kalian cerdas. Tapi, bodoh juga.” Datang Pak Rudy dari arah ruang tamu.
“Maksud Bapak?” tanyaku, ragu-ragu.
“Kalian sebentar lagi akan ditangkap.” Tawanya kembali keras terbahak.
Bak tersengat petir, aku dan Ibaruri terkejut bukan main. Gadis itu menenggelamkan ketakutannya dalam pelukan.
“Kalian terlalu idealis! Padahal dengan uang, kita bisa tetap hidup. Organisasi tetap berjalan. Sejahtera didapat. Enak, bukan?” terang Pak Rudy sambil selangkah demi selangkah mendekati.
Rasanya tidak percaya senior pejuang sepertinya bisa berkata seperti itu. Ibaruri mulai terisak menangis.
Bentuk perasaan kekecewaan dan penyesalan yang tidak bisa kuterka seberapa dalamnya.
Pak Rudy mengisyaratkan sesuatu dengan senter yang diambil dari saku celana pada sesuatu yang kurasa membahayakan di belakangnya.
“Mun, kalau kita mati malam ini, tolong cari aku di surga!” ucap Ibaruri, terbata.
Cepat kututup bibirnya dengan telapak tangan. Tatapan matanya meredup, tanda tiada harapan. Aku menghela napas. Mau tidak mau memanfaatkan itu, pikirku.
Dari saku celana, aku mengambil sebuah bom waktu non aktif yang sempat aku simpan. Ku aktifkan lalu spontan aku lempar ke arah Pak Rudy.
Bersamaan dengan suara tembakan yang menyalak. Aku menarik Ibaruri untuk berlari ke arah pintu keluar yang berada di dapur. Terdengar suara ledakan di belakang.
Perasaanku sejujurnya cemas dengan Ade Irma. Bocah itu tidak tahu apa-apa. Dia hanya tahu tentang bapaknya sebagai seorang pejuang HAM.
Aku dan Ibaruri cepat berada di luar. Area taman belakang rumah terhampar luaas dengan kerlap-kerlip gemintang di langit.
Sebuah mobil Kijang baru yang aku kenal pun mendekat. Pintu belakang terbuka. Kaca pengemudi terbuka. Tersenyum Ade Irma dengan derai air mata.
“Mari, Kak! Aku tahu, Kak Munir yang membunuh Ayah dengan bom itu. Tapi, tidak mengapa. Irma iklas, karena kalau tidak begitu, Kita semua akan mati.”
Aku saling beradu tatapan dengan Ibaruri sesudah yakin akan kejujuran pada mata Ade Irma.
Lalu beranjak masuk. Tepat pintu tertutup, Irma mematikan mobil. Berlaku sebagai mobil tanpa penumpang akan mendatangkan selamat.
Sebab saat pintu tertutup, sinar senter pesawat tempur siluman (tanpa awak) menerangi taman belakang rumah.
Tinggal kita bertiga. LSM ini harus bubar. Kita akan mencari hidup baru di tempat baru. Irma, sebaiknya kamu bersama Ibaruri! Aku yang mengemudi.” Ucapku sambil meletakan koper tempatku dan Ibaruri di bagasi belakang dengan hati-hati.
Ade Irma pindah melalui celah tengah kursi. Aku membuka sedikit pintu , cepat-cepat berpindah ke depan setelah yakin kalau situasi aman.
“Lucu, seharusnya negara menambahkan radar sensor panas tubuh manusia pada pesawat tempur pengintai itu.” Gumamku.
“Tapi, tidak, kan?” timpal Ibaruri.
Suasana mulai menenang. Aku melajukan mobil menuju jalan yang sepi. Ade Irma dan Ibaruri ngobrol pelan di belakang.
“Seharusnya kita aman. Soalnya besok mereka baru datang. Dia hanya mengancam saja tadi sembari mendatangkan satu dua orang.” Gumamku, lagi.
“Maafkan Ayah, Kak.” Ade Irma tidak berani meneruskan.
“Tidak apa-apa. Takdirnya memang begitu. Kakak bisa menerima.” Jawabku, mencoba ikhlas.
Tebakanku benar. Sampai pagi, perjalanan kami berlangsung lancar dan aman. Dua kota sudah terlewati.
Namun, perbatasan Negeri Singa masih jauh. Harus melalui dua selat. Mau tidak mau mencari kapal yang aman dan tentunya bukan milik negara.
Ibaruri dan Ade Irma masih terlelap. Agaknya nanti harus berhenti istirahat di rumah makan di kawasan terpencil. Untuk mengusir kantuk, kuputar sebuah lagu aktifisme bernuansa pop kolosal.
Kasih sayang kuberikan
Kepada dirimu
Rasa cinta yang telah hadir
Sekejap hilang oleh pusaran waktu
Gerimis menderas malam ini
Dingin hingga telapak kaki
Keserakahan kekuasaan
Hilangkan paksamu
Bahagiaku kau hempaskan
Kau hempaskan bersama laguku
Kala malam telah sepi
Terhimpit aku di sini
Di jalan yang penuh duri
Di saat kau telah pergi
Ke manakah aku harus mencari
Dan di mana
Di mana engkau kini
Ke manakah aku harus mencari
Dan di mana
Di mana engkau kini
Gerimis menderas malam ini
Dingin hingga telapak kaki
Bunga-bunga yang telah mekar
Kau paksa layu
Berguguran berjatuhan
Oleh angin yang menyapu
Kala malam telah sepi
Terhimpit aku di sini
Di jalan yang penuh duri
Di saat kau telah pergi
Ke manakah aku harus mencari
Dan di mana
Di mana engkau kini
Ke manakah aku harus mencari
Dan di mana
Di mana engkau kini
Ke manakah aku harus mencari
Dan di mana
Di mana engkau kini
“Kemanakah” – Usman and The Black Stone, Fajar Merah
Bantul, 20 Januari 2025
Akbar AP, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta