SETELAH mengoyak tubuh lawannya yang ke sekian, pendekar itu mengangkat pedangnya yang berwarna merah darah ke langit sambil berteriak lantang kepada para kesatria dan pendekar lainnya. “Siapa lagi yang mempunyai nyali untuk mengantarkan nyawanya di ujung pedangku ini?”
Semuanya diam. Begitu pun sang raja tak berani menyahut. Wajahnya pucat, sang Baginda tidak percaya bahwa sebentar lagi kekuasaannya akan jatuh ke tangan pendekar sakti mandraguna itu.
Siapa yang tak kenal Randu Ijo, raja dari segala raja. Karena kekejaman dan kesaktiannya, Randu Ijo dijuluki kesatria Tanah Jawa. Hampir separuh kerajaan di Jawa tunduk di bawah kakinya. Sayap-sayap kerajaannya membentang dari timur ke barat.
Namun, Randu Ijo tak pernah puas kendati telah menjadi maharaja dan memiliki selusin istri yang jelita hasil rampasannya dari raja-raja lain. Dan itulah risiko yang harus dibayar Baginda Raja Sebrang Kidul setelah memutuskan menggelar sayembara uji kanuragan. Siapa yang keluar sebagai jawara akan diserahkan putrinya Diyah Pitaloka untuk dijadikan istri.
Alasan tunggal itulah yang membuat banyak para kesatria, pangeran, dan pendekar mengikuti sayembara. Siapa yang tak kenal Diyah Pitaloka, perempuan yang dianugerahi kecantikan dari dewa-dewa, membuat setiap lelaki ingin memperistri. Begitu pun dengan kesatria Tanah Jawa itu.
Tiba-tiba seorang pendekar berlari dari atas angin dan meluncur ke atas panggung. “Aku yang diutus malaikat untuk menghunus nyawamu,” katanya lantang.
“Hahaha… Kau telah menukar kebodohanmu dengan nyawamu sendiri anak muda. Siapa namamu? Biar semua orang yang ada di sini mengagungkannya setelah kematian menghampirimu.”
“Tawamu keluar dari pikiran yang angkuh. Dan keangkuhanmu akan merampas kehormatanmu sendiri. Namaku Kameswara. Cabut pedangmu bedabah. Mari kita tunjukkan pada dunia persilatan di tanah Jawa siapa yang lebih lihai memainkan pedang, aku atau kamu.”
“Sombong kau anak muda. Baik mari kita tunjukkan pedang siapa yang bermandi darah. Pedangku atau pedangmu.”
***
PERTARUNGAN pun terjadi. Dengan sengit dua pendekar itu saling menerjang. Setelah pertarungan berlangsung cukup lama hingga jurus ke tujuh dari kedua pendekar dikeluarkan.
Kameswara, pendekar yang terbang di atas angin itu berhasil menghunjamkan pedangnya ke tubuh sang lawan. Tanpa ampun Kameswara memisahkan kepala dari tubuh Singa Tanah Jawa itu setelah mengeluarkan jurus pamungkasnya: jurus pedang membelah rembulan.
***
SEWINDU telah berlalu. Bergantinya waktu dari tahun ke tahun seperti bergantinya antara siang dan malam. Kameswara telah menjadi raja dari segala raja. Dalam setiap pertempuran, ia berhasil menaklukan raja-raja lainnya tanpa ada satu pun dari pedang lawannya yang melukai tubuhnya.
Kemashuran telah ia peroleh, api kejayaan dalam hidupnya menyala terang-benderang. Seakan-akan dewata telah memberkati hidupnya.
Namun, ada satu yang ganjil yang mengganggu di pikiran dan batinnya. Tiada lain ialah istrinya Diyah Pitaloka. Kendati telah berumur sewindu usia pernikahannya, Kameswara tak sekalipun mendapatkan kehangatan tubuhnya, ranjangnya tak pernah bergoyang untuk menikmati bilik-biliknya, mereguk rahasia kebahagiaannya.
“Jangan pernah sentuh tubuhku. Aku tak sudi membiarkan tubuhku untuk diserahkan pada seseorang yang memperoleh keagungannya karena jerih payah kekejaman pedangnya,” ujar Diyah Pitaloka kepada Kameswara saat malam pertama.
Sejak saat itu pula Kameswara tak berani menyentuh istrinya. Sebab, ia mengancam akan menghunjamkan keris ke tubuhnya sendiri. Kebencian Diyah Pitaloka kepada Kameswara semakin memuncak. Segala upaya dan doa telah dilakukannya guna membunuh Kameswara.
“Siapa saja yang berani menghunuskan pedangnya di hadapanku, itu sama saja mengundang malaikat penyabut nyawa mendatangimu,” ujar Kameswara suatu waktu pada seorang pendekar sebelum membunuhnya hanya dengan satu sabetan pedang.
Percobaan demi percobaan pembunuhan terhadap Kameswara selalu gagal. Setiap kegagalan meninggalkan satu rahasia yang mengejutkan, yakni Diyah Pitaloka dalang di balik semuanya. Namun, hal itu tidak pernah ditanggapi serius oleh Kameswara, peristiwa demi perstiwa hanya menjadi angin yang lekas berlalu.
Upaya lain pun ditempuh Diyah Pitaloka demi cita-citanya, entah ilham darimana yang memasuki pikirannya. Kini, sudah berbulan-bulan Kameswara mengajarkan ilmu kanuragan pada istrinya, Diyah Pitaloka.
Kendati istrinya berulang kali hendak mencelakakan dirinya, namun karena cumbu rayu pada suatu purnama membuat hati Kameswara luluh. Setelah percintaan yang dahsyat, hari demi hari Kameswara memberikan kesaktian pada istrinya itu.
***
HINGGA pada suatu malam prahara di kerajaan Kameswara pun terjadi. Pemberontakan yang dilakukan pengikut setia Diyah Pitaloka berhasil meluluh-lantakkan kedaton. Kekacauan itu membuat Kameswara keluar dari peraduan. “Apa yang kau inginkan dari diriku, istriku?” tanya Kameswara pada Diyah Pitaloka. “Kematianmu,” jawabnya pendek.
Tanpa menunggu lebih lama, Diyah Pitaloka meluncur ke udara dan melayangkan pedangnya ke arah Kameswara. Dengan satu gerakan Kameswara dapat menghindar dari kematian yang sudah di depan mata.
“Jurus pedang membelah rembulan,” katanya dalam hati. “Ternyata inilah siasat busukmu istriku setelah kuajarkan segala kesaktianku padamu.”
“Jangan katakan sesuatu yang tak sudi aku mendengarkan. Aku tak pernah menganggapmu sebagai suami. Terimalah jurusmu sendiri.”
Pertarungan sengit pun tak dapat dihindarkan. Percikan pedang yang beradu bagai nyala kembang api di kegelapan malam. Pertarungan yang sebenarnya tak seimbang. Diyah Pitaloka penuh nafsu ingin menghunjamkan pedang ke tubuh Kameswara. Sebaliknya, Kameswara hanya bertahan dan menghindar.
Merasa kehabisan tenaga, jurus pamungkas pedang membelah rembulan pun dikeluarkan Diyah Pitaloka. Melihat jurus itu, Kameswara kaget bukan kepalang. “Tunggu,” kata Kameswara.
“Nyawa harus dibayar dengan nyawa.”
“Apa salahku? Aku tak mau melukai istriku sendiri.”
“Begitupun sebagai seorang anak tak rela ayahnya mati di depan matanya sendiri.”
Tertegunlah hati Kameswara. Teringat pertarungannya sewindu silam saat mengalahkan Randu Ijo. Pada saat itu Kameswara bukan hanya berhasil menjadi menantu seorang raja, melainkan mengangkat dirinya sendiri sebagai seorang raja setelah berhasil membunuh ayah Diyah Pitaloka.
Tiba-tiba dengan satu gerakan cepat seperti laju cahaya pedang telah menembus tubuh Kameswara, sebelum jatuh tersungkur Kameswara tersenyum sambil berujar, “Jagalah baik-baik anak dalam kandunganmu, istriku. Ceritakan padanya kelak bahwa ayahnya meninggal bukan oleh ujung pedang istrinya, melainkan terbunuh oleh kecantikannya.”
Setelah Kameswara roboh ke tanah, Diyah Pitaloka menangis mengiringi kematiannya. ***
Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme dan pemikiran sosial. Alumni Sastra Universitas Pamulang. Artikelnya dimuat di beberapa media massa, baik cetak maupun internet.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.