Yo dan Deretan Rompi Oranye

CERPEN LIA LAELI MUNIROH

Kau mungkin baru mendengar berita yang baru saja kau tonton di layar televisi milik Pak Lurah. Kota yang diberi julukan serambi mekkah telah menerapkan hukum baru.

Para pencuri akan dipotong jari-jemarinya, sementara pelaku asusila dan semacamnya akan dirajam. Andai saja di negerimu semua pelaku pencurian tak perlu memakai rompi oranye, cukup menuruti seperti aturan di kota sana. Mungkin akan berkurang deretan pelakunya dan rakyat akan menikmati kesejahteraan.

Dalam benakmu masih terbayang tancapan keras seorang algojo yang mengenakan pakaian serba hitam. Dia melaksanakan tugasnya mengeksekusi salah satu pencuri ayam di kota itu.

Tangan pelaku ditaruh di atas sebuah tempat yang terbuat dari kayu yang kokoh. Kepalanya ditutupi kain berwarna hitam. Algojo itu pun ditutup bagian kepalanya.

Hanya terlihat kedua bola matanya yang tajam. Sebuah kapak ukuran besar ditancapkannya dengan keras. Terpisahlah bagian jari itu. Sebagian yang menyaksikan saling menjerit histeris.

Kau masih mematung di depan layar televisi segi panjang tipis yang menempel pada tembok berwarna pink. Hanya kau yang bertahan berlama-lama menekuni berita sore hari.

Giliran sang wartawan mengabarkan antrean di salah satu gedung di pusat kota. Kabarnya gedung itu sering diceritakan dikunjungi para pemakai rompi oranye.

Kau mengerutkan jidat saat seorang menteri dan Bupati terkena OTT. Malangnya sang menteri malah melemparkan senyum tak berdosa para khalayak jurnalis. Batinmu bergemuruh. Tak adakah rasa bersalah dalam dirinya saat mengkhianati negerinya.

“Kau nonton apa, Yo?”

Suara hentakan kaki Pak Lurah menuruni anak tangga dari lantai dua. Pakaiannya cukup rapi kasual. Kaos putih berkerah merek polo, bawahannya celana jins hitam agak longgar. Seperti akan berangkat jalan-jalan menghirup udara sore.

“Hanya deretan para pemakai rompi oranye, Pak.”

“Semua itu mainan para penguasa, Yo.”

Kau tak berlama-lama berbincang dengan penguasa desa itu. Kau memilih keluar dari rumah Pak Lurah karena tak kuat menyaksikan berita sore itu.

Kau melangkahkan kaki dengan terburu menuju tempat tinggalmu. Sudah menjadi kebiasaanmu menikmati tontonan gratis setiap hari di rumah itu. Bahkan sesekali kau diajak penghuni rumah itu makan bersama.

Kau tak pernah menolak, karena di rumah itu selalu terhidang lauk pauk yang lengkap. Rumah bergaya minimalis dua lantai itu sangat elegan. Kau suka menghabiskan waktu untuk menonton berita di sana.

Rumahmu hanya terhalang lahan kosong milik Pak Lurah yang dibiarkan begitu saja. Seratus meter jarak antara rumah itu dengan rumahmu.

Kau nyaris dianggap anak oleh keluarga itu karena emakmu yang bekerja sebagai babu di sana. Tak sungkan kau bermain dan belajar dengan anaknya yang seumuran. Selepas meninggalkan rumah itu, Kau tidak segera beranjak memasuki rumahmu.

Kau sibuk menutupi halaman rumahmu yang terlihat becek bekas guyuran hujan semalam. Kau mengambil cangkul butut untuk mengambil beberapa gundukan tanah di bawah pohon jambu air. Sementara gundukan bata merah yang dipenuhi lumut menjadi hiasan di samping pohon jambu itu.

Berbeda dengan rumah Pak Lurah yang dihiasi puluhan bunga-bunga yang harganya selangit. Rumahmu sangat reyot tanpa hiasan apa pun.

Kau menatap gundukan bata merah yang dipenuhi lumut warna hijau tua. Dalam benakmu terbersit, kapan rumah yang kau tempati akan lebih baik. Lebih tepatnya yang kau tempati bukan rumah, tapi gubuk beratapkan seng.

Dindingnya dari bilik-bilik yang telah usang. Kau tak memiliki barang berharga di dalamnya, hanya emak barang berharga yang kau miliki. Tidak ada televisi apalagi internet seperti yang dinikmati anak-anak penguasa desa. satu-satunya radio butut untuk mengusir sepi sekarang sudah tidak menyala.

Rumah itu telah kehilangan ruhnya tatkala kedua orang tuanmu harus rela menghembuskan napas terakhirnya. Mereka digerogoti penyakit yang dibiarkan begitu saja. Bukan tidak mau berobat, karena faktor rupiahlah yang menjadi penyebabnya.

Bapakmu meninggal saat kau berusia sekolah dasar. Sementara ibumu meninggal saat kau mengenakan putih abu-abu. Kau begitu kehilangan saat itu. Sekolahmu nyaris putus waktu itu. Emaklah yang keukeuh agar kau lanjut sekolah.

Bahkan kau rela hanya makan satu kali dalam sehari. Tidak ada bantuan apa pun dari penguasa untukmu sebagai rakyat jelata. Nyatanya kekayaan hanya dinikmati para pemakai rompi oranye di negerimu. Kau hanya hidup sebatang kara dengan nenekmu yang selalu kau panggil ‘Emak’.

Kau ingin membahagiakan emakmu saat lulus melepas seragam putih abu. Kau bukan orang berada apalagi anak pejabat. Kau melamar di desa yang dekat dari rumahmu. Karena kasihan melihat emakmu yang menjadi babu di rumahnya, lantas Pak Lurah menerimamu.

Ternyata, gajimu tak cukup untuk membeli perabot kesukaan emakmu, apalagi merombak rumah. Terkadang tiga bulan baru kau menerima gaji. Namanya juga sukarelawan. Untuk mengganjal perut saja sudah beruntung tidak menunggu belas kasih orang.

Luput sudah keinginan untuk memiliki rumah permanen. Hanya berita saja di televisi ada bantuan perbaikan tempat tinggal dari Pak Gubernur.

Kau memang jauh dari dewasa, usiamu baru menginjak 19. Kau berbeda dari kebanyakan anak seusiamu. Kau jarang jajan atau menikmati makan enak seperti yang lain. Emakmu tidak cukup memiliki rupiah dan gajimu sangat terbatas.

Memang rumahmu tidak begitu jauh dari kantor desa, setiap hari lalu lalang orang bekerja melewati depan rumahmu. Kau pun biasa pulang saat jam istirahat untuk sekadar mengisi perut yang keroncongan.

Sebuah mobil berhenti membelakangimu yang sedang menginjak-nginjak tanah agak terlihat padat menutupi bagian yang becek. Pak lurah turun dari mobilnya yang berplat merah. Menyerahkan sebungkus roti bakar selai blueberry.

“Ini untukmu, jangan lupa bagi dengan emakmu, ya.”

Kau mengangguk, lalu gegas memasuki rumahmu yang nyaris runtuh. Jarang-jarang kau mendapatkan camilan spesial di sore hari. Emakmu sedang terlelap tidur saat satu gigitan pertama memenuhi rongga mulutmu. Kau begitu menikmatinya hingga suara tegukan air mineral terdengar kencang.

Satu tegukan langsung mendorong gulungan selai blueberry di bagian dalamnya tuntas meninggalkan tenggorokanmu. Emakmu terganggu mendengar asyiknya kau menikmati sajian itu hingga kedua maniknya terbuka.

“Apa yang kau makan, Yo?”
“Roti bakar rasa blueberry dari Pak Lurah.”
“Betapa baiknya dia. Kau sudah diterima bekerja di desa dan emak bisa bantu-bantu di rumahnya.”
***
Tidak biasanya sebelum jarum jam menunjukkan ke angka tujuh kau sudah meninggalkan gubukmu. Kau selalu menyusuri jalan yang sama saat kau berangkat dan pulang bekerja.

Karena hanya kau satu satunya pekerja yang berjalan kaki. Itung-itung olahraga katamu saat semua orang mengatakan, kenapa kau setiap hari berjalan kaki. Jarak rumahmu dengan kantor desa hanya terhalang tanah kosong, rumah Pak lurah, dan lapangan bola.

Kantor desa tepat menghadap ke sebuah tempat ibadah. Nasihat emak semalam masih terngiang di selaput pendengaranmu. Katanya kau harus bekerja baik karena jasa Pak Lurah begitu besar.

Kau tinggal berbelok ke depan masjid baru sampai di kantor desa. Kau mendadak menghentikan langkah sejenak, melihat mobil-mobil berplat luar kota terparkir di bahu jalan. Orang-orang memenuhi halaman itu tampak berjubel. Isi tempurungmu lantas berpikir apa yang terjadi. Kau mendadak menghentikan langkah lagi.

Baru saja kau hendak bertanya kepada rekan kerjamu. Pintu kantor kepala desa terbuka lebar. Dua orang di kanan kiri memegang kedua tangannya. Rompi oranye jelas melekat pada tubuh yang sangat kau kenali. Kau membuka lebar mulutmu. Sementara yang berompi oranye digiring menuju mobil yang telah dibuka pintunya. Saat berpapasan denganmu, dia masih sempat berkata.
“Yo ….”
Kau memalingkan muka. Tak kuat menyaksikan kenyataan.
“Aryo … maafkan Bapak telah merampas hakmu dan nenekmu.”
Kau masih tak menjawab. Kau hanya membatin. Padahal kemarin dia masih sempat memberimu sekotak roti bakar. ***

Lia Laeli Muniroh, lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Darul-Arqam Muhammadiyah, Garut, Jabar. Pegiat literasi dan penikmat sastra. Tulisannya tersebar di media sosial dan berbagai buku antologi cerpen, feature, memoar, puisi, dan artikel. Dua buku solo yang telah diterbitkan dengan judul: Anak Rantau Jadi CEO (NIMU PRESS, Sumedang-Jabar, 2022) dan Warisan Cinta Penjerat Asa (NIMU PRESS, Sumedang-Jabar, 2022). Domisili di pesisir pantai Pangandaran, Jawa Barat.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.

Lihat juga...