Pagi ketika semua orang membuat harapan, saat cericit burung yang ramai tertimpa deru kota yang tiada berujung, Janari sudah terjaga untuk mempersiapkan semua dagangan.
Rasa kantuk yang terus mencumbu matanya ia tahan-tahan dengan satu gelas kopi sachet yang ia beli di warung kelontong dekat kontrakannya. Istri dan dan bayinya masih terlelap dari lelahnya hidup yang tidak berujung.
Dimas si sulung juga sudah terbiasa terjaga sejak pagi untuk berangkat bekerja. Ia menjadi pekerja di rumah makan kecil milik tetangganya.
Seharusnya ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Namun, karena keterbatasan biaya ia terpaksa bekerja untuk membantu orang tuanya. Hal serupa yang selalu terjadi pada anak-anak orang miskin, termasuk juga sepupunya.
Pernah sekali sepupunya bercerita kepadannya, bagaimana bersedihnya ia ketika memandang iri teman-teman sebayanya yang pergi ke sekolah, sedangkan ia terpaksa menikah muda karena dipaksa oleh kedua orang tuanya.
Keharusannya bagi seorang perempuan miskin yang tidak bersekolah adalah menikah. Dengan begitu, anak bisa meringankan beban orang tua karena tidak harus menjadi tanggungan lagi, begitulah orang tuanya sering mengatakannya.
Perempuan tidak seharusnya sekolah karena pada akhirnya mereka hanya akan bekerja di dapur dan menggendong bayi. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk belajar tugas itu karena dengan kebiasaan akan bisa sendiri.
Begitu paman dan bibinya selalu mengatakan setiap kali sepupunya merengek ingin pergi ke sekolah dengan teman-temannya.
“Ketika teman-temanku berangkat sekolah menenteng buku dan tas, aku berangkat ke posyandu menggendong bayi.” Begitu ungkapnya suatu ketika.
Pun apa yang terjadi pada Dimas tidak jauh berbeda dengan sepupunya. Ketika teman-teman sebayanya berangkat ke Sekolah Menengah Pertama dengan menenteng buku dan tas, Dimas berangkat ke rumah makan dengan menenteng sekarung beras sebagai bahan jualan di tempat kerjanya.
Sekolah adalah impian semua remaja, terutama yang hanya menjadi kuli seperti dirinya dan sepupunya.
Putus sekolah di saat pemerintah mengadakan program wajib belajar 12 tahun adalah hal yang biasa terjadi di kalangan si miskin.
Meski biaya sekolah gratis, namun biaya lain-lain tetap harus dipenuhi untuk menunjang anak bersekolah seperti seragam, buku, tas dan lainnya. Hal-hal remeh temeh bahkan menjadi biaya yang sangat besar bagi si miskin.
Desik dedaunan membisikkan semua harapan pada Janari. Harapan akan hari esok yang akan datang bisa lebih baik dan lebih mudah dari hari ini. Ia selalu menggantungkan setiap harapan pada doa yang dibawa semilir angin pagi.
Meski dengan badan yang sangat lelah, Janari tidak pernah mengeluh tentang itu. Karena ia tahu, kedua anak dan istrinya adalah sumber kekuatan yang selalu membuatnya sehat dan bisa mengalahkan semua keletihan hati dan badannya.
Hari demi hari berjalan sama. Pagi hari ia berjualan nasi kuning dan siang sampai sore ia menjadi kuli bangunan. Malam hari ia pun pergi ke pasar dan memasak untuk persiapan jualan esok harinya. Begitu terus ia melewatinya setiap hari.
Namun semua harapan itu kini sudah menjadi arang, semua kekuatan itu bak hilang. Rasa lelah yang selama ini menderanya, kini menusuk setiap bagian tubuhnya, meninggalkan semua rasa sakit yang tiada terkira.
Kejadian itu terjadi pada pagi hari, ketika ia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan dagangannya karena merasa pusing. Meski keteguhan hatinya memberi kekuatan untuk tetap bekerja, namun secara fisik badannya sudah di ambang batas dan tidak sanggup lagi menahan rasa lelah.
Hari yang begitu melelahkan itu membuat badannya terasa sangat lemas dan kepala sangat pening. Mungkin karena ia terlalu lelah bekerja dan kurang tidur.
Ia pun memutuskan pulang dan beristirahat. Namun, apa yang dilihatnya ketika masuk kontrakan adalah istrinya tengah bercumbu dengan pemilik kontrakan.
Mata Janari memerah, degup jantungnya berdetak cepat dan darahnya terasa panas menahan marah. Kini hatinya terasa lebih sakit dari pada menahan badan yang lelah atau kepala yang pening.
Namun, ia kehilangan kata-kata, ia hanya memukul-mukul tembok dan pergi begitu saja meninggalkan istrinya dan pemilik kontrakan yang ketakutan.
Ia terduduk lesu menatap gerobak yang masih penuh dengan dagangan yang belum terjual. Langit yang selalu menemaninya seakan runtuh, meruntuhkan semua harapannya, membuyarkan semua angan-angan akan masa depan yang didambakannya.
Ia bertanya-tanya dosa apa yang ia perbuat, sehingga beban hidupnya terlalu berat untuk ia pikul. Siang malam ia bekerja keras, kehilangan batas waktu. Tidak ada ujung malam atau permulaan siang.
Baginya siang dan malam adalah sama, tak ada jadwal tidur, tak ada jadwal makan. Semua dilakukan dengan mencuri waktu. Tapi apa balasan yang ia dapat? Kemalangan demi kemalangan yang tiada henti dalam hidupnya.
Terkadang suratan memang sungguh kejam. Ada orang-orang yang bahkan bekerja semaunya, mengambil hak orang lain dan hidup dalam kemewahan dan kenyamanan. Namun, ada orang yang bekerja sangat keras, namun keberuntungan tetap tidak pernah menghampirinya.
Janari menangis sesenggukan, menahan luka yang menganga di dadanya. Air matanya pecah begitu derasnya mewakili semua luka menyakitkan yang menggerogoti setiap sudut hatinya.
Dimas si sulung hanya menatap diam. Ia sudah tahu apa yang dialami oleh orang tuanya. Meski itu mematahkan hati dan membuat jiwanya terhempas jauh ke dalam jurang kesedihan. Ia tetap memberanikan diri untuk melanjutkan hidup. Ia kembali berangkat bekerja dengan secuil harapan.
Di dalam hatinya, Dimas masih sangat resah dan bimbang. Namun, semua orang silih berganti bertanya apa yang terjadi dengan keluarganya.
Ia pun hanya bisa termangu dan menggelengkan kepala. Orang-orang tidak mau peduli apa yang ia rasakan. Mereka hanya membutuhkan satu tema pembicaraan untuk bahan bergosip.
Hari-hari berlalu dengan menyakitkan, Dimas pulang ke rumah yang sepi mencekam. Ibu dan adiknya telah pulang ke kampung menanggung semua aib yang telah ia lakukan.
Sedangkan Janari entah ke mana perginya laki-laki malang itu. Tak ada pesan apa pun untuk Dimas. Ia ditinggalkan anaknya begitu saja, seakan tidak berarti.
Dimas menjalani hari-harinya seperti biasa, seminggu berlalu semua hari tampak sama, menyakitkan dan menyedihkan. Namun, hari-hari berikutnya ia terus didatangi para penagih utang yang ditinggalkan ibunya.
Ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya. Semua sumpah serapah yang harusnya ditanggung orang tuanya dilontarkan para penagih utang kepadanya. Terkadang ada penagih utang yang sangat jengkel hingga melayangkan pukul kepadanya.
Dimas tidak tahu harus ke mana, ia tidak punya uang untuk kabur, ia juga tidak punya tempat untuk dituju. Tak ada rumah, tak ada ongkos dan tak ada keluarga. Ia bagaikan remaja tanggung yang tersesat dalam luasnya kehidupan ini.
Ia menutup diri di dalam kontrakan, semua lampu ia matikan. Ia tidak berani keluar, bahkan untuk membuka pintu ia benar-benar ketakutan. Para penagih utang mengira Dimas juga kabur mengikuti orang tuanya.
Lambat laun mereka berhenti berteriak dan menggedor pintu kontrakan. Sedangkan pemilik kontrakan tidak mau peduli.
Sudah seminggu Dimas tidak masuk kerja, membuat pemilik toko marah-marah karena ada banyak pekerjaan yang terbengkalai dan harus ia lakukan sendiri.
Di antara semua orang egois yang tidak punya rasa empati sedikitpun, tidak ada yang peduli apa yang terjadi pada Dimas. Meski orang-orang tahu apa yang menimpanya, semuanya seolah tak ada.
Janari yang mulai dingin kepalanya mencoba memberanikan diri untuk melanjutkan hidup. Sepedih apa pun luka yang ia rasakan, ia masih punya Dimas dan bayinya. Maka, ia berjanji akan melanjutkan hidup demi anak-anaknya.
Meski darahnya terasa mendidih saat ingat istrinya, namun kedua anaknya adalah buah cintanya. Tidak ada alasan untuk mengabaikan mereka.
Janari kembali ke kontrakan dengan semua luka yang ia dekap. Ia menyerahkan semuanya pada waktu, karena waktu adalah obat paling mujarab dalam menyembuhkan luka.
Meski ia tak mau lagi menginjakkan kaki di kontrakan penuh bencana itu. Namun, ia harus memberanikan diri untuk yang terakhir kalinya demi menjemput Dimas anaknya. Ia mencoba tegar meski jiwanya terluka, ia mencoba tersenyum meski hatinya menangis.
Saat pintu diketuk, semua sepi, lampu mati dan kontrakan kumuh itu seperti tidak berpenghuni. Janari membuka pintu kontrakan, dilihatnya tubuh Dimas telah tergantung dengan kain. Ia menjerit dan berharap Tuhan juga segera mencabut nyawanya. ***
Siti Hajar, penulis kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 10 Oktober 1994. Kesehariannya bekerja sebagai Staff Accounting.