Ketika krisis datang, pertanyaan tentang siapa diri kita dan di mana akar kita berada kembali mengemuka. Pernyataan tentang Aceh asli lalu menjadi alat tarik-menarik makna, antara sejarah, politik, dan emosi kolektif.
Aceh adalah peradaban panjang yang dibangun oleh lapisan-lapisan manusia dengan pengalaman sejarah berbeda. Gayo dan komunitas pedalaman menyimpan jejak paling awal dan paling kontinyu—relatif paling genuine. Sementara Aceh pesisir merupakan Aceh campuran, dengan DNA yang berbaur dengan beragam etnis global seperti Arab, Cina, Eropa, dan Hindia. Mereka membentuk wajah politik dan sejarah global Aceh, sekaligus membangun kebanggaan tersendiri. Itulah yang bisa kita rekam dari berbagai literatur digital yang bisa kita akses.
Namun penting disadari bahwa menghidupkan kembali isu separatisme bukanlah jawaban atas persoalan Aceh hari ini. Sejarah telah memperlihatkan betapa mahal harga konflik, baik dalam bentuk korban jiwa, kerusakan sosial, maupun trauma antargenerasi.
Di tengah bencana alam yang menuntut solidaritas dan kerja bersama, mengangkat kembali simbol dan retorika pemisahan justru berisiko memperdalam luka lama. Luka yang seharusnya telah disembuhkan, tetapi kini kembali dikoyak di tengah penderitaan. Mencuatkan kembali tema “Aceh original dan Aceh Campuran”.
Aceh tidak membutuhkan garis pemisah baru untuk menegaskan jati dirinya. Yang dibutuhkan adalah kedewasaan sejarah: kemampuan untuk mengakui seluruh lapisan identitas Aceh sebagai satu kesatuan. Kemudian mengarahkan energi kolektif pada pemulihan, keadilan sosial, dan masa depan yang lebih stabil. Apalagi suara sparatrisasi itu hanya minor.