Aceh Genuine

Mereka relatif berkembang di wilayah pedalaman dan pegunungan. Jauh dari arus perdagangan internasional yang kelak mengubah wajah Aceh pesisir. Karena minimnya asimilasi luar dalam waktu yang sangat panjang, kelompok-kelompok inilah yang secara antropologis dan linguistik sering disebut sebagai komunitas paling tua dan paling kontinyu di Aceh. Paling genuine Aceh.

Dalam pengertian ini, klaim bahwa orang Gayo adalah Aceh asli memiliki dasar historis dan akademik. Meskipun tidak berarti menafikan keberadaan kelompok Aceh lainnya.

Sementara pedalaman berkembang secara relatif stabil, wilayah pesisir Aceh memasuki fase sangat berbeda. Sejak awal Masehi, Aceh menjadi simpul penting jaringan perdagangan dunia. Kapur barus, lada, dan posisi geografis strategis menjadikan kawasan ini persinggahan pedagang dari India, Persia, Arab, Cina, dan Melayu.

Perjumpaan ini tidak berhenti pada transaksi ekonomi. Tetapi berlanjut pada perkawinan dan pembauran budaya. Dari proses panjang inilah lahir masyarakat Aceh pesisir sebagaimana dikenal hari ini. Sebuah komunitas yang darahnya merupakan percampuran lokal dan asing. Identitasnya dibentuk oleh interaksi global. Dibentuk oleh kosmopolitanisme Aceh pada waktu itu.

Islam masuk melalui jalur pesisir ini. Berkembang menjadi fondasi politik dan kultural kerajaan-kerajaan besar seperti Perlak, Samudra Pasai, dan Kesultanan Aceh Darussalam. Sejak itu, identitas Aceh semakin didefinisikan oleh agama dan kekuasaan. Bukan semata oleh asal-usul genealogis.

Aceh pesisir menjadi wajah Aceh ke dunia luar. Pusat politik, militer, dan intelektual. Sekaligus medan perjumpaan berbagai kepentingan asing.

Lihat juga...