Posdaya Mandiri Turut Antarkan Dusun Giriloyo, Imogiri Sebagai Kampung Batik
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
YOGYAKARTA — Dusun Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, saat ini dikenal sebagai kawasan pusat kerajinan batik di wilayah Bantul. Sebagai kampung wisata Batik terbesar di DIY, dusun ini hampir tak pernah sepi dikunjungi wisatawan.
Hampir di setiap ruas jalan dusun, sejumlah galeri batik berdiri. Para warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga, dengan mudah ditemukan sedang membatik menggunakan canting dan malam di dusun ini. Bahkan sebuah tempat berupa pendopo sengaja didirikan sebagai pusat lokasi wisata batik.
Adalah Posdaya Mandiri, salah satu yang ikut berperan menjadikan dusun Giriloyo, berkembang seperti sekarang. Posdaya yang didirikan pasca Gempa Bantul tahun 2006 ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, turut membantu memberdayakan potensi masyarakat dusun Giriloyo.
“Sebenarnya Giriloyo itu sudah dikenal sebagai kawasan sentra batik sejak lama. Karena memang secara turun-temurun, semua warga disini, khususnya ibu-ibu biasa membatik. Hanya saja dulu potensi itu belum dikembangkan,” ujar Ketua Posdaya Mandiri sekaligus Kepala Dusun Giriloyo, Muhammad Amrullah.
Menurut Amrullah, momentum kebangkitan warga dusun Giriloyo, terjadi pasca gempa bumi Bantul tahun 2006. Selama proses rekonstruksi itulah, berbagai program pemberdayaan dijalankan untuk mengangkat potensi dusun sekaligus memperbaiki kondisi warga pasca gempa.
“Sebenarnya tidak banyak rumah warga disini yang rusak parah, namun gempa itu tetap memberikan dampak dari sisi sosial maupun ekonomi. Dari situlah banyak program-program pemberdayaan dijalankan, termasuk melalui posdaya yang didirikan,” katanya.
Bekerjasama dengan berbagai pihak, baik itu pemerintah maupun swasta seperti perusahaan BUMN hingga LSM, Posdaya Mandiri dusun Giriloyo aktif melakukan pelatihan dan pendampingan kepada warga. Sejumlah bantuan modal alat juga diberikan. Tujuannya tak lain untuk mengembangkan potensi kerajinan batik di Giriloyo.
“Dulu kebanyakan warga disini hanya membuat batik mentah (batik setengah jadi), kemudian dijual ke Jogja. Namun setelah adanya berbagai pelatihan dan pendampingan, sudah banyak warga yang bisa mewarnai sendiri. Sehingga mereka bisa menjual produk batik yang sudah jadi secara mandiri,” katanya.
Selain berupaya meningkatkan pendapatan dan ekonomi warga melalui pelatihan terkait teknik proses membatik, Posdaya Mandiri juga aktif mendorong dusun Giriloyo ditetapkan sebagai desa wisata batik. Dengan begitu diharapkan akan banyak wisatawan berkunjung ke desa, sehingga dapat menghidupkan ekonomi dusun.
“Saat ini dari sekitar 200 KK di dusun Giriloyo, 75 persennya itu memiliki usaha kerajinan batik. Bahkan total jumlah pengrajin di Giriloyo ini termasuk dusun Cangekan dan Karangkulon, mencapai 700-800 orang lebih. Selain mendapatkan hasil dari menjual produk batik, warga juga mendapatkan pemasukan dari berbagai kegiatan pelatihan membatik bagi wisatawan,” katanya.

Meski secara umum bisa dikatakan telah berhasil memberdayakan warga, namun Amrullah menyebut upaya pemberdayaan posdaya Mandiri bagi warga dusun, masih terus dilakukan sampai saat ini. Hal itu tak lepas karena masih ada sebagian warga yang belum mampu memproduksi batik secara mandiri.
“Sampai saat ini upaya pemberdayaan masih terus kita lakukan. Karena masih ada warga yang belum bisa melakukan proses pewarnaan. Sehingga harus tetap kita latih, kita dorong dan kita dampingi, sampai bisa mandiri,” pungkasnya.