SELASA, 20 DESEMBER 2016
JAKARTA — Dalam Kuliah Umum dan Seminar Wawasan Nusantara di Museum Nasional Jakarta yang dibawakan Prof. Dr. Hasjim Djalal, Pakar Hukum Kelautan Internasional dan Pelaku Sejarah Deklarasi Djuanda, Sabtu (17/12/2016), ia banyak menyinggung tentang pentingnya Indonesia mengenal lebih dalam sekaligus menggunakan teknologi dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sampai pemanfaatan kekayaan alam.
| Prof. Dr. Hasjim Djalal, Pakar Hukum Kelautan Internasional dan Pelaku Sejarah Deklarasi Djuanda, menjelaskan pentingnya penggunaan teknologi untuk menjaga kedaulatan, khususnya di wilayah perairan Indonesia. Sebab, banyak kapal asing yang kerap tak terdeteksi berkeliaran di perairan Indonesia. |
Kepada Kementerian Pertahanan, Hasjim kerap memberikan masukan, memandang wawasan Nusantara adalah dengan visi tiga dimensi. Ibaratnya, secara mendatar sejauh mata memandang ke samudera lepas, turun ke bawah sampai kedalaman laut gelap dan memandang jauh ke udara sejauh mata menembus awan sampai ke langit ke tujuh hingga luar angkasa. Namun, pertanyaan yang mengemuka untuk turun jauh ke bawah adalah how far can you go down dan untuk ke atas adalah how far can you up there? Dan penggunaan teknologi adalah jawaban untuk keduanya.
Hasjim mengatakan, beberapa waktu lalu, ia baru saja menghadiri Peringatan Hari Nusantara di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, menurut warga Lembata, sekarang menjadi jalur lalu lintas ikan paus. Pertanyaan di benak Hasjim adalah: sejak kapan ikan paus berubah arah dengan melewati Lembata, NTT? Apakah tidak ada seorang pun di negara ini yang menembus pemikiran untuk membedakan ikan paus dan kapal selam? Apakah tidak ada kemungkinan satu atau beberapa kapal selam kerap lewat kemudian melaporkan posisinya kepada head quarters atau markas besar mereka di Guam atau Hainan yang akhirnya mengganggu navigasi ikan paus sehingga ikan-ikan tersebut berubah arah?
![]() |
| Suasana kuliah umum mengenai kedaulatan negara dan wawasan kebangsaan di Museum Nasional Jakarta. |
“Beberapa bulan lalu, ditangkap ikan paus di Probolinggo. Sejak kapan ikan paus memiliki jalur ke arah Surabaya? Karena kemungkinan sudah sejak ratusan tahun yang lalu, jalur mereka melewati Laut Sawu ke arah utara. Saya coba dapatkan penjelasan mengenai ini, tapi semua penjelasan yang saya dapatkan tidak jelas,” ungkap Hasjim, disambut tawa lepas seluruh peserta kuliah umum dan seminar.
Bahkan, baru-baru ini, dalam sebuah berita yang dibaca Hasjim di media cetak, dikatakan, RRC berhasil menemukan banyak sekali bekas detecting device yang pernah dipasang di kedalaman laut wilayahnya. Detecting device tersebut bukan sembarangan, karena benda-benda itu untuk mengendalikan drone bawah laut. Itu merupakan penemuan berharga dalam konteks pertahanan keamanan wilayah laut RRC.
“Beralih lagi ke Indonesia, pernahkah bangsa ini menyadari, jika ditarik garis lurus mulai Kepulauan Spratly di gugusan Laut China Selatan yang kerap disengketakan beberapa negara, sampai garis lurus itu bertemu di Pulau Christmas (barat daya Pulau Jawa) yang ternyata adalah wilayah Australia? Faktanya garis lurus tersebut melewati daerah Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur. Jika alat deteksi drone ditanam pihak tertentu yang tidak diketahui Angkatan Laut Indonesia, dapat dibayangkan tragedi yang ditimbulkan drone itu bagi kedaulatan wawasan nusantara Indonesia. Akan tetapi, sepertinya Indonesia santai saja, seolah tidak berpikir ke arah itu,” kata Hasjim lagi.
Padahal, di zaman dahulu juga, kedaulatan Indonesia sempat ternoda pada 1960 kala kapal selam pertama Amerika Serikat berhasil mengelilingi dunia untuk pertama kali. Ketika dikonfirmasi Hasjim kepada Lembaga Pertahanan dan Keamanan Militer Amerika Serikat (Pentagon), mereka hanya menjawab santai sambil tertawa, kapal selam mereka melewati wilayah laut Indonesia tanpa terdeteksi. Oleh karena itulah, belajar dari sejarah sekaligus mengamati perkembangan dunia internasional dewasa ini, kebutuhan memahami serta menggunakan teknologi adalah kebutuhan sangat mendesak.
RRC atau sekarang biasa disebut Tiongkok, sudah memiliki 70 buah kapal selam, Singapura sudah positif 6 kapal selam, belum lagi Malaysia, Australia, dan negara-negara tetangga lainnya di kawasan ASEAN sampai Asia jauh. Indonesia adalah jalur favorit bagi kapal-kapal selam Tiongkok untuk lewat menuju Samudera Hindia. Dalam konteks pertahanan dan keamanan negara, demi menjaga kedaulatan wawasan nusantara, penggunaan teknologi bawah laut untuk mendeteksi kehadiran benda-benda aneh seperti kapal selam maupun detecting device untuk drone atau apa pun itu adalah sangat mendesak diadakan. Walau mahal harganya. Dengan menguasai teknologi, Indonesia dalam hal ini TNI Angkatan Laut Indonesia, dapat semakin mewaspadai setiap ancaman gangguan keamanan, walau berasal dari kedalaman laut paling gelap sekalipun. Artinya, kedaulatan wawasan nusantara dapat terjaga, dan ke depannya, keutuhan NKRI juga terawat dengan baik.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw
