Karma Geopolitik

Namun abad ke-20 menunjukkan pembalikan historis yang tajam. Dua perang dunia menghancurkan fondasi Eropa sebagai pusat hegemoni global. Inggris, Prancis, dan Belanda kehilangan koloni dan status imperiumnya. Sementara biaya moral, ekonomi, dan demografis perang melemahkan dominasi mereka secara permanen.

Paul Kennedy (1987) menyebut fenomena ini sebagai imperial overstretch. Beban geopolitik melampaui kapasitas internal.

Jepang mengulang pola serupa dalam skala lebih singkat. Ekspansi militer agresif di Asia Timur dan Tenggara berujung kehancuran nasional akibat PD II. Ditandai kekalahan total dan bom atom.

Dari sudut pandang struktural, ini menegaskan ekspansionisme koersif dalam sistem internasional modern cenderung memicu koalisi penyeimbang dan kehancuran balik (Waltz, 1979).

Era pasca-kolonial, bentuk penundukan berubah dari militer menjadi ideologis. Upaya kooptasi komunisme internasional terhadap Indonesia pada 1948 dan 1965—baik melalui jalur bersenjata maupun penetrasi politik—menunjukkan ideologi global juga dapat berfungsi sebagai instrumen geopolitik. Namun karma politik komunisme justru tampak dalam kehancuran sistem itu sendiri di tingkat internasional.

Uni Soviet, sebagai pengusung utama dan pusat gravitasi komunisme dunia, runtuh dan terbelah pada 1991. Mengakhiri Perang Dingin sekaligus menandai kegagalan komunisme sebagai proyek hegemonik global.

Fragmentasi Soviet, kemerosotan ekonomi negara-negara sosialis, dan transformasi Tiongkok ke arah kapitalisme negara menunjukkan ideologi yang dipaksakan lintas bangsa tanpa akar kultural yang kokoh cenderung kehilangan daya hidup historis. Indonesia yang menolak menjadi satelit ideologi global justru bertahan sebagai negara utuh.

Lihat juga...