Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 13/01/2026
Beberapa tahun terakhir, politik internasional bergerak dalam pola semakin berlapis. Saling bertaut. Pengakuan Israel terhadap Somaliland. Tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela di bawah pemerintahan Donald Trump. Perjuangan panjang Palestina untuk mendapatkan negara merdeka. Semuaanya sering tampak berdiri sendiri.
Namun jika ditarik dalam satu bingkai analitis, ketiganya mencerminkan dinamika yang sama. Ialah ketegangan antara kepentingan geopolitik kekuatan besar. Komitmen kolektif internasional terhadap hukum, kedaulatan, dan penyelesaian konflik secara adil.
Komitmen internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah solusi dua negara bagi Palestina. Begitu pula ditegaskan berulang dalam KTT negara-negara Arab dan forum multilateral. Agenda Palestina Merdeka menjadi sangat krusial. Bagaimana agar tidak tergerus oleh munculnya isu-isu baru seperti Somaliland dan Venezuela.
Pengakuan Israel atas Somaliland pada akhir 2025 merupakan peristiwa penting. Pertama kalinya sebuah negara anggota PBB secara resmi mengakui wilayah yang secara internasional masih dianggap bagian Somalia.
Reaksi internasional cepat dan luas—termasuk dari Somalia, Uni Afrika, OKI, Liga Arab, dan lebih dari 20 negara Afrika serta dunia Islam—. Menunjukkan isu ini menyentuh inti prinsip hukum internasional: keutuhan wilayah dan kedaulatan negara.
Indonesia, melalui pernyataan resmi di forum OKI, menegaskan Somaliland bagian tidak terpisahkan Somalia. Indonesia menolak segala bentuk pengakuan sepihak yang berpotensi menciptakan preseden berbahaya.