Panen Jeruk Melimpah Beri Peluang Usaha Pedagang Keliling

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Musim panen jeruk dari sejumlah petani di wilayah kecamatan Kalianda, Palas Lampung Selatan (Lamsel) melimpah. Pasokan buah segar dengan rasa manis tersebut menjadi peluang usaha bagi pedagang keliling.

Suhar, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut memanfaatkan peluang dengan membeli buah jeruk langsung dari petani dan menjualnya.

Sekali pembelian Suhar menyebut menyiapkan stok sebanyak 100 kilogram atau satu kuintal. Buah jeruk jenis siam Banyuwangi menurutnya dibeli dari petani di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas.

Proses pemetikan langsung dilakukan olehnya dengan harga Rp7.500 per kilogram. Berbekal karung buah yang dipetik akan ditimbang oleh pemilik yang tinggal di kebun.

Membeli sebanyak 100 kilogram jeruk akan dijual keliling dengan motor yang diberi keranjang bambu. Ia menjual jeruk siam Banyuwangi tersebut dengan harga bervariasi mulai Rp12.000 hingga Rp15.000 sesuai ukuran.

Mendapatkan keuntungan rata-rata Rp5.000 ia bisa mendapat omzet penjualan sekali keliling Rp1,2 juta dengan harga rata-rata Rp12.000 per kilogram.

“Petani selalu memberi tambahan jeruk saat saya membeli dari lahan miliknya karena sesuai kebiasaan pembeli akan mencicipi jeruk sehingga meski membeli sebanyak satu kuintal akan diberi tambahan belasan kilogram,” terang Suhar saat ditemui Cendana News, Senin (3/8/2020).

Peluang usaha berjualan jeruk segar menurut Suhar dilakukan olehnya sebagai sambilan. Sebab meski sebagai petani padi saat awal Agustus tanaman miliknya masih memasuki tahap pemupukan.

Usai melakukan pemupukan dan perawatan tanaman padi ia bisa berjualan jeruk segar secara keliling. Jenis jeruk siam berkulit hijau diakuinya memiliki rasa yang manis cocok untuk dinikmati saat musim panas.

Peluang usaha menjual buah jeruk segar diakui Suhar memanfaatkan musim liburan. Sejumlah objek wisata pantai yang ramai dikunjungi menjadi lahan untuk berjualan.

Meski mendapat keuntungan terbatas ia menyebut usaha menjual hasil pertanian jadi pilihan saat ekonomi sulit pada masa pandemi Covid-19. Menjual buah jeruk dilakoninya setiap masa panen komoditas buah tersebut.

Rohmat, pedagang jeruk dengan skala lebih besar menjual sebanyak empat kuintal per hari. Pedagang asal Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur tersebut memilih berjualan memakai mobil. Berbekal alat timbangan jeruk siam Banyuwangi ditawarkan secara keliling. Ia menjual jeruk siam Banyuwangi hanya seharga Rp10.000 per kilogram.

Rohmat (kanan) pedagang jeruk siam Banyuwangi membawa hasil panen petani di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan setiap hari sebanyak empat kuintal jeruk dijual secara keliling, Senin (3/8/2020) – Foto: Henk Widi

“Strategi marketing memasang harga terendah untuk ukuran jeruk kecil dan jeruk ukuran sedang dan besar selisihnya hanya Rp3.000,” cetusnya.

Peluang berjualan hasil pertanian jeruk menurutnya jadi usaha musiman. Sebab salah satu mantan karyawan swasta di Banten yang terimbas pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut sulit mencari pekerjaan.

Membawa sebanyak empat kuintal saat liburan panjang di objek wisata pantai ia bisa menjual lebih dari tiga kuintal per hari. Pasokan jeruk yang melimpah dari petani menurutnya membuat harga bersaing.

Sejumlah pedagang jeruk lainnya menyebut kerap menjual dengan harga lebih rendah. Sebagai solusi untuk memperluas jangkauan penjualan ia berkeliling ke sejumlah desa. Hasilnya dengan memakai pengeras suara penjualan jeruk siam laris. Hasil penjualan menurutnya digunakan untuk biaya operasional bahan bakar, modal, sisanya jadi keuntungan.

“Saat musim buah melon dan semangka saya juga menjualnya karena musim kemarau tepat menawarkan buah segar,” cetusnya.

Kadeni, pemilik lahan tanaman jeruk di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas menyebut masa panen sudah sejak Juli silam. Secara bertahap buah jeruk bisa dipanen hingga akhir Agustus dengan total hasil panen bisa mencapai 10 ton bahkan lebih.

Panen bertepatan dengan musim kemarau diakuinya sangat menguntungkan sebab buah jeruk segar banyak disukai masyarakat.

“Saya hanya menanamnya para pedagang akan datang membeli ke sini, sebagian masyarakat yang ingin berwisata petik jeruk bisa datang,” cetusnya.

Selain memberi peluang bagi usaha pedagang buah ia juga memberi kesempatan warga bisa berwisata. Kadeni menyebut memiliki ratusan batang pohon jeruk siam Banyuwangi dan terus menambah luasan lahan.

Sebab potensi lahan pertanian di wilayah tersebut bisa dimanfaatkan untuk budidaya buah jeruk. Selain dirinya sejumlah petani lain mengikuti jejaknya dengan menanami jeruk di setiap kebun.

Memiliki lahan seluas satu hektare pada penanaman tahap awal, ia menambah luasan menjadi tiga hektare. Sistem pengairan dilakukan dengan memanfaatkan sumur bor.

Memasuki musim kemarau kebutuhan pengairan didistribusikan memakai selang. Panen saat memasuki musim kemarau membuat kebutuhan akan air lebih bisa dihemat karena buah kurang air justru akan memiliki rasa manis.

Lihat juga...