Lebaran dan Rekonsiliasi Sosial

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 13/03/2026

 

 

Malam terakhir Ramadan di banyak kampung di Indonesia selalu terasa istimewa. Sebagai contoh di Trenggalek, Jawa Timur. Gema takbir berkumandang di setiap sudut kampung dari Masjid-Mushola.

Bahkan takbir itu menggema sepanjang sepanjang jalan. Takbir keliling.

Warga berkeliling kampung, khususnya anak-anak. Sebagian membawa obor, sebagian lagi menaiki kendaraan sederhana sambil menabuh bedug atau berbagai ragam alat musik dan melantunkan takbir menyambut datangnya Idul Fitri.

Pagi harinya warga berkumpul untuk sholat Idul Fithri di Masjid-Mushola. Setiap keluarga membawa ambeng. Paket makanan berisi nasi dan lauk seperti ayam lodho. Ialah ingkung ayam panggang yang dimasak santan pedas khas daerah tersebut.

Ambeng itu dibawa ke masjid atau musholla di lingkungan tempat warga melaksanakan sholat Id. Setelah sholat Id dilakukan doa bersama. Tasyakuran bisa melewati tempaan Ramadhan. Ambeng itu didoakan. Kemudian dibagikan dan dimakan bersama jamaah yang hadir.

Sebagian warga juga membawa pulang beberapa bungkus makanan. Sering kali berisi campuran masakan dari berbagai keluarga. Tradisi ini sederhana, tetapi sarat makna kebersamaan.

Setelah itu, keluarga berkumpul di rumah untuk sungkeman. Anak-anak dan orang muda memohon maaf kepada orang tua. Kemudian dilanjutkan silaturahmi dari rumah ke rumah. Warga saling berkunjung meminta maaf dan saling memaafkan.

Silaturahmi berlangsung berhari-hari, bahkan sampai Lebaran Ketupat pada hari ketujuh atau kedelapan setelah Idul Fitri. Awalnya silaturahmi dari lingkungan sekitar, kemudian desa tetangga, melebar hingga antar kota. Termasuk agenda-agenda reuni keluarga. Mengumpulkan keluarga yang setahun dan bahkan bertahun-tahun terpisah jarak.

Tradisi serupa dengan bentuk berbeda dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Di Yogyakarta masyarakat mengenal Grebeg Syawal dengan arak-arakan gunungan hasil bumi dari keraton ke masjid.

Di Aceh ada tradisi Meugang, yaitu memasak dan berbagi daging bersama keluarga dan tetangga menjelang lebaran. Di Bali dikenal tradisi Ngejot, yakni saling mengirim makanan kepada tetangga, bahkan lintas agama.

Di Bengkulu, malam takbiran diramaikan dengan tradisi Bakar Gunung Api dari susunan batok kelapa yang dibakar bersama. Di Lombok, beberapa hari setelah lebaran masyarakat merayakan Perang Topat. Saling melempar ketupat sebagai simbol syukur dan persaudaraan.

Ragam tradisi ini menunjukkan bahwa lebaran di Indonesia bukan sekadar perayaan keagamaan. Tetapi juga peristiwa sosial yang kuat.

Secara spiritual, silaturahmi dan saling memaafkan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Nabi Muhammad bersabda, “Tidaklah dua orang Muslim bertemu lalu berjabat tangan, kecuali diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi.

Dalam konteks ini, berjabat tangan dan saling memaafkan menjadi sarana membersihkan hubungan antarmanusia. Setelah sebulan memperbaiki hubungan dengan Tuhan selama Ramadan.

Namun dampaknya tidak hanya spiritual. Tradisi silaturahmi lebaran juga memperkuat kohesi sosial. Dalam perspektif sosiologi, praktik berkumpul, makan bersama, dan saling berkunjung seperti ini dapat dipahami sebagai bentuk ritual sosial yang memperkuat solidaritas kolektif.

Sosiolog Émile Durkheim menjelaskan bahwa ritual bersama dalam masyarakat berfungsi meneguhkan kembali rasa kebersamaan dan identitas kolektif. Melalui pertemuan rutin yang sarat simbol—seperti berjabat tangan, makan bersama, atau sungkeman—hubungan sosial yang renggang dapat diperbaiki.

Karena itu, orang yang mungkin selama setahun jarang bertemu, bahkan yang sempat berselisih, dipertemukan kembali dalam suasana hangat. Lebaran menjadi ruang rekonsiliasi sosial yang berlangsung secara alamiah.

Bayangkan jika rekonsiliasi sosial harus dilakukan melalui program formal negara: forum dialog, mediasi konflik, atau program integrasi sosial. Semua itu memerlukan biaya besar, waktu panjang, dan sering kali tidak sepenuhnya efektif.

Sebaliknya, lebaran menghadirkan mekanisme rekonsiliasi yang berjalan spontan, sukarela, dan tanpa paksaan. Dalam istilah sosiologi modern, proses ini juga dapat dipahami sebagai pembentukan modal sosial (social capital). Ialah jaringan kepercayaan, norma, dan hubungan timbal balik yang memperkuat kehidupan masyarakat.

Di situlah kekuatan lebaran dalam masyarakat Indonesia. Ia bukan hanya hari kemenangan spiritual, tetapi juga mekanisme sosial yang memperbaiki hubungan antarmanusia.

Tanpa anggaran negara (kecuali anggaran perbaikan jalan rusak), tanpa program resmi, masyarakat melakukannya sendiri. Setiap tahun, dengan penuh kegembiraan. Melalui momentum lebaran.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...