Aplikasikan Iradiasi, Beras Lokal Sijunjung Berumur Tanam Lebih Pendek

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Lampai Kuniang, yang merupakan beras lokal Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat terkenal pera dan memiliki aroma yang wangi. Pilihan masyarakat lokal untuk mengkonsumsinya terkendala oleh umur tanam yang lama.

Kasie Pemerintahan dan Kependudukan Kecamatan IV Nagari Sumatera Barat , Hendra, SP, M.Si, saat seminar online PAIR BATAN, Senin (20/7/2020) – Foto Ranny Supusepa

Hal ini, mendorong pemda Kabupaten Sijunjung untuk bekerjasama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dalam menciptakan varietas unggul, dengan rasa dan jenis Lampai Kuniang, tapi memiliki umur tanam lebih pendek dan tahan rebah yang dikenal dengan nama Lampai Sirandah.

Kasie Pemerintahan dan Kependudukan Kecamatan IV Nagari Sumatera Barat, Hendra, SP, M.Si, menyatakan kerjasama Kabupaten Sijunjung dengan BATAN itu mulai dilakukan sejak 2015.

“Kerjasama ini dilakukan untuk memperbaiki Lampai Kuniang yang merupakan varietas lokal dari Sijunjung,” kata Hendra saat seminar online PAIR BATAN, Senin (20/7/2020).

Tujuan kerjasama ini adalah menghasilkan varietas Lampai Kuniang yang genjah, tahan rebah tapi rasanya tidak berubah. Tetap seperti rasa yang disukai oleh masyarakat Sijunjung.

“Saat proses pemuliaan tanaman, digunakan dua dosis. Ada yang menggunakan 200 kGy, ada yang menggunakan 300 kGy. Perlakuan dilakukan untuk sekitar 10.000 tanaman untuk menghasilkan panen 8.000 malai pada M2,” urainya.

Dari hasil M2 ini, dipilah tanaman berbatang pendek dan genjah untuk dijadikan benih penanaman M3.

“Dari 574 galur dari M2, kita tanam masing-masing 200 tanaman, masih terlihat segregasi. Dari M3, dipilih 15 Galur untuk ditanam di gelas akua masing-masing 100 tanaman. Sebagian sudah terlihat pendek,” urainya lebih lanjut.

Pada M6 yaitu pada Desember 2017, Hendra menyebutkan, penanaman sudah mulai dilakukan di lahan untuk 4 kelompok galur terbaik.

“M7 yang ditanam pada periode April – Juli 2018, menghasilkan tanaman homogen yang dilanjutkan untuk pengujian terhadap 10 galur terbaik untuk penanaman M8,” ucapnya.

Dari hasil M8 ini, dilakukan uji adaptasi di dua lokasi pada rentang waktu Desember 2018 hingga Maret 2019 bersamaan dengan uji ketahanan hama penyakit pada rentang waktu September 2018 hingga Oktober 2019. Dilanjutkan dengan uji kualitas hasil pada Mei hingga Juli 2019.

“Hasilnya, dipilih empat untuk sidang pelepasan varietas yang dilakukan pada November lalu di Bogor. Pada tanggal 6 Maret 2020, terbit rekomendasi pelepasan calon varietas unggul dengan nama Lampai Sirandah. Baru muncul surat keputusan pelepasan varietasnya pada 17 Juni kemarin,” ucap Hendra.

Peneliti PAIR BATAN Dr Ir Sobrizal, M.Sc menyebutkan perlakuan mutasi iradiasi pada Lampai Kuniang adalah untuk merubah sifat umur tanaman yang pendek dan tanaman yang tinggi.

“Dari hasil perlakuan, didapatkan pengurangan umur tanam menjadi 105 hari. Lebih pendek sekitar 24 hari dari umur tanam sebelumnya,” kata Sobrizal pada kesempatan yang sama.

Tinggi tanaman menjadi 104,43 cm yang membuat tanaman menjadi lebih pendek dan tidak rebah.

“Aroma tanaman dan sifatnya yang pera tidak berubah, sesuai dengan apa yang disukai masyarakat lokal Sijunjung,” ujarnya.

Dari hasil perlakuan, juga didapatkan potensi hasil panen rata-rata 8,66 ton per hektare, kandungan amilosa 29,89, agak tahan pada hama HDB dan agak tahan blas ras 173.

Lihat juga...