Sakura Gugur

CERPEN LINA HERLINA

SETELAH puas menatap daun-bunga berguguran di Taman Inokashira, selalu dilanjutkan dengan berjalan sepanjang trotoar. Tentu saja tujuannya adalah stasiun Shibuya.

Bukan, bukan karena mau pergi jauh ke luar kota. Tapi sekadar duduk-duduk di kursi halaman stasiun. Pura-pura sambil membaca buku. Padahal mengumbar lamunan. Sepuasnya.

Mengumbar lamunan, sampai ke mana pun, tanpa dibatasi apa pun. Menyenangkan, menenangkan, menikmati, tanpa takut seperti di negeri sendiri. Tidak akan ada yang menyelidiki sedang apa dan kenapa.

Seperti itu setiap tahun saat berlibur ke Jepang. Taman Inokashira dan stasiun Shibuya yang menjadi tujuan utama. Tidak pergi ke tempai lain lagi atau mencari sesuatu yang khas Jepang lainnya. Karena di dalam hati ini hanya ada kedua tempat itu.

Pernah Miho dan Kawabata, suami-istri yang sudah dianggap saudara, memaksa mengunjungi kuil Meiji dan mereka menjadi guide gratis. Segala diceritakan sambil menunjuk tempat-tempatnya. Tapi pikiran dan perasaan saya mungkin tidak siap, jadi semua cerita dan tempat yang ditunjukkan itu lupa lagi dalam hitungan jam.

Ya, karena saya duduk-duduk di Taman Inokashira dan halaman stasiun Shibuya itu sekadar menunggu Nining pulang kerja. Nanti saja bila Nining kebetulan libur, baru saya mau jalan-jalan ke tempat lain.

Di Taman Inokashira saya selalu terpesona daun dan bunga sakura berguguran. Daun dan bunga yang putih sampai merah muda beterbangan dipermainkan angin. Seperti tidak pernah habis. Seperti di dalam foto. Saya dan Nining pernah berlari-lari di bawah sakura sambil saling lempar daun dan bunga yang berserakan. Tentu saja saling kejar itu sambil tertawa-tawa.

“Asih, lihat banyak yang memperhatikan kita. Mungkin mereka heran. Tidak apa, karena di kampung kita tidak ada musim gugur. Tidak ada daun dan bunga yang berserakan seperti ini,” kata Nining.

“Mungkin mereka heran bukan karena melihat kita seperti anak kecil. Tapi melihat kita seperti yang sedang pacaran,” kata saya sekenanya.

“Wew…! Kita ini kan saingan, masa dibilang pacaran.”

Saya dan Nining tertawa lagi. Sayangnya kontrak kerja di Jepang tidak bisa begitu saja mengambil cuti. Jadi bila saya kebetulan berlibur ke Tokyo, Nining belum tentu bisa cuti.

***

DI stasiun Shibuya, saya lebih suka duduk-duduk di bangku panjang bawah pohon sakura. Dari sini bisa memperhatikan keluarnya orang-orang dari gerbang stasiun, beratus-ratus orang, seperti air keluar dari slang.

Berjalan tergesa, tentu saja menuju tempatnya masing-masing. Kadang sambil mencicipi bekal, teh manis di dalam botol dan ngemil mochi. Saya dan Nining pernah berfoto-foto di setiap sudut stasiun Shibuya. Pernah juga seperti yang berantem di bangku panjang itu. Saat itu saya ingin pesan tiket untuk pulang besok. Nining tiba-tiba saja menghalangi.

“Jangan jadi deh pesan tiketnya,” katanya, pelan awalnya.

Saya terkejut. “Kenapa?”

“Asih, lebih baik jangan pulang ke Indonesia. Kita mencari kerja di sini saja. Ada teman Nining yang bisa memasukkan Asih ke pabrik kabel. Tinggal kursus bahasa Jepang. Nining juga bisa mengajarimu kalau mau.”

“Nining! Itu tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin? Memangnya Asih sudah punya pacar di kampung?”

“Bukan masalah pacar. Asih kan sudah bekerja. Jadi PNS, tidak gampang ingin lulus jadi PNS sekarang.”

“Tapi penghasilan di sini bisa lebih besar. Nining ini hanya lulus SMK, gaji bila kurs rupiah jadinya mendekati lima belas juta rupiah.”

Saya menatap Nining lekat-lekat. Kali ini, ya kali ini, saya tidak bisa menduga apa yang ada di pikiran Nining.

“Bila sudah ingin berumah tangga pun, kita cari saja yang bermata sipit. Atau orang Indonesia pun banyak yang bekerja di sini. Nanti sama Nining dikenalkan ke perkumpulan orang Indonesia di Jepang.”

“Sudah ah! Asih tidak mengerti!” kata saya sambil pergi ke tempat pesan tiket.

***

NINING itu sahabat saya sejak masuk SMP. Sebangku sejak kelas satu hingga lulus. Entah karena merasa senasib, sama-sama sudah tidak mempunyai ayah, saya dan Nining menjadi sahabat dekat.

Sama-sama suka membawa dagangan bila pergi sekolah. Nining membawa goreng-gorengan yang dibuat ibunya. Saya suka membawa otak-otak dan kue-kue basah. Bukan, bukan karena hobi membawa dagangan ke sekolah.

Tapi karena terpaksa, harus seperti itu bila ingin uang jajan dan tidak terlalu sering meminta kepada ibu untuk keperluan sekolah. Apalagi bila ingat, setiap meminta ke ibu untuk keperluan sekolah, selalu terbayar setelah malu ditagih-tagih guru.

Masuk ke SMK juga ke sekolah yang sama meski berbeda jurusan. Berangkat sekolah selalu bersama. Sekolah sambil berdagang. Sepanjang jalan ke sekolah menitip-nitipkan makanan di warung yang dilalui.

Pulangnya saling mengantar mengambil dagangan yang dititipkan. Dengan perjuangan seperti itu akhirnya saya dan Nining lulus dari SMK. Ibu saya dan Emak Nining berangkulan sambil menangis saat saya dan Nining diwisuda. Syukuran dengan membuat nasi kuning dan membagikannya ke tetangga, akhirnya bareng di rumah saya.

Nining termasuk pintar. Lulus SMK terpilih untuk bekerja di Jepang di pabrik elektronik. Saya sendiri diterima jadi honorer di Puskesmas, karena waktu SMK masuk jurusan gizi. Kebetulan tiga tahun kemudian lulus tes PNS.

***

SAAT terhanyut memandang daun dan bunga sakura berguguran itulah, tanpa saya sadari, ada yang duduk di sebelah saya. Tentu saja saya terkejut waktu meliriknya, seorang lelaki tersenyum kepada saya. Lumayan cakep, tapi saya tidak memperhatikannya terlalu lama. Pandangan saya kembali ke hamparan daun dan bunga sakura yang berguguran.

“Ikut duduk, boleh kan?” katanya dalam bahasa Jepang pergaulan. Saya mengangguk, kembali melihat kepadanya, tersenyum dan mengangguk. Saya mengerti apa yang dikatakannya. Nining pernah mengajarkan percakapan sehari-hari dalam bahasa Jepang.

“Saya suka melihatnya,” katanya lagi.

“Maksudnya, melihat apa?” Saya melayani juga pembicaraannya.

“Melihat… seorang gadis cantik, setiap ke sini selalu duduk di bangku ini, memandang dedaunan dan bebungaan sakura yang berguguran.”

Saya tersenyum. Hati kenapa ikut senang dibilang cantik oleh lelaki yang baru bertemu. “Saya sebenarnya sedang menunggu sahabat. Sekarang sedang bekerja di pabrik elektronik,” kata saya menerangkan tanpa ditanya.

“Kalau begitu, kita sama. Saya juga sedang menunggu sahabat. Pukul lima sore pasti ada kereta yang berhenti. Nah, sahabat saya, Eisaburo Ueno, pasti datang.”

Betul saja, pukul lima sore ada ada kereta yang berhenti di stasiun. Lelaki itu lalu pamit, katanya mau menyambut sahabatnya. Besoknya lelaki itu datang lagi waktu saya sedang duduk di bangku yang sama. Berbincang lagi ke sana ke mari.

Pukul lima waktu ada kereta yang berhenti di stasiun, lelaki itu pun pamitan. Begitu terus sampai enam hari. Waktu saya bilang akan pulang ke Indonesia besok, lelaki itu mengajak bersalaman.

“Terima kasih sudah menemani,” katanya. “Bila ke Jepang lagi, datang saja ke sini. Saya selalu ada di stasiun Shibuya ini.”

“Nama Tuan siapa?” tanya saya penasaran saat menerima jabat tangannya. “Saya Asih.”

“Hachiko,” katanya, lalu pamitan karena mau menyambut sahabatnya yang turun dari kereta, menghilang setelah melewati patung anjing di halaman stasiun.

***

SAYA terkejut mendengar nama Hachiko. Pernah saya melihat buku di rumah Miho yang bertuliskan aksara besar: HACHIKO.

“Cerita Hachiko sangat terkenal di Jepang,” kata Miho waktu saya mampir ke rumahnya dan menanyakan buku Hachiko, “Setiap rumah di Jepang sepertinya menyimpan cerita Hachiko, apakah dalam bentuk buku atau film. Hachiko itu anjing milik profesor Eisaburo Ueno. Setiap hari Hachiko mengantar profesor sampai ke stasiun Shibuya. Profesor Eisaburo mengajar di Universitas Tokyo. Sorenya Hachiko menjemput.

Suatu hari Profesor Eisaburo meninggal di kampus. Tapi Hachiko setiap hari menjemputnya ke stasiun Shibuya. Setelah yakin profesor Eisaburo tidak datang, Hachiko lalu pulang sendirian. Begitu terus selama sekitar sepuluh tahun. Banyak yang simpati dengan cerita Hachiko. Maka lalu ditulis dalam buku, dibuat film, malah dibuat patungnya di halaman stasiun Shibuya. Persahabatan Hachiko dan Profesor Eisaburo Ueno itu terjadi tahun 1920-an.”

Saya menggeleng berkali-kali. “Tidak mungkin. Ajaib rasanya bila lelaki yang selalu menemani Asih itu adalah Hachiko itu. Sepertinya bukan Hachiko itu, meski dia selalu menghilang di balik patung anjing.”

Miho yang menjadi ibu angkat Nining, memeluk sambil mengusap-usap rambut saya.

“Anakku, hidup ini penuh dengan keajaiban,” katanya pelan dan bergetar karena menahan yang bergejolak di dalam dadanya, “Persahabatanmu dengan Nining juga sangat ajaib. Nining sudah tidak ada, meninggal saat kecelakaan setrum bocor di pabrik. Lima tahun yang lalu peristiwa itu. Tapi kamu setiap tahun, setiap liburan, datang ke sini menemui Nining. Padahal sebenarnya hanya duduk-duduk sambil melamun di Taman Inokashira dan stasiun Shibuya.”

Saya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Miho. ***

Lina Herlina, tinggal di Sumedang, Jawa Barat. Ia sering menulis juga dengan nama Pelangi Pagi. Karya berupa cerpen, puisi, dan cerita anak pernah dimuat media massa, di antaranya Republika, Indopos, Solopos, Suara Karya, Nova, Pikiran Rakyat, Banjarmasin Pos, dan sebagainya.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

Lihat juga...