Budaya Indonesia Timur Warnai Perayaan Natal Keluarga Besar TMII
JAKARTA — Keluarga Besar Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menggelar perayaan Natal 2017 bertema ‘Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintahkan Dalam Hatimu.’
Ketua Panitia Natal keluarga besar TMII, Alexander Taopan merasa bersyukur perayaan Natal ini bisa terlaksana dengan baik.
“Perayaan Natal ini agar tidak hanya membawa berkah dan damai sejahtera bagi diri sendiri melainkan masyarakat luas, khususnya keluarga besar TMII,” kata Alex kepada Cendana News ditemui usai perayaan natal.
Alex juga berharap makna Natal bisa diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya TMII ini sebagai miniatur Indonesia.
Lebih lanjut dia menjelaskan, perayaan Natal ini dikemas dalam nuansa khazanah seni budaya Indonesia Timur. Sehingga gelaran seni yang ditampilkan adalah khusus dari wilayah timur, seperti Papua dan Maluku.
“Tarian Raamana Refo (Papua) dan kolaborasi Nobo Sasamu mengiringi kedamaian ‘Perayaan Natal Keluarga Besar TMII’. Begitu juga dengan tarian lainnya,” kata Alex.
Adapun harapan panitia natal di tahun 2018. Adalah kata Alex, TMII lebih baik dalam berbagai gagasan program. Anjungan-anjungan daerah sebagai representasi daripada provinsi semakin serius dan bersemangat mendukung agenda rutin TMII dalam pelestarian seni budaya bangsa.
Bahkan lanjut dia, kegiatan pembinaan keagamaan harus lebih ditingkatkan di TMII, khususnya di rumah ibadah.
Sementara itu, pembawa renunangan Natal, Pendeta Luther Zwingli Raprap menuturkan, merayakan Natal bersama memberi makna agar lebih istimewa.
“Dalam renung Natal, bagaimana supaya damai sejahtera Kristus ada di hati kita. Tidak ada cara lain, kecuali kita beriman pada Kristus,” kata Pendeta Luther saat berkotbah di hadapan keluarga besar TMII di Sasono Langen Budoyo, Kamis (4/1/2018) malam.
Disampaikan dia, iman itu mempunyai tiga dimensi, yaitu pengetahuan, pengakuan, dan penyerahan diri total kepada Tuhan. Dan kalau di hati kita ada Kristus, maka ke manapun kita pergi akan membawa damai sejahtera.
Ketika Tuhan menciptakan alam ini juga damai sejahtera, berdosalah orang yang membuat semua ini rusak. Dengan natal ini, kemuliaan bagi Allah di tempat maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya. Maka hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan, begitu pula hubungan sesama dengan alam dan sesama dengan dirinya sendiri.
“Kebenaran, keadilan dan damai sejahtera adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Tidak ada damai sejahtera kalau tidak ada keadilan, dan tidak ada keadilan kalau tidak ada kebenaran. Titik tolaknya kebenaran,” tegas pendeta Luther.
Namun, kata dia, kebenaran ini susah diperoleh di dunia ini, bahkan di Indonesia tercinta. Tapi kalau kita sungguh dijiwai damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, maka apapun yang terjadi tetaplah berlaku benar, bersikap benar, dan bertindak benar.
Dia menuturkan, bahwa perbedaan yang ada di dunia dapat menimbulkan konflik. Namun, persatuan bisa tercapai bila manusia percaya bahwa semuanya sama di hadapan Tuhan.
“Di dalam Tuhan, apapun suku, latar belakang dan agama, kita semua satu,” jelas pendeta asal Maluku ini.
