IAP Berikan Solusi Kemacetan Jakarta

JAKARTA — Jakarta memang identik dengan kemacetan. Selain karena Jakarta adalah kota paling padat penduduknya, ada juga penyebab lain yang menimbulkan kemacetan berulang-ulang sulit diselesaikan. Ada yang bilang macet Jakarta sulit diatasi karena tata kelola ruang kotanya sudah salah sejak awal.

Ada juga yang mengatakan bahwa desain lalu lintas kotanya sangat buruk. Tetapi yang kita sering lupa, ada juga alasan-alasan kemacetan yang sebetulnya muncul dari diri kita sendiri. Kita tidak sadar bahwa sebetulnya kita yang menimbulkan masalah juga.

Maka dari itu, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masih tetap membahas tentang kemacetan Jakarta. Karena masalah kemacetan tetap menjadi fitur DKI Jakarta yang harus menjadi tantangan kita bersama makanya penyelenggarakan angkutan publik itu penting sekali.

“Kita IAP setiap dua tahun mengeluarkan Indonesian Most Livable City Index, di mana kita melihat tingkat kenyamanan hidup di kota kita. Mudah-mudahan akhir bulan ini kita dapat mengeluarkan lagi, “ kata Ir. Bernardus Djonoputro Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) periode 2016-2019, seusai bertemu dengan Gubernur Anies Baswedan, Kamis (4/1/2018)

Lebih lanjut, Bernardus menerangkan, kalau untuk Livable City Index terakhir kali Jakarta, bahwa Jakarta berada di tengah rata-rata indeks nasional.

“Tantangannya bagaimana perencanaan kota itu bisa meningkatkan lebih jauh lagi kenyamanan hidup kita sehingga Jakarta berada di atas rata-rata indeks nasional, “ terangnya.

Bernardus memperkirakan infrastruktur berkaitan dengan mobilitas dan aktivitas. Mobilitas yang tak hanya di Jakarta, tapi juga mobilitas antara Jakarta dengan kota-kota pendukung di sekelilingnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

“Jakarta sebagai metropolitan terhubung langsung dengan kota-kota penyanggah di sekitarnya. Sistem komuter yang baik ini akan menjadi penting membuat Jakarta yang lebih capable, “ ungkapnya.

Mengenai rencana MRT sekarang tak bisa dikatakan cukup atau tidak. Karena ini awal dari Jakarta menyediakan sistem komuter untuk tiga juta komuter.

“Sekarang ini diperkirakan komuter yang bolak-balik ke Jakarta sekitar empat juta. Untuk 20 tahun ke depan diperkirakan bisa sekitar tujuh juta komuter. Jadi diperlukan perencanaan yang nyata tentang jalur-jalur transportasi massal bagi jalur-jalur komuter kita, “ paparnya.

IAP tidak membahas tentang reklamasi, tapi membahas secara umum rencana tata ruang wilayah mengenai produk rencana tata ruang kita yang baik seperti apa.

“Pembangunan tanpa framework perencanaan yang baik itu akan membahayakan. Makanya sebagai asosiasi profesi kita akan menyampaikan bahwa dibutuhkan kualitas produk perencanaan tata ruang kota yang baik, “ bebernya.

Pada pertemuan dengan Gubernur Anies Baswedan dalam rangka mendiskusikan isu perkotaan terkini yang berkembang di wilayah Provinsi DKI Jakarta, IAP memberikan masukan-masukan kami sebagai asosiasi profesi mengenai isu-isu perkotaan terkini.

Pertama, tanpa perencanaan yang baik pembangunan di Jakarta bisa mencapai ambang batas daya dukung. Jadi ada ancaman itu. Sehingga kita benar-benar melihat daya dukung sebagai aspek penting dalam pembangunan di Jakarta.

Kedua, masalah bagaimana menciptakan ruang kota, karena kota-kota di dunia ini semakin kompleks, jadi bagaimana ruang-ruang yang semakin kompleks ini tetap memberikan ruang-ruang hidup yang lebih layak kepada warga.

Ketiga, mobilitas. Bagaiaman kota lebih efisien dan mempunyai sarana dan prasarana sehingga mobilitas warga itu terjamin.

“Itulah tiga hal masukan dari kita untuk Pak Gubernur, “ tegasnya.

Lihat juga...