SENIN, 13 MARET 2017
JAYAPURA — Bangga! Sepuluh pelajar dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Jayapura, Papua, menjadi penulis buku pertama di Papua dan Papua Barat. Buku setebal 264 halaman dengan judul Punah tersebut sebagai langkah awal tulisan mereka memotivasi teman-teman sebayanya.
| Vonny Aronggear, guru Geografi SMAN 2 Jayapura (kiri), mendampingi salah satu muridnya, penulis buku Punah, Kintan. |
Buku terbitan bulan Juli 2016 ini telah disebar ke seluruh Indonesia sebanyak 3000 buku pada bulan Agustus di tahun yang sama. Buku tersebut sempat menjadi perbincangan di dunia maya selama sebulan lebih, tentang anak-anak pelajar yang mampu menghasilkan karya sastranya.
Karya sastra pertama dalam sejarah literasi Papua yang ditulis anak-anak sekolah menengah atas melalui siswa-siswi pecinta sastra SMA N 2 Jayapura ini menceritakan tentang kepunahan burung Surga atau burung Cenderawasih di Tanah Papua, mampu menyerap pembaca di Indonesia. Para pelajar berkolaborasi dengan sastrawan, penyair, penggiat, pemerhati, pecinta sastra Papua bahkan nasional serta internasional.
Ke sepuluh siswa-siswi SMA Negeri 2 Jayapura itu, antara lain; Annisa Infandi, Hilbrand Tuanakotta, Kintan Adhelvyana Dwiguna Fabanyo, Laura Elsa Kabuare, Nila Margi Jihani, Nilawati Dwiputry, Sundari, Takdir, Wilfred Palangan, dan Yuliana Aksamina Siriyey.
Setelah mereka menulis buku Punah itulah, semangat pelajar SMA Negeri 2 Jayapura ini menggelora dan muncul ide dari mereka untuk menulis sebuah buku berjudul Black Brothers Musik dalam Sastra yang di dalam buku tersebut akan dimuat esai, puisi, dan cerpen tentang perjalanan Black Brothers 1976-1978.
“Awalnya, saya mencoba sesuatu yang baru dengan menulis. Tapi, kok lama-kelamaan saya jadi suka menulis. Dan akhirnya jadi minat sekali menulis,” kata Kintan A.D. Fabanyo, salah satu penulis buku Punah yang kini duduk di bangku kelas X IPA 1 SMAN 2 Jayapura, saat ditemui Cendana News, Senin (13/03/2017).
Sembari memegang buku, ia awalnya diajarkan bagaimana cara menulis dengan baik oleh seorang guru Bahasa Indonesia bernama Vonny Aronggear di sekolah tempat dirinya mengenyam pendidikan saat ini.
“Saya diajarin cara-cara menulis, bagaimana membuat tema, bagaimana mereka membaca. Jadi saya mewajibkan mereka membaca, agar dapat referensi tulisan-tulisan. Pokoknya standar menulis sastra saya ajarkan dulu,” kata Vonny Aronggear yang masuk dalam tim penulis buku Punah.
| I Wayan Mudiyasa, Kepala Dinas Pendidikan. |
Kembali ke Kinn, sapaan akrab Kintan A.D. Fabanyo, murid SMA Negeri 2 ini, mengaku, pertama kali menulis, senangnya dengan dunia luar, kebarat-baratan. Lambat laun dirinya tertarik menulis tentang apa yang ada di Papua. Menurut Kinn, penulisan buku kedua ini menjadi bertambah empat teman-teman satu sekolah, dalam artian teman-teman mulai tertarik menulis.
“Setelah buku pertama terbit, banyak orang di luar Papua memesan buku yang kami sudah tulis. Teman-teman saya di luar Papua juga malah minat miliki buku Punah sangat banyak,” kata perempuan kelahiran Bandung, 14 Oktober 1999 itu.
Lucunya, teman-teman Kinn maupun sesama penulis buku tersebut namanya tak dikenal oleh kalangan pelajar di Papua, lantaran sejak buku tersebut terbit dan disebarluaskan, tak ada apresiasi dari sekolah maupun pemerintah setempat. Bahkan, buku pertama mereka tak sempat di-launching atau dibedah.
“Ucapan selamat pun kayaknya gak ada dari sekolah. Saya sebenarnya sangat berharap ada ucapan selamat dari kepala sekolah. Tapi, faktanya gak ada,” tutur Kinn, anak dari Gunawan Fabanyo dan Titi Purwanti.
Di tempat terpisah, penyair dan sastrawan Papua, Igir Al-Qatiri, saat dijumpai media ini merasa bangga atas apa yang dilakukan pelajar SMA N 2 Jayapura ini. Pasalnya, saat dirinya bertemu dengan Mohammad Rivai Riza atau yang lebih dikenal Riri Riza, seorang sutradara, penulis naskah, produser film asal Indonesia juga bangga dengan hasil karya pelajar tersebut.
“Riri Reza saja kaget, kok di Papua ada komunitas sastra dan ada anak-anak yang tulis sastra. Padahal kalau bicara sastra di Papua tak ada gaungnya,” kata Igir yang juga turut menuangkan puisi-puisi indahnya di dalam buku karya pelajar-pelajar tersebut.
Menurut Igir, hal ini dilontarkan seorang Riri Reza lantaran kurangnya perhatian dari Pemerintah Daerah setempat. Dilihat dari Sumber Daya Manusia (SDM), menurut Igir, Papua memiliki hal tersebut. “Saya melihat setelah menulis buku pertama, dan saat saya lihat penulisan untuk buku kedua nanti, saya lihat ada peningkatan yang signifikan. Ternyata tulisan anak-anak ini sangat bagus,” demikian ditegaskan Irgi.
Sangat disayangkan, hingga pembuatan buku kedua tersebut, siswa-siswi ini merasa tak diperhatikan Dinas Pendidikan Kota Jayapura. Namun, hal ini ditepis I Wayan Mudiyasa, selaku Kepala Dinas Pendidikan. Menurut Wayan, apa yang telah dicapai siswa-siswi SMA Negeri 2 tersebut adalah hal yang sangat luar biasa.
“Memang akan diundang mulai dari ahli bahasa, editor, semuanya dikumpulkan. Baru kita sama-sama me-launching, tapi cari waktu tepat agak susah. Sehingga belum sempat me-launching,” kata I Wayan Mudiyasa saat dihubungi media ini melalui telepon seluler.
Dirinya berjanji akan memanggil siswa-siswi SMA Negeri 2 yang telah menulis buku tersebut. Menurut Wayan, pencapaian itu jarang sekali dilakukan pelajar tingkat SMA dan itu membawa nama baik sekolah, Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura bahkan Provinsi Papua.
“Nama baik untuk kepunahan burung Cenderawasih yang ditulis itu luar biasa sekali. Nanti saya akan panggil mereka dan kami Pemerintah Kota akan berikan penghargaan buat mereka,” ujar I Wayan, mantan Kepala SMA Negeri 4 Jayapura.
Kalau benar pihak sekolah tak berikan penghargaan kepada murid-muridnya, maka pihak dinas akan turun langsung ke sekolah tersebut. “Setelah pulang dari kunjungan kerja di luar Papua ini, saya minta kita bersama-sama telusuri anak-anak itu dan berikan reward,” kata I Wayan.
| Penyair dan sastrawan Papua, Igir Al-Qatiri. |
Dari penelusuran yang didalami Cendana News, pihak Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan berencana sekitar tanggal 20 Maret bulan ini akan memanggil siswa-siswi SMAN 2 Jayapura yang telah menulis buku tersebut dan akan diberikan penghargaan.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta