JAKARTA — Politisi Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP), Rieke Diah Pitaloka memiliki pandangan sendiri mengenai arti kedatangan Raja Salman dari Kerajaan Saudi Arabia ke Indonesia setelah kunjungan Raja Faisal pada 1970 memenuhi undangan Presiden Kedua RI, H.M. Soeharto.
| Rieke Diah Pitaloka. |
Menurut politisi kelahiran Garut ini, arti kedatangan Raja Salman jangan dikatakan memiliki arti secara konteks kerja sama ekonomi saja. Akan tetapi coba lihat hubungan Republik Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia sebagai hubungan yang memiliki nilai historis sejak dahulu.
Presiden pertama RI, Soekarno disebut Rieke adalah orang yang membuka rahim hubungan historis tersebut melalui sumbangsih beliau dalam renovasi The Great Mosque of Mecca atau Masjidil Haram serta penanaman pohon untuk penghijauan di Saudi Arabia.
Dengan menarik arti kerja sama melalui sebuah hubungan historis, nilai kerja sama antara kedua negara bukan berdasarkan hubungan kebutuhan ekonomi saja, melainkan lebih dalam dari itu.
Jika menarik hubungan lewat ikatan emosional secara historis, Indonesia diyakini bisa melakukan intervensi lebih elegan mengenai ketidakadilan yang dialami buruh migran di Saudi Arabia asal Indonesia.
“Keinginan Raja Salman secara tegas ingin menciptakan dunia yang aman, adil dan nyaman untuk segala bangsa. Untuk mencapai itu perlu ikatan emosional antar negara. Indonesia dan Saudi Arabia sebenarnya memiliki ikatan itu,” jelas politisi perempuan berusia 43 tahun ini kepada awak media di depan Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Kamis (2/2/2017).
Pernyataan Rieke ini ternyata mengemuka karena tayangan video kunjungan Raja Faisal ke Indonesia pada 1970 serta sejarah hubungan kerja sama Republik Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia tidak mencantumkan peran Presiden Soekarno dalam menanamkan ikatan emosional antar kedua negara.
“Videonya memang berisi hanya itu dan seputar kerja sama bersejarah saja, tidak mengisahkan sedikit bagaimana Indonesia dan Saudi sebenarnya memiliki ikatan emosional secara historis melalui Soekarno,” sebut Rieke.
Tapi, lanjut Rieke, over all, kunjungan Raja Salman sudah mewakili semangat kerja sama antar negara yang berdaulat, saling menguntungkan dan saling menghargai.
Mengutip secara umum ucapan Raja Faisal pada 1970 kepada Presiden Soeharto serta seluruh anggota DPRGR, bahwa siapa pun yang menyangkal hubungan luar biasa antara Republik Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia, sama saja menyangkal mentari di siang hari.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Joko Widodo beserta Kerajaan Saudi Arabia melalui Raja Salman telah membuktikan bahwa hubungan yang sudah dicanangkan sejak 46 tahun lalu, antara Presiden H.M. Soeharto dan Raja Faisal tetap terjaga hingga kini.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw