MINGGU, 26 MARET 2017
LAMPUNG — Sebuah gubuk dengan dinding geribik beratapkan genteng yang sebagian sudah bocor, menjadi tempat tinggal Supono (70), warga Dusun Rejosari, RT 04, RW 05, Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan. Laki-laki asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dan sakit lumpuh itu tinggal sebatang kara.
![]() |
| Anwar saat memberi bantuan kepada Mbah Pono |
Saat ditemui di rumahnya yang merupakan peninggalan sang majikan semasa hidup, Mbah Pono, demikian ia dipanggil, mengisahkan kedatangannya ke Provinsi Lampung sejak 30 tahun silam, mengikuti sang majikan untuk bekerja di wilayah yang dikenal dengan kawasan pertambakan udang dan bandeng tersebut.
Berkat ketekunan dan sifat rela menolong, Mbah Pono diizinkan menempati sebuah lahan dan membuat gubuk untuk tempat tinggal, meski hanya terbuat dari geribik beralaskan tanah dan sebuah tempat tidur. “Kalau masih sehat, saya bisa kerja apa saja membantu orang di sini. Kadang di tambak atau membersihkan kebun, tapi sejak menderita lumpuh pada dua tahun, lalu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya di sini tidak memiliki sanak saudara,” ungkap Mbah Pono, saat ditemui Cendana News bersama remaja Kecamatan Pematang Pasir yang tergabung dalam Paguyuban Pengendara Lintas Timur Sumatra (P2LTS), yang memberikan bantuan rutin makanan dan kebutuhan lain, Minggu (26/3/2017).
Mbah Pono mengaku, setiap hari hanya bisa terbaring di tempat tidur akibat lumpuh dan baru bisa duduk di kursi atau berada di luar gubuk, jika ada yang mengangkatnya. Laki-laki yang tergolek lemah tersebut pun hanya bisa berharap tetap bisa melihat suasana di luar rumah, meski harus meminta bantuan saat orang-orang datang menjenguknya. Beberapa warga terkadang datang membawakan makanan dan air minum untuk meringankan bebannya.
![]() |
| Tempat tidur Mbah Pono |
Sejak dua tahun lumpuh tanpa memiliki istri dan kerabat, Mbah Pono mengaku hanya dirawat oleh Lamiah (50), salah satu anak sang majikan yang menjadi tempatnya bekerja dan dibantunya selama sang majikan masih hidup. Balas budi sang anak majikan, Laminah, terlihat dari ketelatenannya merawat Mbah Pono setiap hari.
Laminah mengaku mau merawat Mbah Pono karena rasa iba. Meski tak setiap hari, Laminah memandikan Mbah Pono, dan memberinya makan mulai dari pagi, siang dan sore hari.
Sekretaris Relawan P2LTS, Muhamad Anwar, mengungkapkan, pada awalnya Mbah Pono pernah ditawari untuk dibawa ke Panti Jompo agar bisa mendapat penanganan lebih baik dan sudah dikoordinasikan dengan pihak desa dan dinas sosial setempat. Namun, Mbah Pono menolak, karena ingin tetap tinggal dekat dengan tempatnya mengabdi pada sang majikan.
Sebagai bentuk kepedulian, pihak desa juga memberikan bantuan makanan dan keperluan Mbah Pono sehari-hari, meski tidak rutin. Komunitas P2LTS yang prihatin pun sepakat untuk merawat Mbah Pono melalui Laminah, dengan memberikan uang tunai untuk keperluan Mbah Pono.
Anwar menyebut, bentuk kepedulian tersebut selain memberi bantuan kebutuhan pokok setiap pekan sekali, juga untuk menghibur, mengajak mengobrol dan membawakan makanan yang bisa meningkatkan kesehatan Mbah Pono. Dalam waktu dekat ini, dengan iuran para anggota, Komunitas P2LTS pun berencana akan membuatkan kamar mandi yang layak, memperbaiki tempat tidur dan jika ada tambahan donasi akan digunakan untuk proses perehaban bagian rumah, terutama pada bagian lantai yang selama ini masih berupa tanah. “Kita lakukan bertahap agar mbah Pono nyaman tinggal di rumahnya dan juga tempat tidurnya akan dibuat lebih rendah, agar bisa lebih mudah,” ungkap Anwar, sembari berharap, Mbah Pono yang menderita lumpuh bisa mendapatkan penanganan atau bantuan kursi roda yang bisa membuatnya duduk dan melihat suasana luar rumah.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi
