Prediksi Bank Indonesia terhadap Inflasi Papua 2017

SENIN, 9 JANUARI 2017
 
JAYAPURA — Bank Indonesia (BI) perwakilan Provinsi Papua memprediksi inflasi di Bumi Cenderawasih tahun 2017 ini tetap stabil dan rendah pada kisaran 4,32 persen. Potensi ini didorong dari empat potensi yang dapat mempengaruhi prediksi tersebut.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Papua, Joko Supratikto.
 Menurut Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Papua, Joko Supratikto, empat potensi itu yakni, naiknya tarif cukai rokok yang mulai berlaku sejak awal tahun ini sebesar 13,46 persen, sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 147/PMK.010/2016 dengan kenaikan harga jual sebesar 12,26 persen. Kedua, adanya kenaikan UMP Papua tahun ini, naik sebesar 9,39 persen yang akan meningkatkan biaya produksi.

“Ketiga kondisi sosial-politik seiring berlangsungnya Pilkada serentak bulan Februari nanti, serta yang terakhir perubahan cuaca yang relatif sulit diprediksi,” kata Joko di Jayapura, Senin (9/1/2016).

Dengan demikian, dikatakannya, ekspektasi masyarakat diperkirakan tetap stabil dan terjaga, ditambah dengan kebijakan BBM satu harga yang mendorong penurunan harga terutama di daerah pegunungan tengah Papua. “Pembangunan infrastruktur transportasi yang meningkatkan konektivitas antardaerah, menjadikan inflasi Papua 2017 tetap berpotensi stabil dan rendah,” tuturnya.

Berbeda dengan tahun 2016, kata Joko, sesuai kenyataan inflasi Papua pada bulan Desember 2016, paling utama disumbang dari kenaikan komoditas administered price (harga diatur pemerintah). Tarif angkutan udara menjadi komoditas dengan tingkat inflasi tertinggi mencapai 31,91 persen dan memberikan sumbangan yang paling dominan sebesar 1,08 persen. 

“Ini seiring berlangsungnya perayaan Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 yang memicu peningkatan permintaan transportasi angkutan udara,” ujarnya.

Ditambahkannya, tahun lalu inflasi di Papua relatif cukup terkendali dan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 4 persen ditambah satu persen. Faktor-faktor yang mendukung pencapaian itu, kata Joko, yakni harga BBM bersubsidi stabil sepanjang tahun, pasokan komoditas relatif terjaga walaupun terjadi pergeseran musim. Terakhir ekspektasi inflasi masyarakat yang terkelola dengan baik, juga relatif stabilnya hasil survei konsumen 2016 jika dibandingkan dengan di tahun 2015 lalu. 

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...