Babinsa Koramil Penengahan, Manfaatkan Pekarangan Jadi Lahan Pertanian dan Peternakan

SENIN, 9 JANUARI 2017

LAMPUNG — Peranan seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) sebagai personil Koramil 03/Penengahan di bawah Kodim 0421/Lampung Selatan, terus diemban oleh Kopral Kepala (Kopka) Sudarwanto. Sebagai Babinsa TNI AD yang merupakan satuan teritorial TNI AD paling bawah yang berhadapan dengan masyarakat, membuat Kopka Sudarwanto yang tinggal menetap di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, bertemu langsung dengan mayarakat yang sebagian besar petani. Ia mengaku, wilayah cakupannya meliputi beberapa desa di wilayah Koramil Penengahan. Salah satu pendampingan yang dilakukan kepada masyarakat, diakui Kopka Sudarwanto, adalah para petani padi, petani palawija, dan peternak. Meski mendampingi, Kopka Sudarwanto juga memberi contoh nyata dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk digunakan semaksimal mungkin.

Lahan pekarangan yang terbatas digunakan Kopka Sudarwanto beternak sapi jenis Limousin.

Ia mengakui, meski tugas seorang Babinsa meliputi mengumpulkan dan memelihara data pada aspek geografi, demografi, hingga sosial dan potensi Nasional di wilayah kerjanya, hal-hal positif yang bisa dicontohkan langsung tak segan-segan dikerjakannya. Kopka Sudarwanto bahkan tak segan mencari rumput untuk pakan ternak sapi yang kini berjumlah sekitar 5 ekor, meliputi jenis sapi Limousin, sapi peranakan ongole (PO) yang dipelihara di belakang rumahnya yang memiliki areal mencukupi untuk beternak sapi. Selain ternak sapi tersebut, dikembangkan dengan cara kawin alami khusus untuk sapi PO juga diterapkan inseminasi buatan (IB) sehingga cepat beranak. Sementara dua ekor sapi dikhususkan untuk proses penggemukan.

“Saya banyak mendampingi petani sebagai anggota TNI dan peran sebagai Babinsa, namun dengan pendampingan tersebut saya memberikan contoh langsung di pekarangan saya untuk digunakan sebagai tempat beternak dan bertani sekaligus kolam ikan,” terang Kopka Sudarwanto, seorang Babinsa di Koramil 03/Penengahan, Kodim 0421/Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News di pekarangan rumahnya, Senin (9/1/2017).

Lahan yang digunakan untuk beternak sapi tersebut, bahkan diintegrasikan dengan pemanfaatan lainnya, di antaranya penggunaan kotoran sapi untuk pupuk tanaman pisang, pepaya California, sayuran, cabai merah serta tanaman lain. Ia mengaku dengan adanya pupuk alami dari hasil beternak sapi, dirinya bisa menyiapkan pupuk organik cair dari urine sapi serta kotoran yang telah difermentasi untuk pupuk alami pada tanaman jahe, sereh, pohon buah mangga, belimbing dan matoa. Pengintegrasian peternakan dengan pertanian tersebut mulai dilakukan oleh Sudarwanto sejak lima tahun terakhir. Diakuinya merupakan inisiatif dirinya sebagai seorang warga masyarakat pedesaan.

Pepaya California yang dipupuk dengan pupuk kompos sisa ternak sapi.

Ternak sebanyak 5 ekor tersebut, ungkap Kopka Sudarwanto, memiliki pasokan pakan bersumber dari sejumlah tanaman yang ditanam di pekarangan rumahnya di antaranya pelepah pisang, daun pepaya serta rumput gajahan. Berbagai jenis tanaman tersebut, tumbuh subur dengan adanya pupuk alami yang berasal dari kotoran sapi yang telah diubah menjadi kompos. Siklus yang berkelanjutan tersebut, diakuinya, membuat limbah yang telah dihasilkan oleh ternak sapi tidak terbuang mubazir dan masih bermanfaat. Sebagian pupuk bahkan digunakan untuk media tanam dalam pot dan polybag untuk penanaman cabai merah dan memupuk tanaman matoa dan buah naga miliknya.

“Rencananya saya akan membuat instalasi untuk biogas sehingga energi dari kotoran sapi akan bisa digunakan untuk memasak dan pasokan gas. Tapi masih sedang saya desain lokasinya,” terang Kopka Sudarwanto.

Selain pemanfaatana lahan untuk peternakan, ia mengakui, di saat harga cabai rawit sedang tinggi di sejumlah pasar, ia telah menanam puluhan tanaman cabai untuk kebutuhan bumbu dapur sehingga isterinya tak perlu membeli di pasar. Pemanfaatan pekarangan yang dilakukannya pada lahan sekitar 20×40 meter juga dipergunakan untuk menanam pohon buah-buahan di antaranya pepaya California yang sengaja ditanam di dekat kolam terpal dan kolam permanen untuk menjaga pasokan air. Buah-buahan yang berhasil ditanamnya bahkan terlihat subur dengan pasokan air dari kolam meski dalam kondisi musim kemarau.

Kopka Sudarwanto memperlihatkan tanaman cabai miliknya.

“Khusus untuk kolam, saya menebar ikan lele dan ikan patin dengan kondisi air yang tak harus berganti. Ikan-ikan tersebut masih bisa dibudidayakan dan sekaligus memanfaatkan lahan yang tersisa,” ungkapnya.

Sebagai seorang Babinsa yang bertugas di desa-desa, Kopka Sudarwanto mengaku tak hanya mencontohkan teori melainkan langsung memberi contoh kepada masyarakat yang berada di wilayah teritorial Koramil. Usahanya bahkan telah dicontoh oleh beberapa masyarakat di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, dengan melakukan penanaman cabai merah menggunakan polybag.

Melonjaknya harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Lampung, diakui oleh Kopka Sudawarnto membuat Koramil 03/Penengahan berniat melakukan kegiatan pembagian bibit cabai merah secara cuma- cuma bagi masyarakat. Bibit-bibit cabai yang akan disemai, sesuai arahan komandan Koramil 03/Penengahan, Kapten Sukandi, akan dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam sehingga masyarakat bisa memiliki tanaman cabai di setiap rumah dan kebutuhan akan cabai terpenuhi dengan cara menanam secara swadaya.

“Peran Babinsa dan Koramil tentunya langsung menyentuh masyarakat sesuai dengan wilayah kita yang banyak bekerja sebagai petani dan peternak. Maka, contoh paling konkrit di bidang peternakan dan pertanian,” ungkap Kopka Sudarwanto.

Pemanfaatan pekarangan untuk membuat kolam ikan.

Ia kini juga tengah menyiapkan beberapa potong bambu yang akan digunakan sebagai naungan untuk persemaian cabai di antaranya jenis cabai rawit, cabai caplak, dan cabai merah besar. Setelah beberapa bulan bibit cabai dipindahkan ke polybag, selanjutnya bibit cabai tersebut, sebanyak 5 polybag per kepala rumah tangga, akan dibagikan langsung sebagai percontohan dan bisa dikembangkan. Serta bisa ditambah oleh masing-masing rumah untuk kegiatan swasembada cabai. Tugas Babinsa sebagai pengemban teritorial paling bawah, diakuinya, sekaligus bisa menyentuh kehidupan masyarakat terbawah. Melihat secara langsung kebutuhan dan kondisi masyarakat di bawah teritorial yang menjadi tanggung jawabnya dan dijalankan dengan penuh pengabdian.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...