SENIN, 12 DESEMBER 2016
PAPUA — Anda pasti tak asing dengan kuliner yang satu ini, kuliner lokal Tanah Papua dan Maluku yang berbahan dasar sagu. Khusus di Papua dan Papua Barat, makanan ini menjadi kuliner favorit pengunjung ke provinsi paling timur Indonesia. Papeda saat ini bahkan cukup populer di kalangan masyarakat Papua, Papua Barat, nasional, dan dunia. Papeda dengan tekstur yang kenyal-kenyal menjadi satu daya tarik bagi penikmatnya, apalagi dengan rasa yang juga tawar.
![]() |
| Pieter Ell, salah seorang pecinta papeda. |
Tingkat rasa tawar itulah yang mengharuskan memakan Papeda bersama pasangannya seperti ikan kuah kuning, ikan kuah asam, atau sayur kangkung kuah tumis. Kuliner yang satu ini merupakan satu makanan pokok tradisi di Papua dan Papua Barat yang sudah turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi.
Untuk membuatnya pun sangatlah mudah. Cukup tuangkan tepung yang berasal dari pohon sagu sesuai porsi yang diinginkan dan disiram air panas. Kemudian aduk hingga mengental. Jadilah papeda yang siap disantap dengan pasangan lauknya.
Perlu diingat, saat mencampur tepung sagu dengan air panas, komposisi air panas sangatlah penting, karena bila kebanyakan akan berpengaruh pada hasilnya dan dapat terlihat pada kekentalan papeda itu sendiri. Cara menyantap papeda pun perlu menggunakan teknik. Di situlah keunikan masakan kenyal tersebut.
Pertama-tama, tuangkan kuah ikan ke dalam piring secukupnya, Lalu gunakan gata-gata, bahasa umum di Papua atau hiloi Bahasa Sentani (sejenis garpu terbuat dari bambu). Gulung papeda menggunakan kayu tersebut ke dalam piring yang telah dituangi kuah ikan tadi. Sebagai penambah cita rasa, dapat menambah dengan sayur dan sambal.
![]() |
| Ikan kuah kuning, pasangan serasi papeda, sebelum disantap. |
“Ini makanan ciri khas kami. Kalau ke sini (Papua) belum mencicipi makanan ini, sama saja belum injak tanah Papua,” kata Jimmy yang gemar makan papeda.
Secara ilmiah, papeda mempunyai kandungan karbohidrat setara dengan beras, memiliki serat yang tinggi, rendah kolesterol dan bernutrisi tinggi. Konon, masyarakat beranggapan dan telah membuktikan, papeda mampu mengatasi pengerasan pembuluh darah, sakit ulu hati, dan perut kembung. Bahkan, tingginya kadar serat dalam sagu, mampu mengurangi risiko terjadinya kanker usus. Tak jarang juga, saat pembukaan pendaftaran TNI dan Polri di Papua serta Papua Barat, banyak calon yang mengkonsumsi rokok, menyantap papeda sebagai pembersih paru-paru.
“Jangankan orang Papua, saya saja warga pendatang suka sekali papeda. Apalagi kalau dimasak sendiri dan dihidangkan bersama keluarga pada sore atau malam hari, sungguh nikmat. Sayang sekali, kalau tak mencoba untuk membuat sendiri,” kata Fera, perempuan asal Makassar, Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Pieter Ell yang berkecimpung di bidang hukum dan model tak mau ketinggalan. Ia mengungkapkan, setiap hari ia menikmati papeda bersama keluarga tercinta.
“Setiap hari istri saya memasak papeda sebagai hidangan makan malam. Jauh dari Papua, kerinduan saya biasa terobati dengan makanan ini,” kata Pieter Ell, pengacara kondang asal Papua yang banyak bertugas di Jakarta.
Menariknya, papeda yang identik dengan kekenyalannya saat masih panas, ketika makanan tersebut dingin dapat dijadikan satu bahan dasar umpan untuk memancing ikan air tawar. Awalnya tak masuk akal, akan tetapi itu terjawab sempurna di saat salah seorang warga penggemar memancing di sungai sekitaran Kabupaten Keerom, berhasil mengumpan ikan bawal dengan sisa makanan papeda tersebut.
“Saya kaget sendiri, pertama sempat frustasi tak mendapat ikan saat mancing di Kali Jernih Arso III. Begitu saya coba dengan papeda yang sudah mengeras karena dingin, ternyata saya dapat banyak ikan. Ya, saya jadikan umpan terus,” kata Rizky, warga Distrik Skanto.
Masyarakat di Papua banyak mengkonsumsi papeda sebagai pengganti nasi dari beras yang selain untuk pre-biotik dapat juga menjaga mikroflora usus, meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi risiko terjadinya kanker usus, kanker paru-paru, memperlancar BAB (buang air besar) dan mengurangi kegemukan.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta
